Eusebio Di Francesco Menggiring Asa

Bila Eusebio Di Francesco berhasil mengubah Sassuolo menjadi kuda hitam, kali ini ia bertugas membangunkan 'Serigala Ibu Kota' dari tidur panjangnya.
AS Roma butuh satu langkah lagi untuk mencapai babak final Liga Champions 2017/2018. Kamis (3/5/2018), mereka bakal menjalani laga leg kedua babak semifinal melawan Liverpool. Namun, langkah Roma bukan langkah yang ringan. Mereka sudah kalah 2-5 di leg pertama.
Jabatan sebagai orang nomor satu yang menangani Roma sedikit-banyak berasal dari sejarah Di Francesco itu sendiri. Serupa dengan kebanyakan pelatih hebat, catatan karier Eusebio sebagai pesepak bola tidak mentereng. Roma menjadi satu-satunya klub 'punya nama' yang dibelanya.
Pada kurun waktu 1997-2001, Di Francesco menjadi gelandang andalan Roma. Setelah merasakan Roma yang super agresif bersama Zdenek Zeman pada 1997-1999, dia juga menjadi bagian dari skuat Roma yang menjuarai Serie A bersama Fabio Capello.
Permainan Di Francesco tak memikat. Kalau ia bisa menjadi andalan, maka kerja keras menjadi senjata utamanya. Konon, ia bersedia untuk ditempatkan di mana saja. Begitu mendapat tempat tadi, ia memanfaatkan kecerdasan taktik yang diasahnya berulang-ulang dari laga ke laga.
Apa-apa yang dibawa Di Francesco di ranah kepelatihan, baik bersama Sassuolo dan Roma, bersumber dari dua hal. Yang pertama, ia bukan pemain berbakat, tapi mengandalkan kerja keras. Yang kedua, ia belajar apa arti agresivitas di bawah asuhan Zeman.
Serupa dengan rekam jejak kariernya sebagai pesepak bola, Di Francesco bukan pelatih yang berlama-lama dalam satu tim. Karier pelatihan terlamanya ada bersama Sassuolo. Ia memulainya tahun 2012 dan mengakhiri tahun 2017.
Sebelumnya, ia melatih tiga klub: Virtus Lanciano, Pescara, dan Lecce. Semuanya hanya bertahan selama satu musim. Singkat kata, curriculum vitae Di Francesco sebagai pelatih tak sedap buat ditengok.
Namun, kualitas racikan taktik Di Francesco mulai diperhitungkan di Sassuolo. Ketika masih membesut tim yang berjuluk Neroverdi ini di Serie B, Di Francesco sering menutup laga dengan kemenangan besar.
Musim 2012/2013, Di Francesco mencetak rekor di serie B. Menang 5-0 atas Cesena menjadi skor kemenangan terbesar di laga kandang. Kecenderungan untuk menyerang membikin Sassuolo menutup kompetisi Serie B 2012/2013 sebagai pemuncak klasemen. Ganjarannya, mereka melakoni musim 2013/2014 dengan berlaga di Serie A.
"Sewaktu masih melatih Sassuolo, sepak bola bertahan tidak pernah menjadi pilihan saya, siapa pun yang menjadi lawan. Kami tidak akan mengubah cara bermain hanya karena lawan tampil agresif. Yang kami lakukan adalah, tetap bermain dalam koridor sepak bola menyerang dan membawa lawan kepada permainan kami," seperti itu penjelasan Di Francesco tentang kecenderungannya mengandalkan penyerangan.
Fase menyerang Di Francesco bergantung pada kedua sisi lapangan. Pada formasi dasar 4-3-3 yang menjadi andalan Di Francesco, winger dan full-back sama-sama dituntut untuk bermain agresif. Mereka harus bisa naik ke sepertiga akhir lawan.
Garis penyerangan Di Francesco cenderung melebar, tujuannya agar lawan terpancing dan membuka pertahanan mereka. Bila situasi ini sudah terjadi, maka pemain-pemain Di Francesco bisa menyerang ke tengah ataupun melesakkan umpan silang ke dalam kotak penalti.
Keseimbangan menjadi krusial bagi setiap tim untuk melakoni laga. Itulah sebabnya, Di Francesco menugaskan penyerang-penyerang sayapnya untuk membantu lini pertahanan tim saat ditekan lawan. Dalam situasi ini, lini kedua akan diisi oleh lima pemain. Tumpukan pemain di lini tengah bertujuan agar serangan-serangan lawan kehilangan taringnya.
Di fase bertahan ini, tiga gelandang tengah punya tugas untuk merebut bola sampai dapat. Ketika timnya sudah berhasil mengambil alih bola, mereka akan mulai serangan dengan bola-bola pendek. Tujuannya, memberikan waktu kepada pemain sayap untuk kembali ke posisi menyerangnya.

Namun, tak ada tim yang tak kalis dari masalah. Inkonsistensi menjadi masalah terbesar yang harus dihadapi Roma. Dari 35 pertandingan yang sudah dilakoni Roma di Serie A 2017/2018, Di Francesco menelan tujuh kekalahan. Sementara, sembilan berakhir seri dan sisanya adalah kemenangan. Saat ini, posisi mereka menutup tiga besar klasemen sementara Serie A.
Sebenarnya, Roma memasuki musim kompetisi Serie A dengan meyakinkan. Dari 12 pertandingan awalnya, mereka hanya menuai dua kekalahan. Itu pun dianggap wajar, karena Inter Milan (pekan kedua) dan Napoli (pekan ketujuh) yang menjadi lawan.
Namun, kapal Roma mulai oleng sejak pekan ke-13 hingga 24. Di periode tersebut, mereka menelan tiga kekalahan dan lima hasil imbang. Hasil yang bertolak belakang dengan apa yang mereka raih di 12 minggu pertama.
Buruknya, hasil mengecewakan itu juga didapat saat mereka bertanding melawan tim yang seharusnya ada di bawah mereka, bahkan dalam laga kandang. Melawan Atalanta dan Sampdoria di Olimpico, kekalahan menjadi harga yang harus dibayar Roma.
Sebagai pelatih, Di Francesco tahu situasi dan kondisi timnya. Makanya, ia berharap keajaiban. Itulah sebabnya, ia kerap menjalani konferensi pers dan menjawab pertanyaan-pertanyaan media dengan tak santai.
Bila diperhatikan, jawaban-jawabannya, terlebih di gelaran Liga Champions, cenderung membakar semangat. Ada kesan arogan, seolah tak sadar diri dan tak berkaca pada kekalahan yang baru saja ditanggung.
Ia tak ragu berbicara di depan umum bahwa kali ini pun, Liverpool akan bernasib sama dengan Barcelona. Berlagak tegar, kalau kata orang-orang. Namun, lagak memang dibutuhkan saat situasi sedang tak aman. Bukan untuk mengumbar omong kosong, tapi karena hal-hal logis sering kehilangan daya di situasi genting.
Jangan heran bila melihat lagaknya yang tak bisa diam, menjerit-jerit heboh dari pinggir lapangan setiap kali Roma bertanding. Ini menjadi perilaku yang dirawatnya bertahun-tahun.
Sewaktu masih berstatus sebagai pesepak bola, Di Francesco kerap tampil sebagai pemain yang paling vokal di ruang ganti. Ia tahu menggunakan suaranya, ia paham membangun tim lewat apa-apa yang dia percayai.
Paolo Bandini yang melakoni wawancara bersama Di Francesco untuk The Guardians bahkan menggambarkan, kata-kata yang keluar dari mulut Di Francesco ibarat mobil yang melaju kencang. Ugal-ugalan, seperti tak menghiraukan rambu dan lampu lalu-lintas (idiom dari kekalahan -red) yang memintanya untuk waspada.
Namun, anehnya, Di Francesco yang duduk di belakang kemudi tetap tenang. Entah seperti apa caranya. Tak peduli seberapi-api apa pun omongan Di Francesco, ia tak mengucapkannya dengan nafsu yang menggebu-gebu. Serba tenang, dengan sesekali mengumbar senyum janggal.
Kejanggalannya muncul karena di dalamnya ada kesan licik, ramah, dan getir sekaligus. Bandini tak berlebihan, perhatikanlah rekaman-rekaman konferensi persnya dengan seksama.
"Sebenarnya saya ingin menumbuhkan sense of belonging kepada para pemain. Saya ingin mereka punya perasaan memiliki klub yang jadi naungan mereka sekarang. Treatment ini tak hanya saya berlakukan di Roma."
"Waktu saya masih ada di Sassuolo pun, di mata dan benak saya, Sassuolo adalah tim terindah di dunia. Mereka yang terbaik, kulit saya berwarna hitam dan hijau. Sekarang, warna saya kuning dan merah." "Saya bukannya ingin membuat pemain-pemain itu menjadi sekelompok orang munafik, tapi menumbuhkan sense of belonging dalam pekerjaan ini. Setiap orang di tim ini harus merasakan hasrat dan cinta mereka kepada tim."
Itulah sebabnya, ia tak bosan-bosan menampik narasi kehebatan Liverpool. Hantaman 2-5 di leg pertama harus dibalas dengan psy war menjelang laga. Bagi Di Francesco, pertandingan harus dimenangi sejak konferensi pers.

Serupa tim-tim lain, pertanyaan apa yang bakal dilakukan Di Francesco untuk meredam Mohamed Salah menjadi repetisi di setiap wawancara. Dan untuk pertanyaan ini, Di Francesco punya jawabannya sendiri.
"Saya tidak perlu lagi mendengar soal Salah. Kualitas dia memang hebat. Namun, jangan lupa, saya pun pernah mempersiapkan tim untuk bertanding melawannya di Italia (waktu Salah masih bermain di Serie A -red)."
"Siapa bilang saya tak paham bahwa ini pertandingan yang sulit? Saya paham sekali! Namun, setiap pertandingan harus bisa menjadi kesenangan bagi tim. Inilah yang selalu saya tekankan kepada tim saya."
"Hal pertama yang harus muncul di pikiran mereka adalah mempersiapkan diri untuk menikmati bermain sebagai tim, secara bersama-sama. Setelah itu, baru bekerja keras. Mereka harus menikmati. Bukankah kita semua menyebutnya sebagai game?"
Mungkin terkesan berlebihan, tapi laga leg kedua babak semifinal Liga Champions ini ibarat pertandingan hidup dan mati bagi Di Francesco. Sebabnya, catatan inkonsistensi menjadi perkara serius yang menjadi pangkal berembusnya isu pemecatan Di Francesco.
Itu sebab pertama. Yang kedua, Roma sudah lama tak menjejaki final Liga Champions. Terakhir, mereka sampai ke final di musim 1983/1984. Tak tanggung-tanggung, Liverpool yang jadi lawan mereka.
Hasilnya, waktu normal pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Roma tak sanggup memenangi babak adu penalti. Olimpico menjadi tembok ratapan bagi sang empunya rumah.
Terlanjur sampai di semifinal, Roma menanggung beban bernama 'harapan para pendukungnya'. Permintaan untuk mengulang sejarah bergelombang kencang dari tribune penonton. Namun, menanggung beban seperti ini bukan perkara mudah bagi Di Francesco.
Ini kali pertama Di Francesco sampai ke fase sepenting ini. Kalaupun racikan taktiknya berhasil membidani lahirnya comeback, tiket final Liga Champions kali ini akan menjadi yang pertama di sepanjang kariernya sebagai pelakon sepak bola. Ia tak serupa Juergen Klopp yang pernah sampai ke putaran final Liga Champions bersama Borussia Dortmund, walau semua tahu tim besutan Klopp menutup laga sebagai runner up.
Namun, andai Di Francesco memang sampai menembus final, ia tak perlu berkecil hati menyandang status first-timer. Karena beberapa first-timer justru mendapat berkah menjadi juara.
