Kumparan Logo

Ferry Indrasjarief: Turun Gunung demi Menaikkan 'Kelas' Jakmania

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ferry Indra Sjarief (Foto: Satrio Rifqi Firmansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ferry Indra Sjarief (Foto: Satrio Rifqi Firmansyah/kumparan)

Dosa besar bila Anda pernah menyangsikan loyalitas The Jakmania untuk mendukung Persija Jakarta. Tak peduli panas terik atau hujan badai sekalipun, mereka selalu setia berada di belakang 'Macan Kemayoran'. Di Jakarta maupun luar kota, kondisinya pun serupa: ramai.

Fanatisme Jakmania yang saat ini terlihat, tentu saja, tak terjadi begitu saja. Butuh proses sangat panjang untuk bisa mencapai ke titik sekarang ini.

Ya, Jakmania bukan hanya kelompok suporter biasa, tapi sudah terorganiasasi. Cikal bakalnya tercetus pada 19 Desember 1997 silam oleh tiga sosok: Gugun Gondrong, Diza Rasyid Ali, dan Ferry Indrasjarief.

Dan, pemilik nama terakhir tentu bukan lagi sosok asing bagi para pecinta klub Ibu Kota. Menjabat sebagai Ketua Umum Jakmania, Bung Ferry--begitu sapaannya--sudah sangat mencintai Persija sejak belia.

Untuk mengetahui kisahnya lebih dalam, kumparan (kumparan.com) lantas menyambangi kediaman Bung Ferry di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu (28/4) lalu. Simak wawancara kami berikut ini.

Sebagai Ketum Jakmania, apa saja aktivitas Bung Ferry?

Selain mengurus organisasi, ada kegiatan dengan teman-teman SMA saya di daerah Fatmawati, salah satu kantor bidang properti.

Latar belakang Anda sebagai Insinyur, bisa dijelaskan, Bung?

Ya, jadi pas lulus SMA waktu itu mau cari jurusan apa, akhirnya masuk Institut Teknologi Indonesia. Jurusan sebetulnya tidak ada kaitan dengan sepak bola, apalagi mekanisasi pertandingan.

Saya di situ sampai selesai sarjana, tapi kebetulan karena rumah dekat dengan stadion Lebak Bulus, saya aktif di sana. Akhirnya, jadi pengurus di Jakmania.

Ferry Indra Sjarief (Foto: Satrio Rifqi Firmansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ferry Indra Sjarief (Foto: Satrio Rifqi Firmansyah/kumparan)

Anda sudah malang-melintang di dunia suporter, ada hambatan yang pernah ditemui?

Wah, hampir bisa dibilang nggak ada hambatan karena saya dari kecil memang diajak kakek untuk nonton Tim Nasional (Timnas) Indonesia dan Persija, dan sempat 'hilang' karena waktu itu saya nggak suka ada Galatama muncul dan pemain Persija terpecah di mana-mana, jadi tidak tertarik lagi nonton.

Jadi, SMA sempat hilang, kemudian karena saya tinggal di sini (Lebak Bulus) tiba-tiba ada Pelita, sempat saya dukung lagi, lalu kembali lagi ke Persija. Bisa dibilang, sih, nggak ada hambatan.

Sudah berapa lama kira-kira bergelut di dunia suporter?

Waduh, kalau berapa lama saya bingung. Tapi, intinya kalau benar-benar aktif jadi pengurus, ya, tahun 1997 ketika berdiri Jakmania.

Tapi, sebelum itu saya rajin nonton timnas, Pelita, dan Persija dulu waktu kecil. Bahkan, saya pernah nonton final waktu Persib melawan Perseman Manokwari. Persebaya (Surabaya) lawan PSIS juga saya nonton, memang dasar hobi saja.

Punya pengalaman yang tak terlupakan sampai sekarang?

Saya rasa waktu tur delapan besar di Makassar (2001). Karena waktu itu kami belum pernah ke sana, naik kapal laut, sampai sana tidak mikir cari hotel, kami bangun tenda.

Di sana, kami koordinasi sama Mba Diza yang dulu pernah jadi manajer Persija, kebetulan dia tinggal di Makassar, kami koordinasi dan dia ada lapangan di Karebosi. Kami izin dirikan tenda. Saat itu kami juara grup dan semifinal lolos, final kami juara. Jadi itu yang paling berkesan.

Konvoi Jakmania atas kemenangan Persija. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konvoi Jakmania atas kemenangan Persija. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Jakmania semakin besar sekarang, tapi tak jarang juga namanya tercoreng. Bagaimana menilainya?

Wajar saja karena bukan hanya suporter sepak bola, ketika ada massa dalam jumlah besar, masyarakat kita selalu terlalu parno (takut). Harus diakui ketika massa jumlah besar, adrenalin juga bertambah dan psikologi massa mungkin bukan lebih brutal, tapi lebih merasa bebas melakukan apa saja yang terkadang berlebihan.

Adanya organisasi suporter itu 'kan tujuannya mengedukasi mereka bagaimana menjadi suporter yang benar. Sejauh ini kami jalankan bareng.

Pada masa kepengurusan saat ini, ada upaya rebranding Jakmania. Bisa dijelaskan maksudnya?

Sebetulnya gini, saya pernah jadi ketua selama enam tahun, dulu 'kan satu periode dua tahun, jadi saya tiga periode. Dan, saya ingin ada kaderisasi, tapi kemudian setelah terjadi kerusuhan waktu pertandingan lawan Sriwijaya FC (2016), kelihatannya izin untuk pertandingan di Jakarta itu sulit sekali.

Kemudian saya dipanggil untuk balik lagi, tapi sebulan mungkin saya berpikir karena mikir untuk apa saya kembali, biar yang muda saja. Tapi, akhirnya karena kondisi memang harus, permintaan dari banyak korwil, dan beberapa pihak, akhirnya saya coba balik lagi.

Misi saya adalah benahi dan siapkan. Benahi dalam arti benahi kembali organisasi ini untuk kembali ke jalurnya dan menyiapkan orang-orang yang kira-kira nanti tiga tahun yang akan datang saat saya selesai 2020, itu mereka yang siap.

Dia harus tahu bahwa jadi ketua itu memang banyak tanggung jawabnya. Kalau tidak ada yang berani, siapa yang mau lanjutin organisasi ini.

Ferry Indra Sjarief (Foto: Satrio Rifqi Firmansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ferry Indra Sjarief (Foto: Satrio Rifqi Firmansyah/kumparan)

Bagaimana pandangan Anda pribadi menilai rivalitas Jakmania dengan Viking?

Sebetulnya rivalitas itu asyik ya. Kalau menonton sepak bola, begitu gol lalu kita tengok suporter lawan, eh, minta maaf, ya, kita ngegolin, kayanya nggak asyik banget nontonnya. Ceng-cengan (Mengejek) itu seru, perang yel-yel itu juga masih seru.

Tapi, ketika rivalitas itu sudah berujung sampai ke kehidupan sehari-hari dan kemudian keributan disertai bawa benda tajam, pencegatan ketika nonton timnas, aksi sweeping, saya rasa itu bukan rivalitas sepak bola lagi, itu sudah kriminal.

Kalau namanya rivalitas sepak bola, ya, pada saat kita menonton tim itu, di situlah rivalitas terjadi. Tapi, ini lawan tim lain, kita masih ngata-ngatain musuh, itu nggak asyik dan bukan rivalitas lagi.

Sejauh ini, bagaimana dengan upaya perdamaian yang sebelumnya sempat didengungkan?

Gue tahu untuk mendamaikan itu susah karena kita melibatkan puluhan ribu orang dan mereka itu ibaratnya punya luka koreng itu nunggu sampai kering dulu baru bisa balik lagi ke semula.

Saat ini, saya sama Heru Joko (Ketum Viking) sepakat, kami jangan bikin luka lain dulu. Caranya apa, pertama tidak saling berkunjung. Tidak saling perang di media sosial, kami tertibkan anggota di media sosial.

Kemudian, lagu-lagu rasis dan hate speech itu kami hilangkan sehingga generasi berikutnya yang tidak punya dendam apa pun, tidak kebawa arus sama kita. Kami berharap selanjutnya merekalah yang meneruskan organisasi ini dan mereka tidak ada dendam.

Jadi memang masih panjang dan dibutuhkan kesabaran, prinsip yang kuat, dan keyakinan. Terutama dibutuhkan tidak adanya campur tangan orang-orang politik yang ingin cari nama dari rivalitasi ini.

Jakmania saat laga Persija vs JDT (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jakmania saat laga Persija vs JDT (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Sejauh ini cara konkretnya seperti apa?

Saya melarang anak-anak menyanyi lagu rasis dan hate speech, selalu kampanye itu. Yang penting itu dulu. Ketika ada suatu kejadian, saya coba datang ke tempatnya, saya sudah datang ke Bandung bertemu Kang Heru, Kang Yana, dan alhamdulillah diterima dengan baik. Saya respek ke mereka, ternyata mereka bukan orang sembarangan di Bandung.

Suara mereka begitu didengar dan efeknya cukup luas ketika saya datang ke sana. Terutama saat diundang Bomber, Kang Asep undang saya, itu banyak ribuan Bobotoh di sana, Bomber di sana, dan saya sama sekali tidak mengalami kelakuan yang tidak simpatik, justru kebalikannya. Ada niat baik dari mereka tinggal bagaimana sosialisasi.