Firenze Sambut Hangat Kepulangan sang Legenda, Gabriel Batistuta

Ada derai air mata yang mewarnai salah satu gol paling masyhur dalam sejarah sepak bola. Tahun 2000, pada tanggal 26 November di Stadio Olimpico, Roma menjamu Fiorentina. Tujuh menit jelang laga ini bubaran, sebuah momen indah namun menyesakkan terjadi.
Roma menghadapi musim 2000/01 dengan persiapan tak main-main. Lebih dari 100 juta euro mereka gelontorkan untuk merekrut pemain baru, mulai dari yang berharga selangit sampai yang bisa dengan mudah ditebus tanpa merogoh kocek dalam-dalam. Sosok termahal yang didatangkan Roma pada saat itu adalah Gabriel Omar Batistuta.
Batistuta saat itu sudah tidak muda; sudah 31 tahun. Sebelumnya, pemain Argentina itu menghabiskan waktu sembilan tahun di Fiorentina. Bersama klub asal Firenze itu dia jadi legenda meskipun cuma ada tiga gelar yang dia persembahkan —Serie B, Coppa Italia, dan Supercoppa Italiana. Bahkan, untuk menghormati Batistuta, suporter Fiorentina sampai mendirikan patung perunggu yang kemudian dipajang di dekat Stadio Artemio Franchi.
Namun, status legenda itu tak cukup bagi Batistuta. Dia adalah salah satu penyerang terbaik dunia dan mendapatkan gelar bergengsi adalah salah satu cara untuk menegaskan itu. Tergoda akan kesempatan besar di Roma, Batistuta memilih untuk angkat kaki. Meski Fiorentina mendapat untung besar usai menjualnya dengan harga 36 juta euro, para suporter tetap tak bisa menerima kepindahan itu. Para tifosi mengamuk dan patung perunggu tadi dilelehkan.
Derita para suporter Viola semakin terasa pada pertandingan 26 November 2001. Menit ke-83, menerima umpan sundulan Gianni Guigou, Batistuta melepaskan tembakan voli keras dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras melewati kiper Francesco Toldo yang berdiri terlalu maju. Gol indah tercipta dan para pemain Roma langsung mengerubungi Batistuta.
Namun, alih-alih bahagia, Batistuta justru sedih bukan kepalang. Paradoks pun mewujud. Di tengah kebahagiaan yang menyelimutinya, Batistuta larut dalam air mata. Gol itu memang indah. Namun, justru keindahan tersebut yang membuatnya jadi kian menyesakkan bagi para suporter Fiorentina. Di akhir musim, dengan sumbangsih 20 gol dalam semusim, keinginan Batistuta menjadi juara Serie A pun terwujud.
Kepindahan Batistuta dari Roma ke Fiorentina itu begitu menyakitkan. Akan tetapi, waktu rupanya dapat menyembuhkan segalanya. Sembilan belas tahun kemudian, Batistuta kembali ke Firenze untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Kali ini, tidak ada lagi amarah dan kesedihan. Batistuta disambut dengan sukacita oleh para penyokong Fiorentina.
Batistuta sebenarnya sudah berulang tahun yang ke-50 pada Februari lalu. Akan tetapi, baru pada pertandingan Fiorentina melawan Torino, Minggu (31/3/2019), pria berjuluk Batigol itu benar-benar kembali. Selain menjadi tamu kehormatan di Artemio Franchi, Batistuta yang datang bersama keluarganya juga berkesempatan menyapa ribuan orang di Piazza della Signoria, dalam acara yang diselenggarakan pemerintah kota.
Biar bagaimana juga, dengan torehan 203 gol dalam 331 pertandingan, Batistuta adalah legenda Fiorentina. Hampir dua dekade kemudian, menyusul sebuah kepindahan yang tak diinginkan, status itu baru kembali disematkan. Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Batistuta berkata bahwa dia tertarik untuk kembali ke Fiorentina. Tidak sebagai pemain, tentunya, melainkan sebagai seorang direktur.
"Aku sudah pergi selama hampir 20 tahun, tetapi rasa cinta itu masih ada. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata," kata Batistuta, dilansir Football-Italia.
"Aku merasa punya tanggung jawab untuk menjadi duta Firenze ke seluruh dunia. Aku tahu bahwa ketika orang membicarakan diriku, mereka juga berbicara soal Firenze. Aku ingin mewakili Fiorentina dalam kapasitas resmi dan menjadi seorang direktur adalah sesuatu yang kuinginkan," tambahnya.
Bentornato, Batigol!
