Kumparan Logo

Gelinding Kritik Bola Piala Dunia 2018

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bola resmi Piala Dunia 2018, Telstar 18 (Foto: Mladen Antonov/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Bola resmi Piala Dunia 2018, Telstar 18 (Foto: Mladen Antonov/AFP)

Yang menjadi persoalan bagi negara-negara yang berlaga di Piala Dunia ternyata tidak hanya mempersiapkan tim, tapi juga mengatasi bola. Si kulit bulat rupa-rupanya tak hanya menjadi perlengkapan, ia ternyata bisa menjadi sumber masalah bagi mereka yang bertarung berebut gelar juara dunia di atas lapangan bola.

Bola yang bakal di gelaran Piala Dunia 2018 ini bernama Telstar 18. Bila menyoal nama, ia mengingatkan kita pada bola yang digunakan pada Piala Dunia tahun 1970 dan 1974. Telstar merupakan bola pertama yang memilki corak pentagon berwarna hitam.

Telstar 18 telah dirilis sejak November 2017. Diklaim Adidas, bola ini telah diuji langsung oleh beberapa timnas peserta Piala Dunia seperti Argentina, Kolombia, dan Meksiko. Pun demikian dengan klub besar Eropa macam Manchester United, Juventus, Real Madrid, dan Ajax Amsterdam.

Telstar 18 terbilang aman untuk pemain-pemain di posisi lain, tapi tidak dengan penjaga gawang. Kritik pertama muncul dari kiper Jerman, Marc-Andre ter Stegen, yang mencoba Telstar 18 dalam laga persahabatan melawan Spanyol.

Di laga tersebut, Ter Stegen gagal menorehkan catatan nirbobol. Sepakan Rodrigo meluncur deras ke area atas, sementara Ter Stegen coba menutup ruang di bagian bawah karena mengira bola akan meluncur lewat situ.

"Bola banyak bergerak dan bisa lebih baik dari ini. Kami harus beradaptasi agar terbiasa mencengkeramnya sebelum Piala Dunia bergulir," tutur Ter Stegen seperti dilansir oleh AS.

Komentar serupa dilontarkan David de Gea di bawah mistar Spanyol. Dia juga gagal membendung bola masuk ke gawangnya lewat tembakan Thomas Mueller dari luar kotak penalti.

Kritik-kritik macam ini sebenarnya bukan pertama kali. Jauh sebelumnya, sejumlah bola Piala Dunia juga pernah melahirkan banyak kritikan. Dan seperti Telstar 18, kebanyakan kritik berasal dari rombongan penjaga gawang.

Jabulani di pembukaan Piala Dunia 2010. (Foto: JEWEL SAMAD / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Jabulani di pembukaan Piala Dunia 2010. (Foto: JEWEL SAMAD / AFP)

Tahun 2010, Piala Dunia yang digelar di Afrika Selatan menggunakan bola yang bernama Jabulani. Bila diartikan, bola ini berarti perayaan. Melambangkan bahwa Piala Dunia adalah perayaan bagi sepak bola. Ada kesan meriah dan menyenangkan lewat pemilihan namanya.

Namun, ternyata yang meriah tak hanya namanya, tapi juga kritikannya.

Penjaga gawang Timnas Australia, Mark Schwarzer, mengeluhkan kesulitannya untuk mengatasi keliaran Jabulani saat ia membela timnya dalam uji tanding melawan Denmark. Ia mengaku sulit untuk menentukan arah bola.

“Sangat sulit untuk menebak arah bola. Terkadang, arah bola ini normal-normal saja. Namun, sesaat kemudian ia seperti punya pikiran sendiri. Kami, para penjaga gawang, sepertinya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri bila bola ini memang benar-benar dipakai.”

Pertandingan persahabatan yang juga menjadi momen untuk menguji Jabulani itu digelar di Johannesburg yang berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut. Menurut Schwarzer, arah bola yang liar itu agaknya juga disebabkan oleh permukaan tanah tempat mereka melakoni uji tanding. Kritik tak hanya datang dari Schwarzer, tapi juga dari Iker Casillas, Gianluigi Buffon, dan David James.

Parahnya, bukan hanya penjaga gawang yang mengalami kesulitan saat bertanding menggunakan Jabulani. Bek tengah Jepang saat itu, Marcus Tulio Tanaka, menjadi salah satu pemain yang kerap direpotkan oleh liarnya pergerakan Jabulani.

Bola Fevernova. (Foto: TORU YAMANAKA / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Bola Fevernova. (Foto: TORU YAMANAKA / AFP)

Dalam wawancaranya, Tanaka bahkan langsung mengklaim bahwa masalahnya ada pada bola. Ia mengaku tidak bisa mengantisipasi ke mana bola itu akan bergerak. Dan bagi para pemain bertahan, ini sangat menyulitkan. Fokus utama jadi bukan menjaga lawan, tapi menjaga bola.

Adidas sebagai produsen jelas membantah. Lewat juru bicaranya, Thomas van Schaik, mereka menjelaskan bahwa para pemain sudah berlatih menggunakan bola ini sejak awal tahun 2010. Menurut pernyataannya, tak satupun dari pemain itu yang mengalami masalah.

Setelah ditelisik, permasalahan dari Jabulani muncul dari bahan yang digunakan. Bola tersebut tersusun dari delapan panel yang bahannya kelewat ringan.

Adidas menjawab kritikan dengan melahirkan Brazuca, bola yang digunakan pada Piala Dunia 2014. Ada sejumlah penelitian yang dilakukan demi menguji Brazuca. Hasil riset pertama yang dilakukan oleh Sungchan Hong di Universitas Tsubaka dipublikasikan di jurnal Scientific Report pada 29 Mei 2014. Dalam penelitiannya tersebut, Hong menggunakan robot penendang dan tunnel.

Riset tersebut pada akhirnya mengungkapkan bahwa konstruksi bola memengaruhi pergerakan bola. Jabulani menjadi bola yang tak terkendali karena permukaannya yang halus. Brazuca lebih bisa dikendalikan karena permukaan yang lebih kasar. Kasarnya permukaan lantas dinilai sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi efek goyangan atau putaran ketika bola bergerak sangat cepat.

Kritikan menyoal bola Piala Dunia juga pernah muncul tahun 2002 dan 2006. Tahun 2002, Piala Dunia menggunakan bola bernama Fevernova. Bola ini dikritik karena dinilai terlalu ringan dan kelewat mudah memantul. Bagi penjaga gawang pun, bola ini lebih sulit ditangkap.

Anehnya, berat Fevernova yang 435 gram itu tidak keluar dari standar bola yang digunakan untuk pertandingan sepak bola resmi. Sesuai standar, berat bola harus ada di antara 410 hingga 450 gram.

Bola Teamgeist (Foto: ROBERTO SCHMIDT / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Bola Teamgeist (Foto: ROBERTO SCHMIDT / AFP)

Gianluigi Buffon menjadi salah satu pesepak bola yang mengkritik bola ini. Ia bahkan menyebutnya sebagai bola memantul yang kelewat konyol. Gelandang Brasil saat itu, Rivaldo, menilai bahwa bola ini membumbung terlalu tinggi saat ditendang.

Sementara, Teamgeist merupakan bola yang digunakan di Piala Dunia 2006. Dalam bahasa Jerman, Teamgeist berarti semangat (jiwa) tim. Berbeda dengan Fevernova, bola ini justru dikritik karena dinilai terlalu berat.

Bila bola konvensional terdiri dari 32 panel, Teamgeist tersusun dari 14 panel. Hal inilah yang membingungkan. Pengurangan panel seharusnya membikin bola bertambah ringan.

Inovasi tidak hanya dilakukan pada jumlah panel, tapi dari cara penempelan panel. Biasanya, panel-panel dalam bola dijahit, tapi Teamgeist menggunakan metode penempelan panas. Panas akan melunakkan permukaan serat dan membuatnya meleleh, dan membentuk ikatan. Saat serat dingin, ikatan ini akan mengeras.

Sebagai produsen, Adidas mengklaim bahwa Teamgeist merupakan bola yang paling baik untuk digunakan saat hujan karena memiliki kemampuan menyerap air yang tinggi. Namun, saat diuji, bola ini hanya punya daya serap air sebesar 0,1%. Padahal, sesuai standar FIFA, daya serap air yang dimiliki bola harus mencapai 10%.

Permasalahan bola memang terlihat sepele. Namun, untuk kompetisi sekelas Piala Dunia persoalan-persoalan bola menjadi krusial. Masalahnya, kritik yang muncul seiring dengan uji coba Telstar 18 ini bukan yang pertama. Kritik serupa sebenarnya sudah pernah diselesaikan oleh si produsen bola.

Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa kritik yang sebenarnya sudah pernah dijawab ini muncul kembali?