Kumparan Logo

Hadapi Leicester, Chelsea Gagal Raih Kemenangan

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Chelsea dan Leicester berduel. Foto: Reuters/John Sibley
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Chelsea dan Leicester berduel. Foto: Reuters/John Sibley

Chelsea masih belum bisa meraih hasil apik di Premier League 2019/20. Pada pekan kedua, mereka ditahan imbang 1-1 oleh Leicester City dalam laga yang dihelat di Stamford Bridge, Minggu (18/8/2019) malam WIB.

Gol Chelsea di laga ini dicetak Mason Mount ('7). Sedangkan Leicester berhasil menyamakan kedudukan lewat Wilfred Ndidi ('67). Hasil ini membuat Chelsea tertahan di peringkat 15 klasemen sementara Premier League dengan raihan 1 poin. Leicester sendiri berada di peringkat 12 dengan torehan 2 poin.

***

Di laga ini, Chelsea turun dengan skuat kunci mereka. Olivier Giroud di lini depan, diapit oleh Pedro, Mason Mount, dan Christian Pulisic di lini kedua. N'Golo Kante dan Jorginho mengisi lini tengah, sekaligus melapisi lini pertahanan yang digalang Kurt Zouma dan Andreas Christensen.

Sementara itu, Leicester City juga menurunkan para pemain intinya. Jamie Vardy di depan, ditemani James Maddison, Hamza Choudhury, Youri Tielemans, dan Ayose Perez di lini kedua. Wilfred Ndidi dipasang sebagai poros, sekaligus melapisi Caglar Soyuncu dan Jonny Evans di lini pertahanan.

X post embed

Sejak awal babak pertama, Chelsea selaku tuan rumah langsung menekan pertahanan Leicester dengan intens. Para pemain di lini kedua mereka jadi motor serangan di pertandingan ini, dipadukan oleh pergerakan Giroud yang mengacaukan konsentrasi bek Leicester.

Tekanan intens ini membuahkan hasil pada menit 7. Bermula dari koordinasi buruk para pemain Leicester di lini pertahanan, Mount merebut bola. Tanpa ragu, ia langsung menceploskan bola ke gawang, mengubah kedudukan menjadi 1-0 untuk keunggulan Chelsea.

Setelah unggul, 'Si Biru' tetap menekan pertahanan Leicester dengan apik. Pulisic dan Mount kembali mendapatkan peluang beberapa menit setelah gol terjadi. Sayang, peluang itu belum mampu dimaksimalkan menjadi gol.

Tidak hanya itu, Kante juga sempat menciptakan peluang emas pada menit 27. Meski begitu, sepakannya masih mampu dihalau oleh para pemain belakang Leicester. Sejak laga lawan Manchester United di pekan perdana, lini serang Chelsea memang hidup.

Leicester sendiri tidak mampu berbuat banyak menghadapi Chelsea yang main agresif ini. Mereka hanya melakukan beberapa upaya serangan balik, memanfaatkan kecepatan Vardy, ditopang distribusi bola dari Tielemans. Mereka akhirnya memilih bermain dalam, memperkuat pertahanan sendiri.

X post embed

Statistik yang ada bisa jadi bukti bahwa Chelsea menguasai laga ini. Meski persentase penguasaan bola kedua tim terbilang rata, yakni 50% berbanding 50%, Chelsea mencetak tembakan lebih banyak, yakni 6 (3 mengarah ke gawang) berbanding 1.

Walau menguasai laga, sepanjang sisa waktu babak pertama, Chelsea tidak mampu menambah keunggulan. Leicester pun tidak mampu mengejar ketertinggalan. Hasilnya, skor 1-0 tetap bertahan hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, Leicester berusaha untuk menggebrak balik. Upaya ini sempat berhasil, setelah pada menit 50, mereka menciptakan sebuah kemelut di depan gawang Kepa Arrizabalaga, lewat manuver dari Maddison.

Chelsea tidak tinggal diam. Mereka langsung kembali menekan balik Leicester, bahkan ketika mereka masih menguasai bola di daerah pertahanan sendiri. Hal itu kembali membuat Leicester terkurung. Mereka sulit mengirimkan bola ke area depan.

Untuk menambah daya dobrak di lini serang, Frank Lampard memasukkan Tammy Abraham pada menit 61, menggantikan Olivier Giroud. Namun, sial bagi Chelsea, bukan daya dobrak yang didapat, malah kebobolan yang mereka rasakan.

Tammy Abraham dan Caglar Soyuncu berduel. Foto: Reuters/John Sibley

Selang enam menit setelah Abraham masuk, Leicester mendapatkan sepak pojok. Maddison mengeksekusi sepak pojok tersebut, dan bola kiriman Maddison ini mampu disundul oleh Ndidi--yang tidak terkawal dengan ketat--masuk ke gawang Arrizabalaga. Skor berubah 1-1.

Sadar bahwa sekarang mereka butuh tambahan tenaga di lini serang, Lampard langsung melakukan dua pergantian. Willian masuk menggantikan Pulisic, sedangkan Mateo Kovacic masuk menggantikan Jorginho. Dua pergantian itu dilakukan pada menit 71.

Merespons pergantian ini, Leicester memasukkan Dennis Praet, menggantikan Choudhury. Memang, memasuki pertengahan babak kedua ini, Leicester mulai lebih berani menekan Chelsea. Ini terjadi karena banyak ruang yang bisa dieksploitasi di lini pertahanan Chelsea.

Salah satu ruang yang acap diserang oleh Leicester adalah di antara lini tengah dan lini belakang, tepatnya area sepertiga akhir. Tidak adanya sosok yang berperan sebagai penjaga empat bek membuat para pemain Leicester bisa langsung berhadapan dengan empat bek Chelsea.

Ditambah lagi, Leicester memiliki pemain-pemain dengan kemampuan individu mumpuni macam Maddison dan Vardy. Dua pemain itu bahkan mampu mengancam gawang Arrizabalaga, yakni pada menit 73 dan 77.

X post embed

Chelsea sendiri, terutama memasuki 15 menit akhir babak kedua, tampak mengalami sedikit kebuntuan. Permainan direct yang mereka terapkan di babak pertama tidak terlalu terlihat lagi. Justru, mereka kerap menguasai bola dengan terburu-buru. Alhasil, bola mudah lepas dari kaki mereka.

Hingga babak kedua usai, kebuntuan Chelsea ini tidak kunjung selesai. Sementara itu, Leicester yang beberapa kali mengancam gawang Chelsea pun tak kunjung membuat kejutan. Alhasil, skor 1-1 tidak berubah untuk kedua tim.