kumparan
16 Apr 2019 15:00 WIB

Hillsborough 1989: Tragedi yang Mengubah Sepak Bola Inggris

Seorang bocah mengenakan jersi Liverpool untuk mengenang 96 korban Tragedi Hillsborough 1989. Foto: AFP/Paul Ellis
Tanggal 15 April 1989, Stadion Hillsborough, kandang klub Sheffield Wednesday, mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan partai semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest. Sayangnya, bukan pertandingan sepak bola yang menggairahkan yang berlangsung di Hillsborough saat itu, melainkan sebuah tragedi paling memilukan dan menyayat hati dalam sejarah sepak bola Inggris.
ADVERTISEMENT
96 suporter Liverpool meninggal dunia dan 766 orang lainnya mengalami luka-luka akibat insiden yang terjadi di salah satu tribune di Hillsborough. Dari jumlah korbannya, insiden ini menjadi bencana terbesar yang pernah terjadi dalam suatu event olahraga di Inggris.
Perhatian dunia tersedot. Investigasi menyeluruh dilakukan. Keluarga korban tewas mencari keadilan. Namun, satu yang pasti, tragedi ini mengubah sepak bola Inggris secara keseluruhan.
Monumen Peringatan Tragedi Hillsborough Foto: PAUL ELLIS / AFP
Kronologi Kejadian
Di Inggris pada masa itu, suporter dari kedua klub sepak bola yang akan bertanding, kendati bermain di tempat netral, harus dipisahkan. Di laga semifinal Piala FA 1989 itu, suporter Nottingham mendapatkan jatah di tribune Utara dan Timur, sementara Liverpool di tribune Selatan dan Barat yang dinamai Leppings Lane.
ADVERTISEMENT
Anehnya, tribune Leppings Lane memiliki kapasitas lebih sedikit dibandingkan dengan tribune yang dijatahkan untuk suporter Nottingham. Padahal, Liverpool memiliki basis massa yang lebih besar ketimbang lawannya. Inilah yang menjadi musabab dari tragedi memilukan ini.
Mengutip laporan yang dipaparkan oleh BBC, tragedi Hillsborough bermula dari saat suporter Liverpool masuk ke Leppings Lane tersebut. Leppings Lane, yang memang tidak besar, hanya memiliki beberapa pintu putar. Tujuh dari beberapa pintu putar tersebut mengarah ke tribune berdiri Leppings Lane.
Karena minimnya pintu masuk tersebut, banyak suporter Liverpool yang tidak bisa masuk ke dalam Leppings Lane saat pertandingan dimulai. Selain itu, suporter di dalam tribune juga berdesakan karena informasi mengenai bagian mana yang mereka tempati tidak jelas.
ADVERTISEMENT
Setelah melalui pintu putar, terowongan mengarah langsung ke Bagian 3 dan 4 tribune Leppings Lane, dan bagian tersebut langsung penuh. Di satu sisi, suporter tidak paham akan bagian lain karena informasinya kurang jelas dan tak ada petugas keamanan yang mengarahkan mereka dengan baik.
Situasi ini sudah disadari oleh pihak kepolisian setempat yang bertugas mengamankan pertandingan. Permintaan untuk menunda sepak mula telah dilayangkan, tetapi David Duckenfield, Kepala Polisi Sheffield yang memimpin pengamanan Hillsborough saat itu, menolak permintaan tersebut.
David Duckenfield Foto: Reuters/Phil Noble
Alih-alih, Duckenfield memutuskan untuk membuka Pintu C, pintu yang dimaksudkan untuk keluar. Duckenfield memang mengalami dilem karena pintu masuk tribune Leppings Lane sudah begitu penuh, sementara sepak mula telah diputuskan untuk tidak ditunda. Sayangnya, keputusan Duckenfield ini fatal.
ADVERTISEMENT
Suporter Liverpool yang masuk lewat Pintu C kebanyakan juga langsung mengarah ke Bagian 3 dan 4. Alhasil, situasi bottleneck terjadi di dua bagian tersebut. Suporter yang berada di depan Bagian 3 dan 4 tergencet, sementara dari belakang suporter lain mencoba untuk masuk.
Bayangkan saja, Bagian 3 dan 4, jika dikombinasikan, hanya mampu menampung 2.200 orang. Namun, ada sekitar 25 ribu suporter Liverpool yang mencoba masuk. Tanpa informasi yang jelas, dua bagian ini tentu saja menjadi target utama suporter yang tak ingin kelewatan sepak mula.
Situasi yang sudah mengerikan ini diperparah dengan fakta bahwa tiap bagian dibatasi dengan pagar tinggi di tiap sisinya. Selain itu, suporter yang paling depan juga tidak dapat lari ke depan karena stadion di Inggris kala itu masih terdapat pagar antara tribune dan lapangan.
ADVERTISEMENT
Efeknya sudah jelas, suporter di bagian 3 dan 4 tersebut tenggelam dalam lautan manusia. Yang cukup kuat mencoba untuk memanjat pagar yang membatasi tribune dan lapangan. Situasi ini akhirnya disadari oleh Inspektur Roger Greenwood, yang kemudian berlari ke lapangan untuk meminta wasit menghentikan pertandingan.
Setelah pertandingan usai, polisi yang bertugas baru sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, penanganan mereka sangat lelet dan tidak terkoordinasi dengan baik. Ambulans tidak tersedia dalam jumlah banyak. Pada akhirnya, korban pun berjatuhan dengan jumlah yang sudah disebutkan sebelumnya.
Pascakejadian
Selain berbagai reaksi yang datang, mulai dari Ratu Elizabeth, Paus Yohanes Paulus II, hingga Presiden Amerika Serikat, George H. W. Bush, hal yang lebih penting adalah investigasi tentang tragedi ini. Investigasi-investigasi tersebut sangat penting karena pada akhirnya semua kebenaran terkuak dan perubahan dilakukan.
ADVERTISEMENT
Keluarga korban tragedi Hillsborough Foto: Reuters/Andy Yates
Pada awalnya, suporter Liverpool menjadi pihak yang bersalah. Menurut penuturan kepolisian setempat, mereka mabuk, bertindak kasar, dan tidak bersikap kooperatif ketika antre masuk ke stadion. Duckenfield pribadi menyatakan bahwa ia membuka Pintu C karena ditekan oleh suporter.
Tekanan kepada suporter Liverpool semakin menguat setelah harian The Sun merilis laporan mereka yang dibuat oleh Kelvin MacKenzie, sang editor, empat hari setelah tragedi terjadi. Di laporan yang diberi judul 'The Truth' tersebut, suporter Liverpool dituding melakukan tindakan amoral seperti mencuri barang orang yang meninggal, mabuk, menyerang polisi, dan sebagainya.
Semua penuturan tersebut, baik dari pihak polisi maupun The Sun, terbantah habis-habisan.
Adalah laporan dari Lord Justice Taylor yang mengungkapkan semuanya. Laporan yang dibuat oleh eks Kepala Pengadilan Inggris tersebut mengungkapkan bahwa alasan utama terjadinya tragedi ini adalah kegagalan pihak polisi untuk menjaga kekondusifan situasi pralaga.
ADVERTISEMENT
Dalam laporannya, Lord Justice Taylor memaparkan bahwa polisi seharusnya menunda sepak mula dan mampu mengontrol alur suporter setelah melewati pintu putar dengan baik. Selain itu, laporan itu juga mengungkap bahwa suporter yang mabuk tidak menjadi faktor yang signifikan dari tragedi ini.
Laporan Lord Justice Taylor ini menjadi basis dari pengadilan-pengadilan Tragedi Hillsborough yang akhirnya berakhir di tahun 2016 lalu. Konklusi utama dari pengadilan tersebut adalah polisi menjadi pihak yang bersalah atas tragedi ini. Duckenfield dan beberapa petinggi polisi lainnya ditetapkan sebagai tersangka.
Vonis yang dijatuhkan di tahun 2016 ini juga menjadi kemenangan bagi pihak keluarga korban. Lewat gerakan ‘Justice For 96’, kebenaran akhirnya terungkap. Perjuangan mereka untuk membela saudara dan keluarga mereka yang menjadi korban akhirnya terbayar.
ADVERTISEMENT
The Sun pun menuai apa yang mereka tabur. Harian tersebut sampai saat ini masih diboikot di Liverpool.
Dampak Terhadap Sepak Bola Inggris
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Tragedi Hillsborough juga berdampak besar pada sepak bola Inggris.
Lagi-lagi, laporan dari Lord Justice Taylor memegang peranan besar. Dalam laporan tersebut, Lord Justice Taylor juga membuat deretan rekomendasi menyoal stadion agar tragedi ini tak terulang kembali. Untungnya, rekomendasi Lord Justice Taylor dipatuhi oleh FA.
Rekomendasi pertama adalah menghilangkan tribune berdiri dan diganti dengan tribune duduk yang tiketnya jelas. Ini dimaksudkan agar suporter yang masuk lebih termonitor dan tribune menjadi tempat yang lebih aman. Kendati begitu, baru-baru ini tribune berdiri diaplikasikan kembali, terutama di stadion anyar Tottenham Hotspur.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pagar-pagar yang membatasi tribune dan lapangan di stadion-stadion di Inggris juga diruntuhkan. Ini untuk mencegah agar tribune tidak kelebihan kapasitas dan terjebaknya suporter yang hadir. Sebagai gantinya, petugas keamanan ditugaskan untuk memonitor dan mencegah masuknya suporter ke lapangan.
Per laporan Telegraph, pihak FA juga lebih tegas untuk memberikan hukuman terhadap hooligans-hooligans yang bengal seusai tragedi terjadi. Dampaknya, kekerasan fisik antarsuporter menurun jauh.
Berbagai perubahan positif telah dilakukan. Untungnya, 96 korban tewas di tragedi tersebut tak akan pernah dilupakan. Di tanggal 15 April tiap tahun, Liverpool selalu menghelat seremoni untuk mengingat 96 orang ini, dan di era digital saat ini, hampir semua klub di Inggris turut memberikan tribute untuk mengenang mereka. Sesuatu yang pantas, meningat 96 orang ini adalah korban dari sebuah ketidakadilan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan