Kumparan Logo

Identitas Samar Espanyol dalam Gejolak Catalunya

kumparanBOLAverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Borja Iglesias merayakan gol Espanyol ke gawang Real Betis. Foto: AFP/Pau Barrena
zoom-in-whitePerbesar
Borja Iglesias merayakan gol Espanyol ke gawang Real Betis. Foto: AFP/Pau Barrena

Tak cuma Indonesia, Spanyol pun memiliki 'Gestok'-nya sendiri. Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah nama lain Gestapu atau Gerakan September Tiga Puluh. Di sini tanggal memang menjadi rancu karena peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat itu mulai dilakukan pada 30 September 1965 di malam hari dan kelar pada 1 Oktober dini hari. Namun, dua istilah itu digunakan untuk menyebut peristiwa yang sama.

Jika di Indonesia Gestok sudah terjadi lebih dari setengah abad silam, di Spanyol ia baru terjadi pada 2017, tepatnya di wilayah semiautonom Catalunya. Orang-orang di sana tentu tak menyebutnya sebagai Gestok, melainkan 1-O. Satu Oktober. Pada hari itu, 1 Oktober 2017, warga Catalunya melaksanakan referendum untuk menentukan kemerdekaan dari Spanyol.

Hasil referendum itu begitu mencengangkan. Sembilan puluh persen pemilih menginginkan kemerdekaan. Meski begitu, hasil itu tidak bisa serta merta menggambarkan apa yang diinginkan mayoritas rakyat Catalunya. Sebab, dari total pemilih terdaftar, hanya 42,3% yang hadir.

Sebelum referendum itu digelar, pemerintah pusat Spanyol sudah melakukan berbagai cara untuk menggagalkannya. Mereka menangkapi para pemimpin Catalunya, menyita surat suara, sampai menutup paksa bilik-bilik suara yang telah disediakan.

embed from external kumparan

Apa yang dilakukan pemerintah pusat tersebut tidak mematikan keinginan masyarakat Catalunya untuk menggelar referendum. Akhirnya, pemungutan suara tetap dilakukan dengan hasil seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Akan tetapi, pemungutan suara ini kemudian menimbulkan kerusuhan besar-besaran.

Pemerintah Spanyol melakukan represi total. Mereka bahkan sengaja mengirimkan Guardia Civil —tentara yang punya kewenangan di ranah sipil— untuk menyetop referendum secara paksa. Hasilnya, lebih dari 800 orang luka-luka akibat dipukuli dan ditembaki. Enam orang di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Catalunya pun berduka dan peristiwa ini akhirnya sampai juga ke ranah sepak bola; sebuah ranah yang sudah menjadi ajang pertarungan ideologi sejak zaman baheula. FC Barcelona, sebagai klub terbesar yang dianggap sebagai wakil rakyat Catalunya, bersikap tegas dengan menutup stadion dari publik pada pertandingan melawan Las Palmas yang digelar di Hari-H referendum.

Awalnya, Barcelona menutup Camp Nou karena mereka ingin agar pertandingan kontra Las Palmas itu dibatalkan. Namun, setelah mendapat berbagai ancaman, mulai dari pengurangan poin sampai diskualifikasi, Blaugrana terpaksa menggelar laga itu di stadion kosong. Mereka menang 3-0.

Keesokan harinya, pernyataan lebih tegas lagi diumumkan oleh Barcelona. Kata mereka, "FC Barcelona, sesuai dengan sejarah komitmennya untuk melindungi demokrasi, kebebasan berekspresi, dan hak untuk memilih, akan terus mendukung apa yang dipilih oleh mayoritas penduduk Catalunya."

X post embed

Di saat hampir bersamaan, Girona menyatakan hal serupa. Dalam catatan Sid Lowe di the Guardian, disebutkan bahwa Girona merupakan wilayah paling pro-kemerdekaan di Catalunya. Ini tak mengherankan karena kota itu pernah dipimpin oleh Carles Puigdemont, Presiden Republik Catalunya yang sekarang buron.

Lalu, tibalah saatnya bagi Espanyol.

Di saat dua 'saudara' mereka jelas-jelas menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Catalunya, Espanyol memilih untuk bersikap netral. "Penting halnya untuk menjaga Espanyol dan dunia olahraga supaya lepas dari posisi sosial-politik yang penuh dengan omong kosong," tulis Espanyol lewat akun media sosial resminya. Kecurigaan pun semakin menebal.

***

Espanyol adalah paria di kota Barcelona dan ini bukan cuma soal gelar, uang, atau popularitas. Ini adalah soal bagaimana orang-orang di kota Barcelona melihat Espanyol sebagai sarang pengkhianat.

Untuk menjelaskan ini semua, mari kembali ke tahun 1714. Bagi penduduk Catalunya, angka itu sangatlah spesial, meski dalam konotasi negatif. Pada tahun tersebut mereka kehilangan kemerdekaan. Setelah melalui pertempuran selama setahun, kota Barcelona jatuh ke tangan Raja Philip V yang mendapat bantuan dari Kerajaan Prancis.

Kekalahan itulah yang membuat segalanya jadi runyam. Catalunya memang bukan Spanyol. Mereka punya identitas, budaya, dan bahasa sendiri. Di bawah cengkeraman Spanyol, itu semua direpresi. Puncaknya adalah ketika Spanyol berada di bawah kekuasaan Francisco Franco (1939-1975). Rezim fasis Franco itu berupaya menghapus ke-Catalan-an Catalunya. Sebagai contoh, FC Barcelona pernah dipaksa mengganti nama menjadi lebih Spanyol, Club de Futbol Barcelona.

Jenderal Francisco Franco. Foto: AFP

Espanyol sendiri berdiri pada 1900, setahun setelah Barcelona didirikan. Jika Barcelona didirikan oleh seorang Swiss bernama Hans Kamper alias Joan Gamper, Espanyol dibentuk oleh penduduk lokal bernama Angel Rodriguez. Klub bentukan Rodriguez itu awalnya bernama Sociedad Española de Football.

Nama 'Sociedad Española' itu dipilih Rodriguez sebagai bentuk respons terhadap keberadaan FC (Foot-Ball Club) Barcelona yang pengaruh asingnya kelewat kental. Meski demikian, kata 'Football' dipilih karena Rodriguez berani mendirikan klub setelah menimba ilmu di Inggris. Baru setahun kemudian nama klub diubah jadi Club Español de Futbol.

Club Español de Futbol ini tak bertahan lama. Enam tahun setelah didirikan mereka bangkrut dan harus melakukan merger dengan X Sporting Club. Hasil merger ini terlihat pada 1910 dengan didirikannya Club Deportivo Español.

Sedari awal, identitas ke-Spanyol-an inilah yang jadi ciri Espanyol. Ciri itu makin terasa ketika pada 1912 mereka mendapat hadiah dari Raja Alfonso XIII. Hadiah yang dimaksud berupa bekingan. Club Deportivo Español pun kemudian berhak menggunakan kata 'Real' di depan namanya serta memasang logo mahkota di emblemnya. Nama klub pun berubah menjadi Real Club Deportivo Español alias Klub Olahraga Kerajaan Spanyol.

Nantinya, nama ini mengalami perubahan beberapa kali. Pada 1931, misalnya, menyusul terbentuknya Republik Spanyol Kedua dan munculnya pelarangan terhadap simbol-simbol kerajaan, nama klub berubah menjadi lebih berbau Catalunya, Club Esportiu Espanyol. Setelah Perang Sipil berakhir pada 1939, nama klub kembali berubah menjadi RCD Español.

Suasana Perang Sipil Spanyol tahun 1936. Foto: AFP

Nama dengan bahasa Castilia (bahasa Spanyol paling umum yang merupakan bahasa nasional) itu bertahan sampai 1995. Pada tahun tersebut nama klub berubah lagi ke dalam bahasa Catalunya: Reial Club Deportiu Espanyol. Yang menarik di sini adalah penggunaan kata 'Deportiu'. Seharusnya, translasi yang benar dari Castilia ke Catalan untuk kata itu adalah 'Esportiu'. Namun, karena enggan menanggalkan inisial 'RCD', maka kata 'Deportiu' yang diambil.

Dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada 2013, mantan Presiden Espanyol, Joan Collet, mengakui bahwa Espanyol memang kurang berusaha untuk menjauhkan diri dari citra nasionalisnya. Salah satu contohnya bisa dilihat dari lamanya nama berbahasa Castilia tadi dipertahankan.

Jikalau Espanyol jadi begitu identik dengan gerakan nasionalis pro-Spanyol, itu wajar. Di Sarria, wilayah basis suporter Espanyol yang dulu pernah jadi tempat stadion mereka berada, dukungan pro-Spanyol begitu masif. Inilah yang membuat para suporter FC Barcelona senantiasa menaruh curiga.

Meski demikian, Espanyol sendiri sebenarnya memiliki kebanggaan tersendiri terhadap identitas Catalan mereka. Warna biru-putih yang mereka kenakan itu adalah contoh paling gamblang.

Sebelum mengenakan kostum biru-putih seperti sekarang, Espanyol menjalani hari-hari pertamanya dengan bermain dalam balutan kostum kuning. Alasannya, karena ketika itu cuma warna kuning yang tersedia. Itu pun mereka dapatkan secara cuma-cuma dari seorang pendukung yang memiliki usaha garmen.

embed from external kumparan

Warna biru-putih baru muncul ketika Club Deportivo Español terbentuk pada 1910. Warna itu sendiri diambil dari warna tameng prajurit agung Catalunya, Roger de Lluria. De Lluria sebenarnya lahir di Sisilia, tetapi dia menghabiskan karier sebagai pelaut dengan melindungi Laut Tengah yang dikuasai oleh Kerajaan Aragon. Catalunya, pada masa itu, merupakan bagian dari kerajaan tersebut.

Kedekatan Espanyol dengan pergerakan Catalunya juga bisa dilihat dari ketika mereka berkandang di Estadi Olimpic de Montjuic. Pada 2001, stadion yang jadi tuan rumah Olimpiade 1992 itu dinamai ulang dengan nama Presiden Catalunya era Perang Sipil, Lluis Companys, yang meninggal di tangan para jagal Jenderal Franco.

Namun, kedekatan dengan Companys tersebut tidak lahir secara sukarela, melainkan karena keadaan. Terlebih, pada 2009 Espanyol memilih angkat kaki ke RCDE Stadium sampai sekarang.

***

Espanyol dan Barcelona. David dan Goliath. Pada Derbi Barceloni pertama edisi 2018/19 Barcelona berhasil menang dengan skor mencolok 4-0. Dengan demikian, rekor gemilang Barcelona pun kian mengilap saja. Dari 195 pertandingan —yang membuat derbi ini jadi derbi yang paling kerap dipentaskan di Spanyol— Barcelona menang 115 kali.

Pada Sabtu (30/3/2019) malam WIB mendatang, kedua tim akan bertemu kembali. Akankah sang Goliath bakal kembali berjaya? Atau akankah David mampu menemukan ketapel saktinya untuk memenangi pertarungan tak berimbang ini? Yang jelas, derbi ini akan begitu berarti bagi para suporter Espanyol yang tak rela selalu dikangkangi oleh Barcelona.