kumparan
10 Juni 2019 20:07

Indra Sjafri: Mengubah Posisi Pemain, Mengubah Peruntungannya

M. Rafli, Penyerang Timnas U-23 Indonesia
Penyerang Timnas U-23 Indonesia, M. Rafli (depan), di ajang Merlion Cup 2019. Foto: dok. PSSI
Dari depan kotak penalti, Muhammad Rafli berlari cepat, berhenti beberapa detik, lalu kembali berlari dengan agak lambat. Pergerakan ini kemudian mengantarkannya berada pada posisi ideal untuk menyepak bola hasil operan Sani Rizki.
ADVERTISEMENT
Begitulah cuplikan gol pertama Timnas U-23 Indonesia yang dicetak Rafli ke gawang Filipina, pada Minggu (9/6/2019). Di laga perebutan tempat ketiga Merlion Cup 2019 ini, 'Garuda Muda' menang 5-0 dan pemain berusia 20 tahun itu keluar sebagai protagonis utama dengan trigolnya.
Video
Seusai pertandingan, semua mata langsung tertuju pada sosok Rafli. Tak heran, sebab selain mencetak tiga gol, pergerakannya sepanjang pertandingan bak seorang penyerang matang. Padahal, dia telah meninggalkan posisi tersebut dalam waktu yang cukup lama.
Ya, Rafli memang memulai karier juniornya sebagai juru gedor. Namun, saat membela Arema FC pada 2017 silam, persaingan ketat di lini depan membuat pelatih Singo Edan saat itu, Aji Santoso, menggeser perannya agak mundur ke belakang alias menjadi gelandang serang.
ADVERTISEMENT
Keputusan ini terbilang logis. Masa iya Rafli harus bersaing dengan para penyerang sarat pengalaman milik Arema macam Thiago Furtuoso dan Cristian Gonzales? Bisa-bisa Rafli terkubur di bangku cadangan sehingga perkembangannya menjadi terhambat.
Mau tak mau, ia mesti bertahan dengan peran baru tersebut selama beberapa tahun. Barulah pada pertengahan 2019, tepatnya di ajang Merlion Cup bersama Timnas U-23, Rafli kembali mencicipi posisi aslinya sebagai penyerang. Cukup jitu perubahan ini karena ia mampu tampil apik. Pergerakannya saat bermain dan terutama trigolnya ke gawang Filipina menjadi sedikit bukti.
M. Rafli, Penyerang Timnas U-23 Indonesia
Penyerang Timnas U-23 Indonesia, M. Rafli (kiri), di ajang Merlion Cup 2019. Foto: dok. PSSI
Bagi Timnas Indonesia, apa yang ditunjukkan Rafli pada ajang tersebut seakan menjadi oase. Rasanya sudah bertahun-tahun sosok penyerang tajam hilang di sektor depan 'Garuda'. Naturalisasi bahkan sampai dipilih sebagai jalan pintas, yakni dengan menggaet Ilija Spasojevic dan terakhir Alberto Goncalves sebagai pemain Timnas. Karena itu, tak heran bila para suporter mulai berharap agar kelak Rafli dapat meneruskan ketajamannya di level senior.
ADVERTISEMENT
Dan, andai harapan itu benar-benar terwujud, ada satu nama yang pantas mendapat banyak apresiasi. Dia adalah pelatih Timnas U-23, Indra Sjafri. Sosok inilah yang bereksperimen dengan mengubah posisi pemain Arema itu kembali ke posisi aslinya.
Eksperimen Indra Sjafri Lainnya
Rafli bukanlah sosok pertama yang mengalami modifikasi posisi di bawah asuhan Indra. Ada sejumlah pemain lain yang juga mengalaminya. Salah satunya Fadil Sausu.
Pada 2015 atau saat Indra menangani Bali United, Fadil mendapat peran baru dari sang pelatih untuk menjadi gelandang. Sebelumnya, sang pemain beroperasi di pos full-back kiri yang merupakan posisi naturalnya.
Sebagai gelandang, tak butuh waktu lama bagi Fadil untuk bersinar. Pada ajang Indonesia Soccer Championship A 2016, ia langsung menjelma menjadi andalan di lini tengah Bali United. Ia mengatur tempo, menentukan arah permainan, bahkan sesekali mencetak gol lewat sepakan-sepakan jarak jauh.
ADVERTISEMENT
Selain itu, masih pada ajang yang sama, Fadil menjadi pemain pertama yang mencatatkan 1.000 operan. Ketika musim berakhir, jumlah operannya mencapai 1.628, terbanyak di antara para pemain lain.
Untitled Image
Fadil Sausu saat memperkuat Bali United pada Liga 1 2018. Sumber foto: PSSI
Sampai tongkat kepelatihan berpindah ke Widodo Cahyono Putro dan kini Stefano Cugurra, peran Fadil tak pernah berubah. Ia semakin berkembang. Ia bahkan mulai disebut-sebut sebagai salah satu gelandang terbaik di Indonesia dan sempat mendapatkan panggilan Timnas Indonesia pada 2017.
So, pantaslah Fadil melihat Indra sebagai sosok penting dalam perjalanan kariernya. Karena tanpa keputusan mantan pelatih Timnas U-19 itu, alih-alih menjadi seperti sekarang, ia bisa saja justru tertutup bayang-bayang Ricky Fajrin di sisi kiri pertahanan Bali United.
"Coach Indra seperti ayah di dalam karier saya. Beliau juga yang memberikan kesempatan saya untuk posisi bermain di posisi gelandang dari sebelumnya posisi bek kiri," tutur Fadil dilansir oleh laman resmi Bali United.
ADVERTISEMENT
Selain Fadil, pemain lain yang juga terbilang sukses berkat modifikasi posisi oleh Indra adalah Asnawi Mangkualam. Kali ini bukan berdasarkan taktik, melainkan cedera yang dialami full-back kanan, Rifad Marasabessy, sebelum Timnas U-19 mengarungi Piala AFF 2018.
Saat itu, cedera tersebut membuat Indra mengambil keputusan yang terbilang ekstrem. Asnawi yang notabene seorang gelandang, digeser menjadi bek kanan untuk menggantikan peran Rifad.
Pelatih Timnas Indonesia U-23, Indra Sjafri, kualifikasi Piala Asia U-23 2020, Indonesia vs Vietnam di Stadion My Dinh, Hanoi
Pelatih Timnas Indonesia U-23, Indra Sjafri. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Seperti sebelumnya, perubahan ini terbilang berhasil. Pemain PSM Makassar itu menjadi salah satu sosok paling menonjol sepanjang turnamen. Ia disiplin saat bertahan. Sementara saat menyerang, ia juga terbilang eksplosif.
Meski begitu, ketetapan Indra ini sempat ditentang oleh Robert Rene Albert selaku pelatih PSM ketika itu. Menurut pemilik nama terakhir, tak logis menggeser pemain yang fasih beroperasi di tengah ke tepi lapangan.
ADVERTISEMENT
Indra bergeming atas keluhan Rene Albert dan terus menjadikan Asnawi sebagai pilihan utama di sisi kanan pertahanan Timnas U-23. Dan, Sudah sepantasnya Asnawi bersyukur atas sikap kekeh Indra. Pasalnya, saat jabatan pelatih diambil alih Darije Kalezic, Asnawi menjadi bek kanan utama PSM di Liga 1 2019.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan