kumparan
13 Februari 2019 10:16

Ingat Baik-baik Namanya: Nicolo Zaniolo

Nicolo Zaniolo
Selebrasi Nicolo Zaniolo usai mencetak gol ke gawang Porto. Foto: Reuters/Alberto Lingria
Tak ada nama lain yang berhak menyandang status pemain terbaik dalam pertandingan antara Roma dan Porto, Rabu (13/2/2019) dini hari WIB, selain Nicolo Zaniolo. Pasalnya, pemuda 19 tahun inilah yang jadi penentu hasil akhir pertandingan lewat dua golnya. Berkat aksi gemilang Zaniolo, Giallorossi sukses memetik kemenangan tipis 2-1.
ADVERTISEMENT
Liga Champions memang ajang spesial bagi Zaniolo. Di turnamen antarklub paling elite se-Eropa itulah dia menjalani debutnya bersama Roma. Ketika itu, pada pertengahan September tahun lalu, pelatih Eusebio Di Francesco menurunkan jebolan akademi Internazionale tersebut pada pertandingan menghadapi Real Madrid.
Meski demikian, perjalanan Zaniolo di Liga Champions tak melulu menyenangkan. Pada laga debutnya tadi, misalnya, Zaniolo dan rekan-rekannya harus menelan kekalahan telak 0-3. Selain itu, sebelum pertandingan menghadapi Porto di babak 16 besar ini, dia juga belum pernah memberi kontribusi konkret untuk I Lupi baik dalam bentuk gol maupun assist.
Maka, laga melawan Porto di Olimpico pun menjadi momen spesial bagi Zaniolo. Apalagi, dengan dua gol ke gawang Iker Casillas, dia menjadi pemain Italia termuda yang mencatatkan brace di Liga Champions. Selepas pertandingan, pemain bernomor punggung 22 itu mengaku tak percaya bisa melakukan apa yang dia lakukan.
ADVERTISEMENT
"Ini malam yang luar biasa. Aku tak bisa berkata apa-apa karena aku tak pernah menyangka bisa melakukan ini," kata Zaniolo kepada Sky Italia. "Aku bekerja keras malam ini dan merasa senang bisa melakukan ini untuk timku. Merayakan gol di bawah curva adalah perasaan yang luar biasa. Aku tak bisa menjelaskannya. Aku berharap bisa mencetak lebih banyak gol lagi di bawah curva ini."
Meski demikian, Zaniolo enggan jemawa. Menurut pemain yang berposisi sebagai gelandang serang tersebut, leg kedua nanti masih akan sangat berat untuk dilakoni terutama karena Porto sanggup menabung satu gol tandang.
"Kami tak seharusnya kebobolan gol itu dan kami harus lebih solid lagi dalam menghadapi pertandingan sebagai sebuah unit. Sebenarnya kami tadi praktis tak mengizinkan Porto melakukan apa-apa sehingga di leg kedua nanti kami harus melakukan hal serupa untuk bisa lolos," tegasnya.
ADVERTISEMENT
Dzeko, Zaniolo
Nicolo Zaniolo merayakan gol bersama Edin Dzeko. Foto: Reuters/Alberto Lingria
Sementara itu, di kesempatan terpisah, Di Francesco secara khusus meminta Zaniolo untuk terus bersikap rendah hati.
"Dia memang pantas dipuji karena dia telah bermain sangat bagus. Dia sedang berada di jalur perkembangan yang ada di luar ekspektasi. Bahkan di pertandingan-pertandingan di mana dia tidak bermain bagus, itu juga ajang belajar baginya," ucap Di Francesco seperti dilansir Reuters.
"Kudengar banyak orang yang mengaku-ngaku berjasa untuk Zaniolo, tetapi akulah yang melatih dirinya. Sekarang, dia butuh keseimbangan diri terutama dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya," tutup sang allenatore.
Ya, di bawah Di Francesco, Zaniolo memang berkembang pesat. Setelah awal yang lambat bersama Roma, saat ini pemain berpostur 190 cm itu sudah semakin kerap mendapat mandat untuk jadi katalis serangan Roma. Total, dia sudah bermain dalam 20 pertandingan Serie A dan Liga Champions. Dari sana, 5 gol dan 2 assist telah berhasil dia bukukan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan