Kumparan Logo

Inter Kalah Terus... Ada Apa, Sih, Sebenarnya?

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Reaksi Icardi usai Inter kebobolan. (Foto: Reuters/Alessandro Garofalo)
zoom-in-whitePerbesar
Reaksi Icardi usai Inter kebobolan. (Foto: Reuters/Alessandro Garofalo)

Pada awalnya, tak ada yang menyangka Inter mampu berlari sekencang itu di Italia. Kedatangan Luciano Spalletti di kursi pelatih serta transfer pemain yang tidak memuaskan, membuat Inter diprediksi bakal gugur sebelum mendapatkan posisi capolista atua pemuncak klasemen sementara.

Bersama Spalletti, Inter berubah menjadi kesebelasan yang berbeda. Mereka tak hanya punya serangan dari dua sisi lapangan yang sama bagusnya, tapi juga pertahanan yang sulit ditembus serta lini tengah yang berbahaya.

Mengandalkan itu, Inter kemudian bangkit. Dari kesebelasan yang awalnya hanya dianggap pecundang, mereka lalu mendapatkan banyak pujian. Pada pekan ke-15, mereka merengkuh gelar capolista.

Namun, belum lama menapaki jalan sebagai pemuncak klasemen sementara, Inter di ambang kejatuhan. Inter kalah dari Udinese dan Sassuolo pada pekan ke-17 dan ke-18 Serie A serta tumbang di tangan AC Milan pada lanjutan Coppa Italia, Kamis (28/12/2017) dini hari WIB.

Tiga kekalahan tersebut membuat nasib mereka kembali seperti yang sudah diperkirakan: tak akan mampu berbicara banyak di Italia.

Tiga kekalahan beruntun yang didapatkan oleh Inter sebenarnya masuk akal. Cukup banyak faktor untuk menjelaskan permasalahan demi permasalahan yang membuat Inter mengalami tren buruk.

Faktor pertama yang membuat Inter bermasalah adalah kedalaman skuat yang begitu buruk. Untuk bersaing di Serie A musim ini, Inter hanya punya 19 pemain di tim utama. Sialnya, mayoritas dari jumlah tersebut adalah pemain yang kualitasnya jauh di bawah pemain reguler.

Minimnya jumlah pemain di tim utama membuat Spalletti benar-benar kesulitan bekerja. Ia tak hanya sulit melakukan rotasi, tapi juga kerap bingung menentukan pemain utama karena banyaknya nama yang absen akibat akumulasi kartu atau cedera.

Jarangnya Spalletti melakukan rotasi pemain, membuat penampilan Inter selalu memburuk setiap 10 menit terakhir. Dalam 10 penampilan terakhir di Serie A, mereka bahkan hanya mampu mencetak tiga gol pada 10 menit terakhir laga.

Faktor kedua yang membuat Inter bermasalah adalah bagaimana Spalletti tak pernah berupaya mencari taktik dan pola alternatif. Sepanjang musim ini, Inter tak pernah jauh-jauh dari pakem 4-2-3-1. Dari 18 penampilan di Serie A musim ini, pakem tersebut malah selalu menjadi formasi awal Nerazzurri.

Memainkan pola yang sama dalam setiap pekan adalah awal bencana Inter. Dengan memainkan pola yang sama setiap pekan, lawan yang dihadapi oleh Inter pun paham bagaimana menghentikan mereka.

embed from external kumparan

Terlalu mengandalkan Mauro Icardi jadi permasalahan Inter keempat yang membuat Inter menurun. Icardi boleh saja mencetak enam gol dalam lima laga terakhir, tapi tahu berapa sentuhan yang didapatkan pemain asal Argentina tersebut dalam lima laga tersebut? 106. Jumlah yang cukup sedikit bagi pemain yang memiliki banyak peran di lapangan.

Sejauh ini, Icardi memang tak sekadar ditampilkan oleh Spalletti sebagai pencetak gol. Ia memiliki tugas untuk membuka ruang agar pemain lain dapat masuk ke pertahanan lawan, hingga mengkreasikan peluang bagi pemain lain yang memiliki kesempatan mencetak gol.

Namun, pilihan tersebut gagal berakhir jitu karena ketergantungan terhadap Icardi yang begitu tinggi. Hampir setiap pekan memainkan Icardi tentu membuat lawan tak perlu repot-repot mencari cara untuk mematikan Inter. Dengan menutup Icardi saja, serangan Inter sudah bisa dipastikan tak akan bekerja.

Faktor terakhir yang membuat Inter bermasalah adalah mental bermain. Dari skuat yang saat ini mengisi tim utama, nyaris tak ada pemain yang punya pengalaman bermain pada level tertinggi dalam waktu yang lama. Dari skuat saat ini, mungkin hanya Joao Miranda yang bisa konsisten memberikan penampilan apik setiap pekannya.

Masalah mental yang dimiliki oleh Inter ternyata tak hanya terjadi sekarang-sekarang saja. Melihat beberapa tahun terakhir, mereka memang selalu memanaskan persaingan juara pada awal kompetisi. Namun, dari semua itu, perjalanan Inter di akhir musim tak pernah memuaskan.

Mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang sudah disebutkan di atas memang tak semudah membalikkan tangan. Masalahnya, jika tidak diperbaiki sekarang, harapan Inter untuk menutup musim ini dengan gelar juara rasanya tak akan mungkin bisa terpenuhi.