Internazionale dan Polemik Bernama Kedalaman Skuat

Jika melihat pencapaian Internazionale pada musim 2017/18 ini di ajang Serie A, para suporter kesebelasan berjuluk Nerrazzuri tersebut boleh-boleh saja berbangga hati. Namun, bukan berarti Inter Milan tidak memiliki cela dalam skuat mereka.
Di musim 2017/18 ini, Inter mencatatkan prestasi yang cukup ciamik. Dari 16 pertandingan di Serie A, mereka menjadi satu-satunya tim yang sama sekali belum mengalami kekalahan. Total, mereka sudah meraih 12 kemenangan dan empat hasil imbang. Atas pencapaian mereka ini, Nerrazzuri sekarang bertengger di puncak klasemen sementara Serie A.
Jika membandingkan apa yang mereka capai saat ini dengan raihan mereka pada musim 2016/2017 silam, perbandingannya cukup jauh. Di musim 2016/17, Inter tertatih-tatih di ajang Serie A, sehingga mereka harus puas duduk di peringkat tujuh klasemen akhir Serie A. Atas hasil ini, mereka gagal tampil di kompetisi Eropa pada musim 2017/18.
Namun di musim 2017/18 ini Inter mampu tampil lebih baik. Di bawah arahan Luciano Spalletti, mereka menjadi salah satu kandidat kuat peraih gelar Scudetto Serie A bersama Napoli, Juventus, dan Roma. Atas capaian Inter yang lebih baik ini, Bleacher Report dalam tulisannya menyebut bahwa Inter sekarang sudah beranjak dari status zero menuju hero.
Meski begitu, para suporter Inter tidak boleh menutup mata akan kekurangan yang masih ada di dalam skuat Inter saat ini. Kekurangan di tubuh Inter sekarang adalah kedalaman skuat mereka yang masih mengkhawatirkan.
***
Mengarungi musim 2017/18 ini, Inter diperkuat oleh 23 pemain. Sekilas, jumlah pemain ini tampak pas untuk mengarungi satu musim kompetisi, apalagi di musim ini Inter Milan tidak ikut berpartisipasi di kompetisi Eropa dan hanya fokus di kompetisi domestik saja.
Namun, jumlah itu tak membuat skuat Inter serta merta menjadi dalam. Awalnya memang Inter terlihat kuat. Apalagi, catatan 12 kemenangan, empat hasil seri, tanpa menelan kekalahan sekali pun itu bukanlah catatan yang bisa dipandang sebelah mata.
Tapi, seiring dengan perjalanan Inter di Serie A, kelemahan yang ada di dalam skuat Inter perlahan mulai terlihat. Saat Inter ditahan imbang oleh Juventus, kelemahan ini terpapar dengan jelas. Mereka lemah dalam soal kedalaman skuat, terutama untuk pemain yang berposisi sebagai winger.
Pada musim 2017/18 ini, Inter menjadi tim yang cukup dominan menyerang dari kedua sisi sayap. Menurut data WhoScored, persentase serangan Inter Milan dari sayap cukup besar, dengan besaran 34% dari sisi kiri dan 39% dari sisi kanan. Pergerakan ciamik dari Antonio Candreva di kanan dan Ivan Perisic di kiri menghidupkan sayap-sayap La Beneamata.
Namun, dalam laga melawan Juventus tampak jelas kebuntuan serangan Inter ketika dua winger mereka berhasil dimatikan. Baik itu Candreva maupun Perisic tidak mampu menembus pertahanan Juventus karena pergerakan mereka berhasil dihalau oleh dua full-back Juventus, yaitu Kwadwo Asamoah di kiri dan Mattia De Sciglio di kanan.
Di sinilah kelemahan Inter mulai terlihat. Ketika Candreva dan Perisic mengalami kebuntuan, Inter tidak memiliki winger eksplosif lain sebagai pengganti dari Candreva maupun Perisic. Pada laga melawan Juventus, Candreva justru digantikan oleh Roberto Gagliardini. Langkah ini menjadi tidak efektif karena masuknya Gagliardini menggeser posisi Marcelo Brozovic dan Borja Valero. Akhirnya, Inter justru semakin sulit untuk menyerang.

Tidak adanya sosok winger lain di dalam skuat selain Antonio Candreva, Ivan Perisic, serta Yann Karamoh membuat Inter, pada laga melawan Juventus tersebut, tidak bisa memberikan tekanan dari sisi sayap. Sebenarnya, ada nama Eder yang juga bisa dijadikan sebagai winger, tapi Eder sendiri lebih banyak menjadi penyerang untuk menggantikan Mauro Icardi.
Sialnya, di dalam skuat Inter Milan justru sosok full-back justru lebih banyak. Ada nama Davide Santon, Danilo D'Ambrosio, Yuto Nagatomo, Dalbert Henrique, serta Joao Cancelo di posisi full-back. Tidak seimbangnya komposisi pemain dan posisi yang mereka tempat mencerminkan minimnya kedalaman skuat dalam tubuh Inter Milan.
***
Tidak ada kesebelasan yang sempurna, bahkan untuk kesebelasan yang menghuni posisi puncak klasemen. Itulah yang dialami Inter. Memang mereka tampil ciamik, tapi ini bukan berarti skuat mereka adalah yang paling sempurna.
Gelaran kompetisi Serie A masih panjang. Masih ada waktu bagi Inter Milan untuk berbenah dan melakukan penguatan skuat di bursa transfer musim dingin mendatang. Menarik untuk memerhatikan langkah apa yang akan dilakukan Spalletti. Apakah dia akan menambah kekuatan skuat dengan membeli pemain, ataukah dia akan membiarkan skuat Inter tetap seperti ini saja?
