Kumparan Logo

Juventus Tanpa Cristiano Ronaldo: Dari Kece Jadi Memble?

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Juventus Cristiano Ronaldo saat melawan Udinese pada pertandingan Liga Italia di Dacia Arena, Udine, Italia. Foto: Massimo Pinca/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Juventus Cristiano Ronaldo saat melawan Udinese pada pertandingan Liga Italia di Dacia Arena, Udine, Italia. Foto: Massimo Pinca/REUTERS

Juventus ditinggal Cristiano Ronaldo. Bisa apa 'si Nyonya Tua' tanpa megabintang Portugal itu?

Juventus sudah membangun kejayaan di kompetisi domestik sejak sebelum adanya Ronaldo. Ya, Bianconeri menjuarai Liga Italia sebanyak 9 kali beruntun sepanjang 2011-2020 dan itu belum termasuk dengan pencapaian trofi lainnya.

Ronaldo sendiri baru bergabung pada 2018. Jadi, pernah ada catatan Juventus tampil apik di Liga Italia sebelum era CR7.

Namun masalahnya, Juventus sudah ketergantungan Ronaldo selama tiga musim terakhir. Bayangkan, pemain yang kembali ke Manchester United itu telah menyumbang 101 gol dari 134 laga lintas ajang buat Juventus.

Pemain Juventus Cristiano Ronaldo saat melawan Udinese pada pertandingan Liga Italia di Dacia Arena, Udine, Italia. Foto: Massimo Pinca/REUTERS

Musim lalu, Juventus gagal menjadi juara dan cuma finis di urutan keempat Liga Italia, dengan status Cristiano Ronaldo sebagai top skor (29 gol). Bayangkan, bagaimana jadinya jika Juventus tak punya Ronaldo di musim lalu?

Barangkali, Juventus tidak bermain di Liga Champions untuk musim 2021/22. Namun, ada yang menyalahkan Andrea Pirlo atas performa tak mengesankan Juventus pada musim lalu.

Pertanyaan berikutnya, apakah Massimiliano Allegri bisa menjadi juru selamat? Ya, dia adalah pelatih yang memberi Juventus 5 scudetto Serie A (2014/15, 2015/16, 2016/17, 2017/18, 2018/19) dan beberapa trofi lainnya.

Akan tetapi, situasinya adalah Allegri selalu memiliki striker-striker tajam di timnya. Secara estafet, Juventus waktu itu punya Carlos Tevez, Gonzalo Higuain, hingga akhirnya Ronaldo. Nah, untuk musim ini, siapa yang bisa diandalkan Allegri sebagai juru gedor utama timnya?

Pelatih kepala Juventus Italia Massimiliano Allegri bereaksi selama pertandingan sepak bola Serie A Italia Juventus vs Empoli Foto: Isabella B / AFP

Di tubuh Juventus kini masih ada Alvaro Morata. Namun, striker Spanyol ini tak begitu konsisten mencetak gol dan sulit diandalkan di laga-laga besar.

Sebagai pengganti Cristiano Ronaldo yang hengkang, Juventus mendatangkan Moise Kean. Kualitas striker 21 tahun ini masih perlu dipertanyakan.

Pada musim 2018/19, Kean menunjukkan prospek bagus sebagai wonderkid dengan catatan 7 gol dari 17 laga lintas ajang. Namun kemudian, Juventus melepasnya ke Everton dan gagal bersinar di sana, lalu kembali menemukan pendarnya di Paris Saint-Germain pada musim lalu (17 gol dari 41 laga lintas ajang).

Meski demikian, kualitas Kean sebagai juru pencetak gol utama Juventus masih perlu pembuktian. Lantas, siapa lagi yang tersisa? Bagaimana dengan Paulo Dybala?

Moise Kean. Foto: REUTERS/Massimo Pinca

Paulo Dybala sejatinya bukan striker murni. Namun, ia sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai mesin gol Juventus sepeninggal Ronaldo.

Dybala didatangkan oleh Juventus dari Palermo pada 2015, itu masih di era kepelatihan Allegri yang pertama, dan langsung moncer. Pada musim pertamanya, ia mencetak 23 gol di lintas ajang. Dua musim berikutnya, ia masing-masing mencetak 19 gol dan 26 gol di lintas ajang.

Akan tetapi, setelah Ronaldo datang, jumlah golnya menurun drastis. Selama tiga musim terakhir, catatan golnya di berbagai kompetisi secara beruntun adalah 10 gol, 17 gol, dan 5 gol.

Kini, Ronaldo sudah tidak ada. Allegri mestinya tahu bagaimana cara memanfaatkan Dybala seperti dulu lagi.

Selebrasi pemain Juventus Paulo Dybala usai mencetak gol ke gawang Genoa pada pertandingan lanjutan Serie A Italia di Stadio Comunale Luigi Ferraris, Genoa, Italia. Foto: Jennifer Lorenzini/REUTERS

Sejauh ini, Dybala telah mencetak 1 gol dari 2 laga Liga Italia 2020/21. Itu tak cukup memberi kemenangan buat Juventus, yang meraih hasil imbang dengan Udinese dan kalah dari Empoli.

Jadi, jika Allegri tak bisa memaksimalkan pemain yang ada untuk mencetak gol, Juventus siap-siap saja menjelma dari klub yang sebelumnya dikenal kece berubah menjadi memble.