kumparan
12 Maret 2019 13:20

Juventus vs Atletico Madrid: Bersiap untuk Yang Terbaik dan Terburuk

Striker Juventus, Mario Madzukic (kiri), berduel dengan gelandang Atletico Madrid, Rodrigo. Foto: AFP/Gabriel Bouys
Video itu tidak panjang, durasinya hanya 61 detik. Awalnya, ia terlihat membingungkan. Di situ terlihat dua pria, yang salah satunya berbicara dengan aksen Skotlandia yang begitu kental, berjalan di dua tempat berbeda.
ADVERTISEMENT
Seiring berlalunya waktu, dua pria tadi terus bergerak mendekat dan mendekat hingga akhirnya tiba di tujuan. Mendekati akhir video, barulah benar-benar terlihat apa pesan yang hendak disampaikan. Kedua pria itu tiba di Juventus Stadium dan semua yang mereka ucapkan di sepanjang video baru jadi masuk akal.
Get ready. Bersiaplah. Itulah slogan yang diangkat Juventus dalam video tersebut. Sebelum menghapus akun Twitter-nya karena mendapat cacian dari para suporter yang tak puas, Massimiliano Allegri pun sudah mengajak para pemain Juventus serta para tifosi untuk melakukan itu. Bersiaplah, karena Atletico Madrid dan defisit dua gol bukan kombinasi yang menyenangkan.
Juventus adalah ratu persepakbolaan Italia, tetapi di Eropa mereka bukan siapa-siapa. Setidaknya, begitulah jika jumlah gelar bisa jadi takaran reputasi. Juventus bukan Real Madrid, atau Liverpool, atau Bayern Muenchen, atau bahkan Milan. Juventus adalah Juventus, tim yang cuma berhasil menang dua kali meski sudah berhasil melaju ke partai final Liga Champions sampai sembilan kali.
ADVERTISEMENT
Peruntungan Juventus juga tidak cuma buruk di partai final. Pada pertandingan fase gugur biasa pun mereka jarang melakukan sesuatu yang monumental. Ingat, jarang bukan berarti tidak pernah. Sekali dua kali tentu saja mereka pernah, seperti saat menghantam Barcelona tiga gol tanpa balas dua musim silam.
Video
Di Liga Champions musim 2018/19 ini, Juventus terancam tersingkir lebih cepat. Pada leg pertama di Estadio Metropolitano, yang kebetulan merupakan tempat final digelar nanti, Juventus takluk 0-2.
Dalam sejarah, Juventus sama sekali belum pernah mampu melakukan comeback setelah tertinggal dua gol di leg pertama fase gugur Liga Champions. Wajar jika kata-kata 'bersiaplah' menjadi jargon. Secara implisit, para Juventini tak cuma diminta untuk bersiap mendukung tim kesayangannya di Turin, tetapi juga diminta untuk bersiap menerima kenyataan pahit.
ADVERTISEMENT
Bagi Juventus, Liga Champions adalah obsesi. Rekor buruk di partai final tadi adalah musababnya. Deretan kegagalan Juventus tadi bahkan boleh dikategorikan sebagai hal yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa tim seperti Juventus kalah tujuh kali dalam sembilan kesempatan? Jika ini Anda tanyakan kepada para suporter Milan, maka kata 'DNA' niscaya bakal terlontar dari bibir mereka.
Jawaban itu bisa jadi benar. Itulah mengapa, Juventus nekat mendatangkan Cristiano Ronaldo pada awal musim. Rasanya, tak ada pemain yang DNA Liga Champions-nya lebih dominan dibanding Ronaldo. Selama berkarier, sudah lima kali 'Si Kuping Besar' diangkat oleh pria asal Madeira itu. Bayangkan: Gelar Liga Champions milik Ronaldo lebih banyak daripada milik Juventus.
Dengan kedatangan Ronaldo, ekspektasi pun kian menjadi. Terlebih, dalam lima musim terakhir Allegri sudah sukses mengantarkan Juventus ke dua final yang salah satunya berakhir dengan kekalahan di hadapan Real Madrid-nya Ronaldo. Tanpa Ronaldo saja Juventus bisa ke final dua kali. Lewat deduksi sederhana, bisa ditarik hipotesis bhwa dengan diperkuat Ronaldo, Juventus bakal juara.
ADVERTISEMENT
Ronaldo tertunduk lesu usai Juventu dikalahkan Atletico Madrid. Foto: Reuters/Sergio Perez
Celaka dua belas bagi Juventus karena kenyataannya tidak semanis itu. Musim ini Ronaldo tidak bersinar di Liga Champions. Pertanda itu bahkan sudah terlihat sejak pertandingan pertama ketika Ronaldo justru dikartu merah saat Juventus berhadapan dengan Valencia. Selanjutnya, pemain 34 tahun ini cuma bisa mencatatkan 1 gol dan 2 assist dalam 5 pertandingan.
Rupanya, kedatangan Ronaldo tak membuat Juventus lantas jadi penantang serius Liga Champions. Justru, dengan datang ke Juventus bisa jadi Ronaldo kehilangan DNA Liga Champions-nya.
Seretnya keran gol Ronaldo ini tidak bisa dipisahkan dari betapa buruknya penampilan Juventu secara keseluruhan. Penampilan buruk ini tidak cuma terlihat di Liga Champions, sebenarnya, tetapi juga di kompetisi domestik, baik Serie A maupun Coppa Italia. Tersingkirnya Juventus di tangan Atalanta pada ajang Coppa Italia adalah bukti bahwa mereka tak selamanya bisa selamat dengan bermain buruk.
ADVERTISEMENT
Persoalan utama Juventus ada di lini tengah. Bukan sekali dua kali saja 'Si Nyonya Tua' gagal mengontrol permainan karena lini tengah mereka tiba-tiba menghilang. Padahal, yang bercokol di sana adalah nama-nama tenar seperti Miralem Pjanic, Blaise Matuidi, Emre Can, dan Sami Khedira. Persoalan inilah yang membuat Juventus kerapkali begitu merana dan ini pulalah yang membuat DNA Liga Champions Ronaldo tadi mendadak lenyap.
Menghadapi Atletico Madrid di leg pertama lalu, lini tengah yang buruk hampir saja membuat Juventus kalah dengan margin empat gol. Dengan mem-bypass lini tengah Juventus, Atletico sanggup mencatatkan dua peluang emas via serangan balik yang sayangnya gagal dieksekusi sempurna oleh Antoine Griezmann dan Diego Costa.
Leonardo Bonucci (kiri) mengawal Antoine Griezmann. Foto: AFP/Javier Soriano
Lini tengah yang buruk pula kemudian membuat Juventus terus-terusan digempur di 15 menit terakhir pertandingan hingga akhirnya kemasukan dua gol via bola mati. Lalu, lini tengah yang buruk ini juga membuat Juventus tidak mampu mencetak gol tandang yang setidaknya bakal bisa membuat beban mereka berkurang pada leg kedua.
ADVERTISEMENT
Jelang pertandingan leg kedua melawan Atletico, Allegri sudah mengistirahatkan mayoritas pemain kuncinya. Pada laga kontra Udinese di Serie A, hanya kiper Wojciech Szczesny dan Matuidi pemain inti yang bermain. Dengan kata lain, Juventus tidak bisa berargumen soal kebugaran jika nantinya kalah dari Atletico karena semua pemain terbaik seharusnya bisa turun dengan kondisi fit.
Di Italia sana sempat muncul spekulasi bahwa Juventus akan bermain dengan formasi tiga bek saat menjamu Atletico nanti. Akan tetapi, belakangan spekulasi itu mereda. Romeo Agresti, jurnalis Italia yang menjadikan Juventus sebagai spesialisasinya, mewartakan bahwa Allegri kemungkinan besar tetap akan menurunkan pakem andalannya, 4-3-3.
Menurut laporan Agresti, pemain yang biasa diturunkan Juventus akan turun dalam balutan formasi tersebut dengan dua pengecualian. Paulo Dybala diprediksi bakal memulai laga dari bangku cadangan. Kemudian, Alex Sandro pun besar kemungkinan akan disimpan. Sebagai gantinya, di lini depan Allegri akan memainkan Federico Bernardeschi untuk mendampingi Ronaldo dan Mario Mandzukic. Sementara di pos bek kiri, alih-alih Alex Sandro, yang akan turun adalah Leonardo Spinazzola.
ADVERTISEMENT
Komposisi pemain demikian mengindikasikan bahwa Juventus bakal tampil ofensif dan memang sudah seharusnya mereka melakukan itu. Akan tetapi, tampil kelewat ofensif di pertandingan melawan Atletico adalah hal berbahaya karena tim asuhan Diego Pablo Simeone tersebut merupakan spesialis serangan balik. Perlu dicatat, dua peluang dari Costa dan Griezmann tadi berasal dari serangan balik kilat.
Leonardo Spinazzola (kiri) dalam pertandingan menghadapi Udinese. Foto: AFP/Miguel Medina
Pada laga nanti Costa tidak akan bermain karena dia memang tak dibawa Simeone ke Turin. Namun, bukan berarti Juventus bisa tenang-tenang saja. Pasalnya, Atletico punya Alvaro Morata dan penyerang satu ini terbukti sudah bisa menyakiti mantan timnya itu di pertandingan pertama. Morata sukses mencetak gol, meskipun gol tersebut pada akhirnya dianulir karena dia dianggap melanggar Giorgio Chiellini terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Selain keberadaan Morata, Juventus juga harus berhadapan dengan kembalinya Koke Resurreccion di lini tengah serta Diego Godin di lini belakang. Koke adalah bagian krusial dari mesin lini tengah Atletico yang sanggup bertahan dan menyerang sama baiknya. Sementara, Godin tak cuma bek yang tangguh, tetapi juga merupakan salah satu pencetak gol ke gawang Szczesny pada pertemuan pertama.
Dengan demikian, Juventus pun akan menjalani pertandingan yang amat sangat berat. Namun, Atletico sendiri tidak punya rekor terlalu impresif dalam pertandingan tandang di Liga Champions musim ini. Dari tiga laga, mereka menang sekali, kalah sekali, dan main imbang sekali. Artinya, walaupun kecil, Juventus tetap punya kans, tetapi untuk mewujudkan comeback mereka memang harus tampil jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Instruksi untuk tampil lebih bagus ini sudah keluar dari mulut Allegri sendiri. Dalam konferensi pers jelang laga lawan Udinese, dia meminta para pemainnya untuk mengalirkan bola dan bergerak tanpa bola dengan lebih cepat. Jika itu bisa dieksekusi dengan sempurna, bukan tak mungkin comeback itu bisa terjadi. Terlebih, para ultras di tribune selatan yang sebelumnya berniat melakukan boikot sudah berjanji akan berteriak selantang mungkin.
Bagi Juventus, juga Allegri, pertandingan melawan Atletico Madrid ini bisa jadi pertandingan terpenting musim ini. Ini adalah musim di mana mereka secara terang-terangan berani berkata bahwa Liga Champions adalah salah satu target dan kegagalan bakal dilihat sebagai sesuatu yang memalukan. Dengan begini, 'bersiap' adalah kata-kata yang tepat. Apa pun hasilnya nanti, Juventus dan para tifosi-nya harus siap menerima.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan