Kumparan Logo

Juventus vs Inter: Sayap-sayap yang Menggoda Itu

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sayap Juventus & Inter (Foto: AFP/Miguel Medina & Marco Bertorello)
zoom-in-whitePerbesar
Sayap Juventus & Inter (Foto: AFP/Miguel Medina & Marco Bertorello)

Tidak ada jalan yang mudah bagi seorang Antonio Candreva. Meski lahir di Roma, di awal kariernya dulu dia justru harus mencari kesempatan di Terni, sebuah kota di region Umbria yang letaknya tak jauh dari ibu kota. Lalu, meski sudah sejak akhir 2000-an bakat besarnya sudah tercium, baru pada musim 2012/13 dia akhirnya benar-benar menancapkan kukunya sebagai salah satu calciatore terbaik di Italia.

Kesempatan itu didapatkan Candreva di Lazio. Di situ, tak cuma berhasil mengukuhkan diri sebagai salah satu pesepak bola elite, dirinya juga berhasil kembali ke ibu kota. Bersama Biancocelesti, Candreva menjadi pujaan sekaligus kapten. Lebih dari 150 laga dia lakoni dengan berkostum biru langit.

Sebenarnya, Lazio memang bukan klub besar pertama yang diperkuat Candreva. Pada pertengahan musim 2009/10, dirinya pernah dijadikan tumpuan asa bagi Juventus yang tengah terpuruk. Namun, karena memang kondisi Bianconeri saat itu benar-benar mengenaskan, Candreva pun gagal bersinar. Candreva kemudian dikembalikan ke Udinese sebelum dipinjamkan ke Parma serta Cesena yang juga tengah terpuruk. Beruntung, Lazio kemudian datang mengetuk pintu.

Sayangnya, kebersamaan Candreva bersama Lazio itu tidak berakhir manis. Pada musim panas 2016, dengan sudah menyandang status sebagai salah satu pemain bintang di Serie A, Candreva meminta lebih. Dia merasa sudah saatnya pindah ke klub yang lebih besar demi kans juara yang lebih besar pula. Pilihannya kala itu jatuh kepada Internazionale.

Akan tetapi, transfer Candreva ke Inter itu tidak berjalan mulus. Ada sejumlah tarik-ulur yang membuat semua pihak, termasuk Candreva sendiri, kesal. Walau begitu, akhirnya Lazio luluh juga dan sudi menerima mahar 22 juta euro yang disodorkan Inter. Candreva pun resmi bersalin kostum.

Di Inter, rupanya situasi tidak seindah yang dibayangkan Candreva. Musim lalu, Nerazzurri masih belum bisa lepas dari dekadensi yang mereka alami usai ditinggal Jose Mourinho. Walau (secara tak mengejutkan) sanggup menembus tim utama Inter, Candreva pun tak bisa berbuat banyak dalam mengangkat prestasi mereka. Pada akhir musim, Inter cuma bisa finis di urutan ketujuh Serie A dan gagal lolos ke kompetisi antarklub Eropa.

Hal itu, syukurnya, tak lagi terulang pada musim ini. Kini, bulan madu Candreva dan Inter itu baru benar-benar dimulai. Saat ini, di bawah asuhan Luciano Spalletti, Inter duduk di peringkat pertama Serie A. Candreva pun menjadi salah satu aktor krusial di balik keberhasilan ini. 15 pertandingan sudah berjalan dan dirinya tidak tergantikan di sisi kanan penyerangan Inter. Dari sana, tujuh assist sudah disumbangkannya.

Candreva, tentunya, di sini tidak sendiri. Biar bagaimana pun, dia cuma satu orang dan untuk bisa mengangkat tim, dia butuh kontribusi optimal dari pemain-pemain lainnya. Beruntungnya, di sini pasangan Candreva di sayap kiri, Ivan Perisic, juga makin moncer saja.

Perisic, secara kasatmata, bahkan boleh dibilang lebih baik dibandingkan Candreva. Masalahnya, meski sudah mencatatkan tujuh assist, Candreva sama sekali belum mencetak gol. Sementara, Perisic tak cuma sudah menghasilkan enam assist tetapi juga sudah mengemas tujuh gol atas namanya. Selain Mauro Icardi yang sementara ini menjadi pemuncak daftar capocannonieri, kombinasi dua sayap inilah yang tentunya bakal menjadi senjata untuk menghadapi Juventus, Minggu (10/12/2017) dini hari nanti.

Namun, Candreva dan Perisic di laga nanti tidak akan sendiri. Pasalnya, Juventus pun punya dua sayap yang sebenarnya tak kalah berbahaya. Dengan asumsi bahwa Juventus bakal menggunakan formasi standarnya, 4-2-3-1, maka Perisic dan Candreva bakal bersaing ketat dengan Juan Cuadrado dan Douglas Costa untuk menjadi pembeda dari sektor sayap.

Candreva & Perisic di laga kontra Fiorentina. (Foto: AFP/Andreas Solaro)
zoom-in-whitePerbesar
Candreva & Perisic di laga kontra Fiorentina. (Foto: AFP/Andreas Solaro)

Inter dan Juventus sendiri, selain menggunakan formasi serupa, cara bermainnya pun mirip. Mereka memang sama-sama mengandalkan penguasaan bola, tetapi untuk urusan penetrasi, sektor sayap menjadi andalan. Ini bisa terlihat dari catatan statistik yang menunjukkan bagaimana dominannya permaianan sayap kedua tim.

Sejauh ini, 71% serangan Juventus dilancarkan dari kedua sayap. Rinciannya, 35% dari kanan dan 36% dari kiri. Sementara itu, persentase serangan sayap Inter mencapai 72% di mana 34%-nya dilancarkan dari kiri, sedangkan 38% dijalankan dari kanan.

Namun, di situ ada sedikit perbedaan. Adanya selisih yang cukup signifikan di sisi kanan dan kiri Inter itu menunjukkan adanya perbedaan jenis serangan yang mereka lakukan dari sayap. Ini, tentu saja, merupakan konsekuensi dari perbedaan gaya bermain Candreva (kanan) dan Perisic (kiri) sendiri.

Antonio Candreva, dalam tim Inter, adalah bagian tak terpisahkan dari build-up serangan mereka. Sehingga, alih-alih penetrasi dan tusukan seperti Perisic, keunggulan utama pemain 30 tahun ini adalah mengumpan. Ini pun terlihat betul dari unggulnya statistik umpan kunci dan umpan silang dari Candreva. Dalam satu laga, Candreva bisa melepas sampai 3,1 umpan kunci sementara Perisic "hanya" 2,5 kali. Lalu, untuk urusan umpan silang, Candreva malah jauh lebih unggul di mana dirinya mampu membuat 2,5 umpan silang per laga, sedangkan Perisic 0,8 kali.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan "Candreva dan Perisic: Dua Sayap Beda Rupa", ketimpangan inilah yang justru membuat variasi serangan Inter dari sisi sayap lebih kaya. Jika Candreva adalah penyedia, maka Perisic adalah eksekutor yang bisa juga berlaku sebagai penyedia.

Douglas Costa, menjanjikan. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)
zoom-in-whitePerbesar
Douglas Costa, menjanjikan. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)

Hal ini berbeda dengan situasi di Juventus. Pasalnya, Juan Cuadrado dan Douglas Costa adalah dua pemain yang punya gaya permainan mirip. Mereka sama-sama jago mendribel bola, bisa menghadirkan bahaya dalam serangan balik, dan sama-sama ahli dalam melakukan penetrasi. Walau begitu, ada satu perbedaan utama di antara mereka berdua, yakni soal kontribusi dalam pertahanan.

Cuadrado, ketika pertama kali mencuat, adalah seorang wing-back dan ini pulalah yang membuat Antonio Conte dulu begitu kepincut kepadanya. Saat ini, memang dia sudah menjadi pemain yang lebih ofensif, tetapi atribut-atribut defensif itu tentunya tidak bisa menguap begitu saja. Ini terlihat dari unggulnya statistik tekel Cuadrado (1,3 kali per laga) dibanding Costa (0,8 kali).

Sementara itu, Douglas Costa adalah pemain menyerang murni. Keunggulan utama pemain satu ini adalah dribel seperti yang ditunjukkannya pada laga melawan Napoli pekan lalu.

Catatan statistik pemain asal Brasil ini pun mendukung hal tersebut di mana sampai sejauh ini, dia mampu mencatatkan 2,6 dribel per laga. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding milik Cuadrado (1,2 kali), Candreva (1,7 kali), serta Perisic (0,9 kali). Keunggulan yang tidak bisa ditandingi pemain sayap lain inilah yang bakal membuat Costa bisa menjadi pembeda. Plus, eks-pemain Bayern Muenchen ini bisa juga melepas sepakan-sepakan jarak jauh yang jitu.

Akan tetapi, Cuadrado pun tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Pasalnya, selain baru saja menyumbangkan satu gol ke gawang Olympiacos, dirinya pun merupakan penentu kemenangan Juventus atas Inter musim lalu. Sulitnya pemain satu ini diprediksi, di saat-saat tertentu bisa jadi sangat menyebalkan bagi para pendukung Juventus. Namun, di berbagai kesempatan lain, khususnya di laga-laga besar, Cuadrado seringkali mampu menunjukkan kelasnya. Tak heran jika dia masih juga menjadi andalan Juventus.

Cuadrado mencetak gol kemenangan Juventus. (Foto: Reuters/Stringer)
zoom-in-whitePerbesar
Cuadrado mencetak gol kemenangan Juventus. (Foto: Reuters/Stringer)

Nah, meskipun dua sisi sayap ini adalah senjata andalan kedua tim, Juventus sebenarnya punya sedikit keunggulan. Pasalnya, di kubu Inter, kekuatan di sisi sayap ini justru menghasilkan semacam ketergantungan. Hal ini bisa dilihat dari total assist yang ditorehkan oleh Candreva dan Perisic. Dengan 13 assist, mereka menyumbang 62% dari total assist dari seluruh penggawa Nerazzurri.

Hal berbanding terbalik terjadi di kubu Juventus. Sampai saat ini, sudah ada 13 pemain yang telah mengemas assist dengan jumlah total 30. Dari sana, Cuadrado dan Costa "hanya" mencatatkan tujuh atau 23%-nya saja. Artinya, variasi serangan Juventus secara keseluruhan lebih kaya, sementara Inter lebih bergantung pada satu jalur saja.

Adanya perbedaan kontras tersebut jelas tidak bisa dilepaskan dari keunggulan materi yang dimiliki Juventus atas Inter. Tidak terlalu signifikan, memang, tetapi biar bagaimana pun, secara kualitas pemain Bianconeri memang lebih unggul dibanding Nerazzurri. Di kubu Juventus masih ada nama-nama macam Paulo Dybala, Miralem Pjanic, Mario Mandzukic, sampai Gonzalo Higuain. Sementara Inter, selain Candreva dan Perisic, praktis hanya punya Mauro Icardi sebagai "faktor X" lain.

Dari sini, peluang Juventus di atas kertas pun lebih besar. Apalagi, mereka bakal bermain di kandang sendiri. Plus, mereka sedang berada dalam tren apik usai mengalahkan Napoli dan memastikan diri lolos ke 16 besar Liga Champions. Namun, Inter pun bukannya tak punya kesempatan. Musim lalu mereka mampu membuat Juventus keteteran dengan pendekatan agresifnya. Jika itu mampu dikonversi menjadi gol, mencuri poin di Allianz Stadium takkan jadi tugas mustahil.

=====

*) Derby d'Italia antara Juventus dan Internazionale akan tersaji pada Minggu (10/12/2017) dini hari pukul 02.45 WIB di Allianz Stadium, Turin.