Kata Suporter Persib soal Buruknya Ezechiel dan Sebab-sebabnya

Sosok Ezechiel N'Douassel di Persib Bandung bagai dua sisi mata uang. Perjalanannya dihiasi oleh pujian dan cacian.
Datang pada 2017 silam, pria yang acap disapa Eze itu diharapkan dapat jadi juru gedor andalan Persib. Apalagi, ketika itu kondisi Persib sedang terpuruk. Tidak ada pemain yang mampu mengisi posisi penyerang tengah.
Namun, kehadiran Ezechiel kala itu tidak memberikan efek signifikan. Alih-alih menjadi pencetak gol andalan, justru Raphael Maitimo-lah yang mencuat sebagai pencetak gol. Pemain berusia 31 tahun itu hanya mencetak 4 gol dari 14 laga.
Musim 2018 menjadi musim kebangkitan Ezechiel di Persib. Sempat dianggap akan meragukan, di bawah asuhan Roberto Carlos Mario Gomez, ia tumbuh menjadi penyerang tajam. Total, 17 gol mampu ia lesakkan dari 22 laga, membuat dirinya banjir pujian.
Musim ini, cacian dan pujian kembali menghiasi perjalanan Eze. Laga pekan 19 Liga 1 menghadapi Semen Padang jadi titik ketika ia, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ia miliki, menjadi sosok yang paling banyak mendapat perhatian.
***
Pertandingan memasuki menit ke-64. Persib memiliki kesempatan untuk mengungguli Semen Padang. Ezechiel dilanggar Syaiful Anwar di kotak penalti.
'Maung Bandung' pun mendapatkan hadiah penalti akibat dari insiden tersebut. Eze maju sebagai eksekutor. Sekilas, tampak wajahnya tegang. Wajah yang semestinya tidak diperlihatkan oleh sosok yang acap mengambil tendangan penalti.
Akibatnya, ketakutan itu jadi nyata. Ezechiel gagal mengeksekusi penalti. Bersamaan dengan itu, skor 1-1 tidak berubah hingga laga usai.
Selepas pertandingan, seisi stadion menggemakan 'Eze Out'. Melansir situs resmi Viking Persib Club, gema 'Eze Out' di stadion ini merupakan buntut dari tidak maksimalnya penampilan Eze. Ditambah lagi, sosok asal Chad itu gagal mengeksekusi penalti.
"Hampir seisi stadion Si Jalak Harupat menyoraki pemain asal Chad tersebut," tulis Viking Persib Club.
Apa yang terjadi di dalam stadion ini diamini oleh pentolan Flowers City Casual Bandung, Asep Sumarday, salah satu pentolan dari Drunken Troopers, bagian dari Flowers City Casuals Bandung. Menurutnya, penampilan Eze memang tidak maksimal di laga lawan Semen Padang.
"Secara penampilan, Eze memang belum siap untuk diturunkan di pertandingan kemarin (lawan Semen Padang). Beberapa pergerakan yang ia lakukan tidak maksimal, mudh dibaca oleh lawan," ujar Asep saat dihubungi kumparanBOLA, Kamis (19/9/2019).
Ia juga berpendapat bahwa di laga kemarin, memainkan Eze justru mengganggu performa tim yang tengah apik. Ia juga kerap bersikap egois, dan bertabrakan peran dengan Van Kippersluis.
"Memang betul penyerang harus egois, tapi bisa dilihat cara bermainnya benar-benar underperform," ungkap Asep.
"Entah masih ada yang bisa diharapkan lagi atau tidak dari penampilan Ezechiel melihat dari pertandingan dia kemarin. Mungkin juga tipe tandem Eze bukan ada di sosok Kevin (Van Kippersluis)," lanjutnya.
Menilik performa Eze, terutama dalam tiga laga teraktual, ia memang kehilangan sentuhannya. Memang, dewasa ini peran penyerang tengah semakin berkembang. Bukan cuma sebagai pencetak gol, penyerang juga bisa menjadi pembagi bola dan penarik perhatian bek.
Namun, apa yang tampak dari Ezechiel di tiga laga terakhir bersama Persib, ia seperti kehilangan maginya sebagai penyerang. Eze malah terlalu banyak melebar ke sayap. ia tidak berada di kotak penalti, wilayah tempat seharusnya ia beroperasi.
Cukup seringnya Eze bergerak ini dikarenakan ia jarang mendapatkan suplai bola memadai. Alhasil, ia banyak mencari bola ke area sayap dan tengah. Sebagai penyerang, ia justru menjadi sosok yang mengalirkan bola, bukan jadi sosok yang mendapatkan aliran bola.
Oleh karena itu, Persib memutuskan merekrut Kevin van Kippersluis di putaran kedua. Hadirnya sosok asal Belanda itu diharapkan dapat menjadi sosok yang menopang kinerja Eze di lini depan. Pada musim 2018, ia produktif karena ditopang Jonathan Bauman.
Namun, seperti yang diungkapkan Asep, Van Kippersluis dan Eze kerap bertabrakan peran. Teraktual, di laga lawan Semen Padang, keduanya bertabrakan ketika akan menyelesaikan umpan Abdul Aziz pada menit 72.
Dengan segala penampilan buruknya ini, tak heran kritik dialamatkan kepada Eze. Meski begitu, Rene Alberts begitu gigih mempertahankannya di skuat Persib. Alasannya logis: Persib tak memiliki penyerang tengah murni.
Ucapannya Rene Alberts memang benar adanya. Dalam beberapa laga ketika Eze tidak main--teraktual saat PS Tira-Persikabo lawan Persib di Stadion Pakansari--, lini depan Persib kurang menggigit. Pemain Persib seolah bingung ke mana bola akan diarahkan, karena tak ada yang bisa mereka tuju di lini depan.
Dengan segala apa yang terjadi ini, pantaslah Eze, bahkan sejak ia pertama kali datang ke Persib, menghadirkan dua sisi mata uang.
***
Eze memiliki kesempatan besar untuk mengatasi dilema yang terjadi pada dirinya. Asep memberikan saran bagi eks penyerang Hapoel Tel Aviv tersebut agar jadi lebih baik di sisa putaran kedua Liga 1 2019 ini.
"Ke depan, Eze harus lebih mengontrol diri. Jangan selalu berharap mendapat penalti, fokus di setiap pertandingan, juga segera kompak dan mendapatkan chemistry dengan pemain lama dan baru," ujar Asep.
Ya, Eze memang harus lebih konsisten lagi. Ia sebenarnya memiliki kualitas. Namun, inkonsistensi yang ia perlihatkan kerap menutup kualitas yang ia punya. Jika ia bisa konsisten, serta mampu bersinergi dengan pemain lain, maka ia bisa kembali jadi andalan di lini depan Persib.
