Kumparan Logo

Kemesraan Jakmania-Viking Janganlah Cepat Berlalu...

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi damai Bobotoh dan Jakmania. (Foto: Dok. Instagram: @igpersib)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi damai Bobotoh dan Jakmania. (Foto: Dok. Instagram: @igpersib)

Viking adalah Ayi Beutik, Heru Joko, dan Yana Umar. Begitu besar peran ketiganya, mulai mendirikan Viking pada 1993 hingga memimpin para Bobotoh mengawal Persib Bandung di setiap pertandingan.

Bicara persaingan Viking-Jakmania, tiga nama tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari pembahasan dan kerap mendapatkan pertanyaan menyoal bagaimana rivalitas itu dimulai pada awal 2000-an.

Ya, sebelum itu, Viking dan Jakmania bukanlah musuh, meskipun tidak bisa pula disebut teman. Hanya tak ada kebencian yang menghalangi kedua kelompok suporter untuk melakukan perjalanan mendukung tim kesayangannya di laga tandang.

Pada Juli 1995 misalnya. Saat itu, ketiganya menyambangi Stadion Menteng, markas Persija. Belum ada larangan untuk menempuh perjalanan away seperti sekarang.

Kebebasan itu masih berlaku sampai 2000. Setelah pertandingan di Stadion Lebak Bulus saat itu, Jakmania sempat mengantarkan Bobotoh ke bus dan menyanyikan lagu 'Halo-halo Bandung'. Damai terasa.

***

Namun, setelah rivalitas itu didentumkan, sulit untuk melihat biru dan oranye bersanding. Bukan pula berarti tidak ada sama sekali. Masih terselip pesan-pesan perdamaian dari pertemuan keduanya, baik di Bandung maupun Jakarta.

Contoh teraktual adalah pada Juli 2017, ketika rivalitas kembali memakan korban. Insiden kali ini bukan membakar api kebencian, melainkan malah memantik pesan perdamaian dari Jakmania dan Viking.

Cerita bermula ketika Persib menjamu Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu, 22 Juli. Seorang Bobotoh bernama Ricko mengisi salah satu kursi di tribune utara. Babak pertama usai. Ricko, yang merasa lapar, memanfaatkan jeda pertandingan untuk mencari makanan dan melepaskan atribut biru khas Persib.

Di tempat yang sama, terjadi keributan suporter karena ada salah satu orang diduga Jakmania. Ricko menghampirinya dan sang terduga Jakmania bersembunyi di balik badannya.

Tanpa menggunakan atribut, Ricko pun dituduh sebagai Jakmania dan menjadi korban pemukulan. Tak ada yang menggubris upayanya menunjukkan Kartu Tanda Penduduk dan menyerukan, "Aing orang Bandung."

Ricko dilarikan ke Rumah Sakit AMC Cileunyi, kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Santo Yusuf Bandung. Lima hari menjalani perawatan intensif, dia pun mengembuskan napas terakhirnya pada 27 Juli silam.

Kematian Ricko pun mengundang reaksi besar dari Jakmania dan Viking. Kedua suporter bersatu menyalakan 1.000 lilin satu hari setelahnya. Stadion Patriot, rumah Persija musim lalu, menjadi saksi bisu akan rivalitas yang mereda antara kedua suporter.

Turut hadir pentolan Viking, Yana Umar, dan Ketua Umum Jakmania, Ferry Indrasjarief. Di bawah pimpinan keduanya, massa bernyanyi 'Indonesia Pusaka'.

Dear Jakmania dan Bobotoh... (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Dear Jakmania dan Bobotoh... (Foto: Istimewa)

Bahkan, Ferry mengharamkan ujaran-ujaran kebencian dari Jakmania kepada Viking secara khusus atau Bobotoh secara umum. Dia malah sempat menampar seorang suporter Persija saat mengumpat Persib ketika 'Macan Kemayoran' bertemu melawan Bhayangkara FC pada 29 Juli. Peristiwa itu sempat terekam video hingga menjadi perbincangan.

Dampak kematian Ricko memang masif. Di sejumlah titik di Jawa Barat, Purwakarta misalnya, Jakmania dan Viking di regional tersebut menyatakan deklarasi damai.

Selain itu, pesan damai juga diwujudkan melalui sebuah seragam unik. Bagian sebelah kanan berwarna oranye khas Persija, sementara kiri biru Persib. Seragam itu dijual di komplek Stadion Siliwangi. Untuk kali pertama sejak beberapa tahun terakhir, warna Persija menghiasi stadion yang sempat menjadi markas Persib tersebut.

instagram embed

Satu pertanyaan kini atau menjelang pertemuan kedua tim di Jakarta: Apakah benar Jakmania dengan Viking sudah berdamai? Sulit untuk menjawab 'iya'. Pasalnya, deklarasi damai sudah pernah diingkari, mungkin bukan oleh petinggi organisasi, melainkan level akar rumput.

Ambil contoh pada 11 April 2014, ketika Viking dan Jakmania melakukan islah di Mapolres Bogor. Ada enam poin pernyataan yang berkekuatan hukum karena deklarasi turut disaksikan Rycko Almelza Dahniel yang menjabat sebagai Wakapolda Jawa Barat dan Sujarno selaku Wakapolda Metro Jaya saat itu.

Pada Mei tahun yang sama, Jakmania coba menuju Bandung untuk melakukan laga tandang Persija melawan Persib. Polisi memukul mundur mereka di Tol Cikampek.

Keadaan pun memanas dan bahkan ada pihak yang menuding pihak lain telah melanggar salah satu poin islah. Di Tol Cikampek pula, benturan terjadi antara kedua suporter sehingga arus lalu lintas lantas tersendat.

Simak pula pertemuan kedua tim pada Mei 2012 yang bisa menjadi contoh. Di Stadion Gelora Bung Karno, para pemain Persib dan Persija bersatu membentangkan spanduk bertuliskan: The Jakmania - Viking Bersatulah. Pesan tersebut tentu untuk menghapuskan permusuhan di antara keduanya.

Semua terlihat baik-baik saja sampai Maman Abdurrahman, yang kini berseragam Persija, mencetak gol penyeimbang buat Persib pada pengujung laga. Skor menjadi 2-2. Seorang anggota Viking, Rangga Cipta Nugraha, dikeroyok karena melakukan perayaan terlalu girang di tribune. Rangga akhirnya meninggal dunia akibat peristiwa itu.

Segala kemesraan Viking dan Jakmania memang belum tentu mendamaikan konflik di antara keduanya. Sebab, bagian tersulit adalah mendamaikan kedua suporter di seluruh lapisan.

Silakan menggarisbawahi seluruh lapisan. Kelompok pengeroyok Ricko atau Rangga bukanlah dari pejabat teras Viking, melainkan level akar rumput. Bahkan, Ferry sempat merilis surat terbuka untuk membuka dialog damai dengan Viking satu bulan sebelum kejadian wafatnya Ricko. Melalui Yana, Viking sudah merespons positif surat tersebut.

X post embed

Sulit memang meskipun petinggi sudah bersuara. Sebab, seperti kata Ferry, tidak mungkin kalau luka tiba-tiba langsung sembuh. Semua membutuhkan waktu.

Sampai waktu itu tiba, penting pula untuk terus menghadirkan kemesraan kedua suporter.Kalau memang belum bisa mendamaikan, segala kemesraan setidaknya bisa meredam rivalitas panas. Terpenting, jangan ada dulu insiden yang bisa membangkitkan kebencian dan luka lama.

Sepakat?