Bola & Sports
·
16 Agustus 2018 10:04

Ketika Kota Genoa Disatukan Tragedi Jembatan Morandi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ketika Kota Genoa Disatukan Tragedi Jembatan Morandi (311636)
Ilustrasi bersatunya Genoa dan Sampdoria menyusul Tragedi Jembatan Morandi yang menewaskan 39 orang. (Foto: Twitter/@caricaturella)
Jika ada satu hal yang bisa menyatukan dua klub rival dalam sepak bola, hal itu adalah tragedi.
ADVERTISEMENT
Sepak bola memang aneh. Dalam keadaan normal, Anda tidak akan pernah bisa membayangkan kerukunan bisa terjalin antara, misalnya, suporter Liverpool dan Everton. Akan tetapi, di bawah rundungan Tragedi Hillsborough, Kota Liverpool bersatu. Bagi orang-orang Kota Liverpool, Tragedi Hillsborough bukan cuma musibah yang menimpa satu klub saja, melainkan seisi kota.
Hal serupa terjadi pada Real Betis dan Sevilla. Dua klub yang -- seperti Liverpool dan Everton -- lahir dari satu rahim ini sudah saling benci sejak segalanya bermula. Kekerasan dan kecurangan adalah hal lumrah dalam El Gran Derbi Sevillano. Namun, ketika bek kiri Sevilla, Antonio Puerta, wafat pada 2007, Seville bersatu padu. Semua orang, baik Nervionense maupun Betico, bersatu untuk memberi penghormatan terakhir pada Puerta.
ADVERTISEMENT
Kini, kota sepak bola yang sedang disatukan tragedi adalah Genoa. Menyusul ambruknya Jembatan Morandi yang menewaskan 39 orang, dua klub sepak bola dari kota itu, Sampdoria dan Genoa, tengah mengesampingkan rivalitas antara keduanya. Bagi mereka, yang terpenting saat ini adalah menghormati jiwa-jiwa yang berpulang.
Di Italia, Derby della Lanterna -- sebutan untuk derbi antara Genoa dan Sampdoria -- adalah derbi klub sekota terbesar ketiga setelah Derby della Madonnina dan Derby della Capitale. Sebagai kota pelabuhan, Genoa adalah pintu masuk sepak bola ke Italia. Tak heran jika Genoa Cricket and Football Club yang didirikan pada 1893 menjadi klub tertua di Italia
Sampdoria, sementara itu, baru lahir jelang pertengahan abad ke-20 lewat merger sejumlah klub. Namun, jarak usia yang cukup jauh itu tak membuat rivalitas keduanya jadi tak menarik. Pada 2011 lalu, misalnya, ketika Sampdoria terdegradasi ke Serie B, para suporter Genoa pernah menggelar pemakaman -- lengkap dengan peti mati -- di rumah mereka berdua, Stadio Luigi Ferraris.
ADVERTISEMENT
Namun, kali ini situasinya berbeda. Suasana berkabung di Kota Genoa sama sekali bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan olok-olok. Itulah mengapa, Presiden Sampdoria, Massimo Ferrero, meminta kepada pihak penyelenggara Serie A untuk menunda pertandingan pembuka menghadapi Fiorentina. Kebetulan, laga itu rencananya akan dihelat di Luigi Ferraris.
"Hari ini Genoa-ku sedang terluka," kata Ferrero seperti dikutip dari Football-Italia. "Ini adalah rasa sakit yang tak bisa dijelaskan."
Jika Sampdoria meminta penundaan pertandingan, tidak halnya dengan Genoa. Karena pertandingan pembuka musim mereka akan digelar di Milan, tidak ada rencana penundaan apa-apa. Kendati begitu, kelompok suporter garis keras mereka sudah mengumumkan bahwa tidak akan ada perjalanan tandang ke San Siro.
ADVERTISEMENT
"Kami percaya bahwa (berduka atas tragedi yang menimpa kota kami) ini sudah seharusnya lebih penting dari sepak bola. Walau para pemangku kebijakan belum menentukan apakah ada pertandingan atau tidak, tanpa keraguan sedikit pun kami memutuskan untuk tidak menghadiri laga Milan-Genoa," demikian potongan dari pernyataan resmi Asosiasi Ultras Genoa.
Adapun, tragedi kolapsnya jembatan di Genoa itu sebelumnya sudah mengundang ucapan duka cita dari berbagai insan sepak bola, salah satunya Massimilano Allegri. Dalam pernyataan yang dilontarkan lewat Twitter, sang pelatih Juventus menulis, "Jembatan itu adalah jembatan yang sering kulalui ketika hendak pulang ke rumah. Aku berdoa untuk para korban dan anggota keluarga mereka, serta Kota Genoa yang pasti akan bangkit kembali."
ADVERTISEMENT