Ketika 'Si Badak' Menyeruak

Gennaro Gattuso berhasil menuntaskan dendam timnya dari Lazio di pertemuan pertama Serie A musim ini. AC Milan dibawanya menang 2-1 atas 'Si Elang Biru' di San Siro, Senin (29/1/2018) dini hari WIB. Selain efektivitas serangan dari kedua sisi pertahanan lawan, keberhasilan Gattuso dalam mematikan kepakan sayap para pemain Lazio jadi kuncinya.
Spesialisasi dalam Bertahan
Jauh sebelum Gattuso memutuskan untuk menjadi arsitek Milan, tepatnya 2 Mei 2007, dirinya pernah mengejawantahkan kemampuan bertahan apik saat masih turun sebagai pemain.
Pemain yang dijuluki 'Si Badak" itu sukses mengerdilkan peran Cristiano Ronaldo, yang di akhir musim itu menjadi topskorer bagi Manchester United.
Berulang kali Gattuso menggagalkan tarian Roaldo lewat tekel dan body charge yang dilayangkannya. Rossoneri akhirnya menang 3-0 di laga tersebut dan melaju ke babak final Liga Champions 2006/2007 dengan keunggulan agregat 5-3 atas 'Iblis Merah'.
Di balik aksinya yang gemar menyeruduk lawan, Gattuso dibekali dengan kemampuan membaca permaianan yang tak sembarangan.
Hal itulah yang tertuang bersama Milan saat ini. Buktinya, Milan hanya kebobolan tiga kali dalam lima laga ke belakang di semua ajang. Padahal gawang Gianluigi Donnarumma paling tidak kebobolan rata-rata 1,3 gol per laganya di Serie A.
Berbicara soal spesialiasi dalam bertahan, Gattuso memang punya rekam jejak mentereng saat masih membesut Pisa di Serie B musim lalu. Klub yang bermarkas di Arena Garibaldi itu hanya kebobolan 36 gol dari 42 laga --terbaik kedua di Serie B setelah Spezia. Kendati pada akhirnya, Pisa menjadi juru kunci di klasemen akhir!
Ya, mereka menjadi tim dengan produktivitas terminim karena hanya menceploskan 23 gol. So, dengan tim sekaliber Pisa saja Gattuso bisa membangun benteng yang kokoh, apalagi dengan Milan?
Konsistensi Pakem 4-3-3
Gattuso awalnya memakai skema tiga bek saat melakoni laga perdana kontra Benevento. Hasilnya mengecewakan sebab Milan hanya mampu bermain imbang dengan klub yang saat ini masih menjadi juru kunci tersebut.
Kekalahan justru dialami Milan saat menyambangi markas Rijeka di ajang Liga Europa. Penyebabnya? Karena Gattuso kembali menggunkan tiga bek.
Oke, diturunkannya para pemain pelapis bisa jadi alasan logis atas kekalahan Milan dari klub asal Kroasia itu. Namun, Gattuso sudah seharusnya mengerti bila skuat utamanya saja tak mampu memetik tiga angka dari Benevento yang di atas kertas bisa mereka kalahkan.
Skema tiga bek bukanlah identitas Milan, setidaknya hingga akhir musim lalu. Pakem 4-4-2 jadi andalan Sinisa Mihajlovic dua edisi lalu sementara rezim Vicenzo Montella rutin mengaplikasi format 4-3-3 di edisi 2016/2017.
Namun, Montella mengubah pakem andalannya itu di musim ini. Adalah kedatangan pemain-pemain belakang macam Ricardo Rodriguez, Andrea Conti, Mateo Musacchio, dan Leonardo Bonucci.
Padahal skema tiga bek tidak bisa asal pakai. Selain membutuhkan kejelian dari pelatih, diperlukan juga skuat yang mumpuni untuk menerapkan sistem tersebut. Mulai dari bek sentral maupun wing-back yang jadi kunci keseimbangan tim.

Gattuso menyadari hal itu dan kemudian menurunkan pakem 4-3-3 saat berhadapan dengan Bologna di giornata-16. Alhasil, kemenangan perdana berhasil dipetiknya.
Bila ditarik ke belakang, Formasi dasar 4-3-3 merupakan andalan Gattuso. Saat mengarsiteki Pisa, dirinya mengandalkan tiga gelandang defensif untuk meng-cover area tengah.
Francesco Di Tacchio jadi pemain yang dipercaya untuk menjaga kedalaman. Sementara Roberto Zammarini, Santiago Colombatto, dan Luca Verna diplot secara bergantian untuk mengisi dua slot di tengah.
Di antara keempat gelandang itu, hanya Verna yang berposisi alami sebagai gelandang serang. Itulah mengapa lini pertahanan Pisa menjadi kokoh. Kendati begitu, Milan bukannya tanpa masalah. Para penyerang utama Rossoneri tampil di bawah harapan, dalam hal ini Andre Silva.
Nikola Kalinic pun juga demikian --meski sedikit lebih berguna dengan pengalamannya dua musim bersama Fiorentina. Justru nama Patrick Cutrone yang mencuat karena sukses mencatatkan 3 gol di Serie A.
Namun, kontribusi ketiganya yang baru menghasilkan total 7 gol tetap saja belum cukup. Bahkan, nyaris sepertiga dari torehan Ciro Immobile yang jadi topskorer sementara.
Itulah mengapa Gattuso kemudian memanfaatkan efektivitas lini keduanya lewat sisi sayap. Karena kreativitas Suso, Giacomo Bonaventura, dan Hakan Chalhanoglu jadi kunci untuk mengatasi miskinnya produktivitas mereka.
Belum lagi dengan Franck Kessie yang mahir untuk memanfaatkan peluang dari lini kedua. Dan format 4-3-3 adalah jawaban ideal untuk memaksimalkan komposisi skuat Milan saat ini.
