Ketika Tim-tim yang Dilabeli 'Siluman' Menginvasi Papan Atas Liga 1

Tampaknya, ada hal "aneh" dari klasemen sementara Liga 1 2019. Tak percaya?
Coba simak baik-baik peringkat satu sampai empat: Bali United, PS Tira Persikabo, Bhayangkara FC, dan Madura United. Sepintas memang tak ada yang salah, tetapi bila dicermati lebih dalam, ada makna tersirat dari eksistensi keempat tim tersebut.
Hingga pekan keenam Liga 1, Bali United masih kokoh di puncak klasemen berbakal 16 poin dari lima kali menang, sekali seri, dan tanpa terkalahkan. Dan, bukan Persija atau PSM Makassar, melainkan Tira Persikabo yang bertengger di posisi kedua dengan 11 angka.
Sementara, Bhayangkara FC berada di posisi ketiga dengan raihan 11 poin, tetapi kalah selisih gol dari Tira Persikabo. Di posisi keempat, Madura United mengoleksi 10 angka dari empat laga.
Lantas, makna apa yang tersimpan di balik keberadaan empat tim tersebut?
Terhitung pada satu dekade terakhir, banyak perubahan dalam kompetisi Tanah Air. Mulai dari format, nama, hingga klub peserta. Khusus untuk klub, pergantian pengelola, nama, logo, dan home base tampak begitu marak, meski masih menimbulkan perdebatan mengenai keabsahannya hingga kini.
Bali United mengakuisisi Persisam Putra Samarinda pada 2015. Klub yang awalnya bermukim di Samarinda itu diboyong menuju Bali seiring dengan pergantian pengelola. Begitu pula dengan PS Tira yang memutuskan untuk merger dengan Persikabo pada tahun ini.
Sedangkan, Madura United mengakuisisi Persipasi Bandung Raya pada 2016. Awalnya bernama Persepam Madura United, sebelum mengukuhkan diri sebagai Madura United pada musim lalu.
Khusus untuk Bhayangkara FC, ada sejarah panjang di balik kelahiran mereka pada 2017. Terbentuknya klub milik Kepolisian RI ini tak lepas dari konflik yang menghampiri Persebaya sehingga terbelah menjadi dua.
Persebaya 1927 yang telah lebih dulu bermain di Indonesia Premier League (IPL), sementara Persebaya Surabaya yang berlaga di Divisi Utama pada 2013 dan promosi ke ISL semusim berikutnya. Akan tetapi, pada 2015, kompetisi dihentikan dengan Persebaya dianggap tak memenuhi aspek legalitas.
Karena hal itu, Persebaya kemudian mengubah namanya menjadi Persebaya Surabaya United, kemudian berubah lagi menjadi Bonek FC, sebelum kembali diubah menjadi Surabaya United. Hingga akhirnya, Surabaya United merger dengan PS Polri untuk berlaga di Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 dengan mengusung nama Bhayangkara FC.
Atas dasar sejarah instan itu, keempat klub tersebut pun kini mendapat label ‘siluman’. Di Liga 1, masih terdapat Perseru Badak Lampung FC, Borneo FC, dan Arema FC yang punya alur hidup serupa.
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), siluman diartikan sebagai makhluk halus yang sering menampakkan diri sebagai manusia atau binatang. Bali United dan kolega dianggap mengambil jalan pintas dengan mengubah wujud klub lama menjadi baru. Padahal, bagi klub-klub yang baru berdiri, lazimnya harus berjuang dari level terbawah kompetisi atau Liga 3, bukan Liga 2 apalagi Liga 1.
Namun, para klub siluman itu tampaknya enggan mengambil pusing anggapan itu. Ditengah cercaan, mereka terus berbenah. Eksistensi keempat klub itu menginvasi papan atas Liga 1 musim ini juga sejatinya tak begitu mengherankan. Prestasi di atas lapangan hijau berbanding lurus dengan tata kelola mereka.
Bali United bisa menjadi contoh konkret bagaimana klub Indonesia akan maju bila dikelola secara profesional. Lihatlah bagaimana Stadion Kapten I Wayan Dipta mereka permak. Setelah mengambil alih pengelolaan, stadion yang awalnya terlihat kusam itu kini menjadi jauh lebih berwarna dengan berbagai fasilitas. Puluhan sponsor berhimpitan di jersi klub.
Tak hanya itu, ‘Serdadu Tridatu’ bahkan tercatat menjadi tim Asia Tenggara pertama yang melantai di bursa. Sebuah langkah terobosan yang bahkan tak mampu dilakukan klub-klub yang mengklaim punya sejarah panjang itu.
Mulai tahun ini, Madura United juga telah mengambil alih pengelolaan Stadion Gelora Ratu Pamelingan selama lima tahun ke depan. Sementara, Badak Lampung FC susah payah merenovasi Stadion Sumpah Pemuda yang berujung kepada apresiasi banyak pihak.
Memang, di satu sisi harus diakui, klub-klub hasil jual-beli lisensi meninggalkan bercak noda. Namun, mesti diakui pula, para' siluman' itu tampak punya niat tebal untuk menjadikan dirinya sebagai klub profesional.
Pada musim lalu, 10 klub Liga 1 mendapatkan lisensi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dengan empat klub di antaranya adalah mereka yang dijuluki sebagai 'siluman'. Artinya, suka tak suka, level mereka sudah diakui hingga tingkat Asia.
Eksistensi para 'siluman' itu pula yang seharusnya menjadi cambuk bagi klub-klub tradisional Tanah Air, yang sempat di 'nina-bobokan' dengan kucuran APBD sebelumnya. Karena, hanya dengan pengelolaan profesional, klub tersebut akan bertahan di tengah rimba sepak bola nasional.
