Kumparan Logo

Kini, Roda Nasib Lingard Sedang Berada di Atas

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jesse Lingard menendang bola. (Foto: Reuters/Darren Staples )
zoom-in-whitePerbesar
Jesse Lingard menendang bola. (Foto: Reuters/Darren Staples )

Jesse Lingard mungkin tak bakal mengira nasibnya sekarang jauh membaik.

Pada beberapa musim terakhir, nama Lingard tak bisa dijauhkan oleh bangku cadangan Manchester United. Sebaik apa pun penampilannya hari ini, hampir dipastikan jika pertandingan berikutnya tak akan ia mulai dari menit pertama.

Lingard memperkuat United sejak 1999 lalu. Ia telah melewati beragam kelompok umur dan menjadi satu dari sekian pemain United saat ini yang benar-benar dididik oleh sistem pendidikan akademi "Setan Merah".

Hal tersebut seharusnya membuat Lingard diberi kesempatan untuk membuktikan diri. Namun, yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Ia kalah bersaing dengan Nani dan Ryan Giggs, serta kurang dipercaya jika dihadapkan dengan Anthony Martial dan Memphis Depay.

Alasan memberikan Lingard kesempatan yang minim sebenarnya cukup banyak. Menurut EPLIndex, statistiknya ketika bermain 90 menit penuh tak pernah memuaskan. Berbeda dengan statistiknya ketika berangkat dari bangku cadangan atau jika diganti saat laga berlangsung.

embed from external kumparan

Menurut Rob Dawson dari ESPNFC lain lagi. Menurutnya, ketimbang pemain yang lain, posisi terbaik Lingard masih belum diketahui. Ia pernah bermain secara reguler sebagai gelandang sayap kanan, tapi ketika bermain sebagai winger kiri, penampilannya tak juga buruk.

Keuntungan yang bisa didapatkan dari Lingard adalah atribut menyerangnya. Menurut Dawson, Lingard memiliki dua atribut penting untuk mengacaukan pertahanan lawan: kecepatan dan pergerakan tanpa bola yang tak diduga-duga.

Kemampuan tersebut diberdayakan oleh Jose Mourinho untuk United musim ini. Keinginan Mourinho untuk memaksimalkan peran lini kedua sebagai senjata rahasia terwujud berkat kemampuan Lingard.

Lingard mulai memberikan efek besar ketika dipercaya tampil pada laga Piala Liga menghadapi Swansea City, Oktober 2017 lalu. Bermain sebagai gelandang serang tengah, ia menjadi senjata rahasia di balik lini depan United.

Di sisi lain, dalam dua pertandingan terakhir United di Premier League, Lingard menunjukkan potensi untuk mengacaukan pertahanan lawan. Kemampuan membaca pergerakan dan mencari celah di lini belakang lawan membuatnya sulit dihentikan.

Lingard bermain selayaknya penyerang lubang, kendati ia dimainkan sejajar dengan dua gelandang sayap. Dengan peran tersebut, Lingard tak perlu banyak membawa bola dan bisa melakukan pergerakan tanpa bola yang mengagetkan lawan.

Dengan peran tersebut, Lingard bergerak dinamis tanpa terpaku oleh apa yang dilakukan oleh Lukaku di posisi yang lebih di depan. Kebebasan ini tak hanya membuat lawan kesulitan mengantisipasi, tapi juga membuat serangan United semakin variatif.

Dari laga tersebut, Lingard semakin tak mampu dihentikan. Bermain sebagai pemain gelandang serang tengah, ia tak hanya mampu mengkreasikan peluang untuk pemain lain, tapi juga mencetak gol.

Dalam tujuh pertandingan terakhir di Premier League, Lingard membukukan enam gol dan tiga assist. Catatan tersebut lebih banyak ketimbang apa yang ia lakukan pada dua musim sebelumnya, di mana ia membukukan total lima gol.

embed from external kumparan

Ketajaman Lingard sendiri hadir bukan tanpa sebab. Di balik ketajaman Lingard, ada keinginan Mourinho untuk menyatukan Lukaku dengan gelandang serang yang liat, macam Lingard, Martial, dan Marcus Rashford.

Masalahnya, pola tersebut tampak berhasil di United saat ini. Salah satunya alasannya adalah Lukaku yang menunjukkan tren penurunan. Ketajaman yang ditunjukkan oleh pemain asal Belgia ini mendadak mandek ketika jadwal Premier League sedang padat-padatnya.

Pada akhirnya, Lukaku diberi pekerjaan tambahan untuk menarik perhatian bek lawan. Dari sana, tiga gelandang serang United masuk ke pertahanan lawan untuk mengkreasikan peluang atau pun mencetak gol.

Perubahan gaya bermain dan penampilan Lukaku yang memburuk, membuat potensi Lingard sepenuhnya keluar. Meski kadang ia kerap menampilkan peran yang tak maksimal, namun setidaknya Lingard bisa menutup cela yang diperlihatkan oleh lini depan United.

Menurut Squawka, sejak dimainkan sebagai starter, Lingard mencatatkan dua assist dan delapan umpan kunci. Selain itu, akurasi percobaannya juga mencapai 67%. Catatan-catatan di atas jauh lebih banyak dari penampilannya ketika dimainkan sebagai pemain sayap.

Bagi Mourinho, penampilan apik yang diperlihatkan oleh Lingard saat ini ibarat sebuah berkah yang tak diperkirakan. Bagaimanapun, ia wajib menjaga konsistensinya, selagi Lukaku tengah buruk-buruknya.