Kisah Cha Bum-kun: Dari Bangku Cadangan hingga Legenda Korea Selatan di Eropa

Jauh sebelum kehadiran Park Ji-sung dan Son Heung-min, Timnas Korea Selatan sudah memiliki talenta berkelas dalam diri Cha Bum-kun. Namun sebelum jadi legenda, ia pernah menjadi penghangat bangku cadangan.
Cha Bum-kun menghabiskan hampir sebagian besar karier sepak bolanya di dua klub Bundesliga, Eintracht Frankfurt dan Bayer Leverkusen. Namanya mungkin jarang dikenal karena legenda tersukses Korea Selatan ini aktif bermain pada era 1970an hingga akhir 1980an.
Penampilan ciamik Cha Bum-kun pada kualifikasi Piala Dunia 1978, termasuk saat menorehkan hattrick hanya dalam waktu lima menit, membawa rasa penasaran Eintracht Frankfurt untuk terbang ke Korea Selatan.
Klub Bundesliga yang sejatinya pergi ke Korsel untuk mengikuti kompetisi, secara tidak sengaja bak menemukan permata ketika melihat penampilan Cha Bum.
Asisten Manajer Frankfurt, Dieter Schulte melihat potensi Cha dan mendesak Federasi Sepakbola Korea Selatan membebaskan Cha yang saat itu sedang mengikuti wajib militer, untuk mengajaknya seleksi di Jerman.
Sayangnya untuk mengejar mimpi bermain di Eropa, Cha Bum harus sedikit melanggar aturan. Ia rela disanksi tidak akan dipanggil timnas karena meninggalkan wajib militer sebelum waktunya.
Meski Cha menjalani seleksi di Eintracht Frankfurt, namun nyatanya klub ini kecolongan karena ditikung oleh klub Jerman lain, Darmstadt. Akhirnya pada musim 1978-1979, Cha Bum-kun resmi bermain di Liga Jerman bersama Darmstadt.
Sayang, pengalaman pertama Bum-kun di Benua Biru tidak berjalan sempurna, Dia tidak banyak mendapatkan kesempatan merumput sepanjang musim kompetisi 1978/1979. Ia hanya menjadi penghangat bangku cadangan.
Cha Bum menjadi pemain Korsel pertama yang bermain untuk liga teratas Jerman saat diturunkan menghadapi Bochum. Namun, itu adalah satu-satunya pertandingan Cha dengan Darmstadt sebelum akhirnya ia dipanggil secara paksa oleh negara untuk melanjutkan tugas wajib militer.
Mimpi seakan sirna bagi Cha Bum. Namun Eintracht masih penasaran dengan pemain Asia yang satu ini. Mereka pun menunggu Cha menyelesaikan tugas negaranya dan menerimanya kembali dengan tangan terbuka.
Klub asal Frankfurt ini pun menuai hasilnya. Sekembalinya ke Bundesliga, Cha segera mendapatkan tempat di hati para suporter. Dia mencetak gol masing-masing di tiga pertandingan awalnya bersama Eintracht ketika melawan Stuttgart, Braunschweig, dan Bayer Leverkusen.
Cha Bum-kun juga menciptakan chemistry dengan Bernd Holzenbein dan mulai menjadi duet maut lini penyerangan Eintracht Frankfurt. Tscha Bum, adalah julukan yang Cha dapatkan dari German Kicker Magazine karena tendangannya yang luar biasa.
Cha menjadikan penantian Eintracht tidak sia-sia ketika ia berhasil mengantarkan timnya memenangkan Piala UEFA musim 1979-1980. Cha Bum memang tidak mencetak gol pada pertandingan final, namun ia dianugerahi penghargaan Man Of The Match pada final tersebut.
Prestasi Cha pada musim itu menjadikannya sebagai pemain dengan bayaran tertinggi ketiga di Jerman. Prestasi demi prestasi ia torehkan selama bermain di Jerman. Cha Bum-kun bahkan pernah disebut sebagai pemain tak terhentikan oleh Sir Alex Ferguson ketika tim yang ia latih saat itu, Aberdeen, dikalahkan Eintracht Frankfurt.
"Tscha Bum adalah masalah yang tidak bisa kami pecahkan," kata Alex Ferguson ketika Aberdeen kalah di Piala UEFA 1979-1980.
Pemain Asia dengan usia yang masih muda, pengalaman bermain di Eropa pun masih belum ada. Namun dalam musim pertamanya, Cha Bum mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap prestasi klub. Ini yang membuat nama Cha Bum-kun cukup disegani di kancah sepakbola Eropa.
Musim selanjutnya, giliran gelar DFB-Pokal pada musim 1980-1981 yang Cha Bum berikan untuk Eintracht Frankfurt. Padahal musim itu, Cha sempat dirundung masalah cedera lutut yang hampir menyudahi kariernya lebih awal.
Namun, pria yang sempat mendapat label pemain terbaik sepanjang sejarah Asia ini membuktikannya dengan menyumbang satu gol pada laga final DFB-Pokal menghadapi Kaiserslautern dengan skor akhir 3-1.
Tscha Bum meneruskan kebersamaan empat musim bersama Eintracht dengan gol-golnya yang sulit dihentikan. Krisis keuangan yang dialami Eintracht Frankfurt membuat mau tak mau klub ini harus menjual pemain bintangnya.
Bayer Leverkusen harus bersyukur karena pemain paling konsisten di Bundesliga ini memilih mereka sebagai klub destinasi berikutnya pada 1983.
Cha Bum mulai menemukan medan yang cukup terjal di Leverkusen. Musim pertamanya agak tak sesuai harapan karena hanya mencetak 12 gol dalam semusim.
Namun pada 1985-1986, Cha turut andil ketika Leverkusen finis di urutan enam yang membuat klub ini untuk pertama kalinya lolos ke Piala UEFA. Prestasi terbaiknya adalah ketika membawa Bayer Leverkusen juara Piala UEFA pada 1987-1988.
Di kancah tim nasional, Cha tentu saja merupakan striker andalan pada masanya. Jasa terbesar yang Cha Bum-kun berikan untuk negara adalah medali emas Asian Games 1978.
Keputusan mengejutkan sempat diambil pemain ini ketika mengumumkan pensiun dari timnas pada 1986. Sebelumnya, Cha turut andil meloloskan Korea Selatan ke Piala Dunia 1986. Namun, di situ Korea finis di urutan buncit Grup A dengan sama sekali tak pernah mengemas kemenangan. Sejak berkiprah di timnas mulai 1972 hingga 1978, Cha telah bermain 136 kali dan mencetak sebanyak 58 gol.
Jasa Cha Bum mendapat penghormatan setinggi-tingginya dari negara. Striker ini ternyata sempat ditawarkan untuk mengubah kewarganegaraan Korea miliknya menjadi Jerman. Dia juga dijanjikan akan mendapat tempat di ujung tombak Der Panzer. Namun, tawaran itu ia tolak dengan alasan ingin memajukan sepakbola Korea Selatan.
Janji ini ia tepati usai pensiun di Bayer Leverkusen pada 1989, ayah dari pesepak bola Cha Du-ri ini mendirikan youth football clinics. Akademi ini ia buat untuk mengembangkan bakat pemain-pemain muda Korea Selatan.
Kiprah Cha Bum-kun tak sepenuhnya milik Korea Selatan saja. Kisah perantauannya harus bisa jadi inspirasi bagi para pemain muda Asia. Apalagi soal loyalitasnya kepada negara saat Cha Bum menghadapi dilema wajib militer dan juga godaan untuk berpindah kewarganegaraan. Sudah waktunya Asia tak cuma menunjukkan taring di industri hiburan saja, melainkan sepak bola juga.
Menurut catatan Transfermarkt, Cha Bum-kun kini bekerja sebagai pengembang hubungan internasional di Eintracht Frankfurt. Ia berhasil mencetak 118 gol dari 368 laga di level klub.
****
