Kumparan Logo

Kisah Dejan Savicevic, Eks Gelandang AC Milan yang Terlupakan

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan pemain AC Milan, Dejan Savicevic. Foto: PATRICK HERTZOG / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Mantan pemain AC Milan, Dejan Savicevic. Foto: PATRICK HERTZOG / AFP

Liga Italia kerap menghadirkan pemain-pemain legendaris. AC Milan sendiri menelurkan banyak nama. Akan tetapi, Dejan Savicevic adalah salah satu yang tak begitu diingat.

Savicevic lahir pada 15 September 1966 di Montenegro. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan dengan sepak bola dan bermain di jalanan saban hari bersama teman-temannya.

Ia pertama kali bergabung dengan tim junior FK Boducnost sejak 1983. Ia mendapatkan beasiswa selama empat tahun di klub tersebut dan baru bermain dengan tim utama pada 5 Oktober 1983.

Tak banyak cerita yang terjadi di FK Boducnost. Savicevic kemudian pindah ke Red Star Belgrade pada Juli 1988 dan di klub ini namanya mulai naik daun.

Dejan Savicevic berjersi AC Milan. Foto: Getty Images

Tak lama berselang setelah bergabung dengan Red Star Belgrade, Savicevic kemudian harus menjalani wajib militer dan bergabung dengan Yugoslavia People's Army.

Keikutsertaannya itu membuat Savicevic harus absen sepanjang musim 1988/89. Debutnya untuk Red Star Belgrade baru dimulai pada September 1988 di Liga Champions.

Selama masa tugasnya di Red Star Belgrade, Savicevic tampil dalam 22 pertandingan dengan catatan sembilan gol dan dua assist. Terdengar sedikit namun ia membantu klub meraih banyak trofi.

Savicevic membantu Red Star Belgrade memenangi tiga trofi liga beruntun sejak musim 1989/90 hingga 1991/92, memenangi dua Piala Liga, dan Liga Champions dan Intercontinental pada 1991.

Kesuksesannya itu membawa AC Milan tertarik untuk memboyong Savicevic. Akan tetapi, semuanya tak berjalan mulus di ibu kota Italia tersebut.

Saat kepindahannya ke San Siro pada 1992, Liga Italia saat itu memiliki peraturan di mana hanya boleh ada tiga pemain asing yang diperbolehkan dalam satu skuad di tiap matchday.

Mantan pemain AC Milan, Dejan Savicevic. Foto: PASCAL PAVANI/AFP

Sementara itu, Skuad Rossoneri sudah penuh dengan kualitas seperti Jean-Pierre Papin, Zvonimir Boban, Ruud Gullit, van Basten dan Frank Rijkaard yang masih bisa dimainkan, jadi waktu bermain Savićević sangat terbatas.

Beberapa orang menganggapnya sebagai kurangnya etos kerja, inkonsistensi, tidak cocok dengan taktik Fabio Capello dan sifatnya yang terkadang bandel. Sementara yang lain menganggapnya sekadar kurang beruntung.

Akan tetapi, yang jelas adalah bahwa dia bisa melakukan banyak hal dalam satu pertandingan. Sederhananya, Savicevic adalah pemain eksplosif yang suka melakukan sesuatu dengan caranya tersendiri.

Savicevic cukup kesulitan di musim pertamanya di mana ia hanya tampil 10 kali. Namun, ia segera menjadi reguler ketika Rijkaard pergi dan Van Basten dilanda cedera.

Salah satu momen ikoniknya adalah ketika Savicevic membuat gol lob indah di malam final Liga Champions 1994 melawan Barcelona. Ia membantu kemenangan telak 4-0 Milan.

Dalam hal kemampuan, Savicevic tak diragukan lagi adalah seorang legenda, seseorang yang bisa menghidupkan permainan dengan sentuhan dan dribel indah.

Pergerakan kakinya lincah. Ia bak menari di atas rumput hijau dan tentu menghantui para pemain bertahan pada masanya. Cara Savicevic menghindari tekel adalah salah satu suguhan yang menarik.

embed from external kumparan

Hal lain yang mengagumkan dari permainannya adalah bagaimana cara ia mengarang gaya dribel miliknya. Itu mirip dengan teknik Laudrup bersaudara, tetapi memiliki kekuatan sendiri.

Savicevic bisa menembus pertahanan paling ketat dengan menggiring bola zig-zag. Kakinya bergerak cepat dan dalam sekejap mata, ia lolos, tidak dapat dijegal, mengelak, dan sangat gesit.

Ia bertahan di San Siro hingga 1998, bermain dalam 144 pertandingan dan mencetak 34 gol. Ia membantu Milan menjuarai tiga Liga Italia (1992/93, 1993/94, dan 1995/96) dan Liga Champions 1994.

Savicevic sempat kembali ke Red Star Belgrade sebelum pindah ke Rapid Vienna di mana ia memainkan 54 laga dan mencetak 20 gol lalu gantung sepatu pada 2001.

Beberapa orang menggolongkan Savicevic setara dengan Michael Ludrup, Michel Platini, dan Marco van Basten. Akan tetapi, banyak yang tidak ingat soalnya, terlebih lagi masa baktinya di AC Milan.