Kisah Gael Kakuta, Eks Golden Boy yang Bikin Chelsea Dihukum FIFA
·waktu baca 4 menit

Gael Kakuta pernah membuat Chelsea harus berurusan dengan FIFA. Pesepak bola yang pernah mendapatkan predikat Golden Boy itu kini sudah berganti banyak tim atau nomaden.
Mengutip Goal International, Michael Beale, mantan pelatih akademi Chelsea dan sekarang menjadi asisten manajer Glasgow Rangers, mengingat kembali waktunya di Stamford Bridge.
Beale mengatakan jika selama di Chelsea, ada banyak talenta yang berhasil ia tumbuhkan potensinya. Namun, ia menyesal banyak dari mereka yang tidak mampu menjadi pemain inti The Blues.
“Saat saya menjadi pelatih di akademi, saya melihat pemain brilian seperti Jeffrey Bruma, Gael Kakuta dan Patrick van Aanholt. Selama bertahun-tahun, Chelsea selalu memiliki pemain akademi yang sangat bagus. Namun saat mereka dipromosikan, banyak juga yang tidak diberi kesempatan,” ucap Beale.
Dari talenta-talenta yang disebutkan Beale di atas, tidak ada yang lebih disorot selain Kakuta, pemain yang mula-mula mendapat ancaman larangan transfer oleh Chelsea tetapi akhirnya dibuang.
Gael Kakuta menjalani karier yang nomaden, meskipun baru berusia 30 tahun saat ini. Setelah dilepas Chelsea, ia sempat dilatih oleh beberapa pelatih berbakat seperti Clarence Seedorf, Manuel Pellegrini, hingga Peter Bosz.
Belum lagi kariernya pada Liga Super China di bawah asuhan Owen Coyle. Kakuta telah bermain di beberapa liga elite Eropa seperti Premier League, Ligue 1, Eredivisie, Serie A dan La Liga.
Kakuta tidak pernah kekurangan ambisi dan harapan. Pada tahun 2017, saat bermain untuk Amiens, ia mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki harapan besar untuk mewakili tim yang memiliki reputasi yang sama dengan Chelsea.
"Saya bermain dengan senyuman. Anda perlu merasa dicintai dan rekan satu tim saya banyak membantu saya. Ketika saya pergi ke China, semua orang mengatakan 'Gael Kakuta sudah berakhir', tetapi tidak, tujuan saya adalah bergabung dengan klub hebat di Eropa,” ucap pemain asal Kongo tersebut.
Gaung besar terhadap nama Kakuta bisa jadi karena riwayat transfernya ke Chelsea saat berusia 15 tahun pada tahun 2007. Sebab dua tahun kemudian, ia dilarang bermain selama empat bulan oleh FIFA dan didenda 625 ribu pounds (Rp 12,4 miliar) karena melanggar kontraknya dengan Lens.
Di sisi lain, Chelsea diberi larangan melakukan transaksi di dua bursa transfer. Meski begitu, semua hukuman kemudian dicabut oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga.
Gael Kakuta sendiri berhasil tampil mengesankan di tim muda Chelsea. Ia mulai berlatih dengan tim utama pada 2008/09. Akan tetapi pada Februari 2009, ia mengalami patah tulang pergelangan kaki ganda pada pertandingan persahabatan tim cadangan melawan Glenn Hoddle Academy dan membuatnya absen enam bulan.
Cedera parah selalu menjadi hal yang sangat sulit untuk diatasi oleh pemain muda. Kakuta menjadi salah satu korbannya. Ia tidak lagi memiliki momentum dan namanya juga sudah terlupakan.
Padahal pada tahun 2010, Kakuta pernah masuk nominasi Golden Boy, bersama dengan Romelu Lukaku, Mario Balotelli dan nama-nama beken lainnya.
Kakuta tampil di tim senior Chelsea pada 2009/10, membuat debutnya di Liga Inggris dan Liga Champions. Kendati demikian, ia mengalami mimpi buruk seperti yang telah menimpa banyak pemain muda The Blues lainnya, yakni dipinjamkan.
Fulham dan Bolton memberi Kakuta peluang untuk bermain di Liga Inggris secara reguler, sebelum akhirnya manajer Dijon membawanya ke Vitesse, Lazio, dan Rayo Vallecano.
Penampilannya yang paling konsisten terjadi saat menjalani tugas pinjaman terakhirnya di Vallecano. Kala itu, Kakuta menjadi pemain reguler di tim utama dan membantu klub meraih posisi ke-11 di La Liga musim 2014/15.
Ini membuatnya direkrut secara gratis oleh Sevilla setelah kontraknya dengan Chelsea berakhir pada 2015. Ia baru berusia 23 tahun saat itu, masih ada kesempatan untuk menyadarkan banyak orang untuk melihat potensinya di klub besar Eropa.
Namun, inkonsistensi dan kurangnya waktu bermain terus mengganggu Kakuta di Sevilla. Ia hanya dua kali tampil di liga. Kakuta pun menjadi salah satu pemain di Eropa yang terpikat untuk berkiprah ke Liga China.
Satu musim dihabiskan Kakuta bersama Hebei China Fortune. Setelah itu, ia hijrah ke klub semenjana di liga-liga besar Eropa seperti Deportivo La Coruna, Amiens, Rayo Vallecano, Amiens sekali lagi dan sekarang dipinjamkan ke Lens.
Hanya sesekali, Kakuta pernah mengulang momen kecemerlangan yang mengingatkan kita semua akan bakat mudanya dulu. Misalnya gol yang menakjubkan sang pemain untuk Amiens saat bermain imbang 4-4 dengan PSG musim lalu.
Pada 2020/21, Kakuta memulai debutnya dengan ciamik untuk Lens, dengan menorehkan lima gol dalam 11 penampilan Ligue 1.
Seperti yang dikatakan Beale, Kakuta masih bisa berkembang sebagai jebolan pemain muda Chelsea di zaman modern. Masih ada waktu untuk membuktikan diri, dan itulah yang sepertinya akan dilakukan Kakuta musim ini.
Menurut catatan Transfermarkt, Kakuta kini direkrut secara permanen oleh Lens. Ia diikat kontrak selama dua tahun. Secara keseluruhan, Kakuta telah mencetak 47 gol dan 36 assist dari 298 laga di semua kompetisi pada level klub.
Kakuta tercatat sudah membela 12 klub hingga saat ini. Sementara itu, ia juga tercatat sudah mengemas 1 gol dari 9 caps bersama Timnas Kongo.
