Kumparan Logo

Kisah Kim Kurniawan di Persib: Menjadi Dewasa oleh Cacian

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kim Jeffrey Kurniawan, pemain Persib Bandung. Foto: Dok. Media Persib
zoom-in-whitePerbesar
Kim Jeffrey Kurniawan, pemain Persib Bandung. Foto: Dok. Media Persib

Menilik kisah Kim Jeffrey Kurniawan di Persib Bandung, termasuk di ajang Liga 1, kebanyakan diisi oleh kegetiran dan kritik.

Datang bersamaan dengan hadirnya Dejan Antonic di Persib pada 2016, caci maki dan kritik bobotoh adalah makanan yang kerap diterima Kim. Ia bahkan sempat disebut-sebut anak emas dari Antonic.

Namun, perlahan, label itu hilang. Kini, Kim jadi bagian penting dari skuat Persib, terutama ketika Robert Rene Alberts mulai melatih 'Maung Bandung' per musim 2019. Ia punya peran khusus di bawah asuhan sosok asal Belanda itu.

Peran seperti apakah yang Kim jalani itu? Juga, apa saja yang sudah Kim lalui hingga akhirnya bobotoh mampu menerimanya sekarang?

***

Mari sejenak kembali ke tahun 2016. Saat itu, Kim berada dalam situasi panas. Seturut dengan penampilan Persib yang kurang apik di ajang Indonesia Soccer Championship, Kim mendapatkan kritik dan cercaan dari bobotoh.

Kim Jeffrey Kurniawan, pemain Persib Bandung. Foto: Dok. Media Persib

Ketika itu, Kim disebut-sebut sebagai golden boy-nya Antonic. Pasalnya, ia selalu dimainkan oleh eks pelatih Pelita Bandung Raya tersebut, walau ia kerap tampil buruk. Satu slot di lini tengah, ketika itu, seakan sudah pasti jadi milik Kim.

Poster-poster bertuliskan Kim Out di jalanan kota Bandung, plus tagar #KimOut di media sosial jadi pemandangan yang jamak saat itu. Bobotoh seakan mengamini satu suara, bahwa Kim harus minggat dari Persib.

Puncaknya, dalam sebuah latihan di Lapangan Progresif, Senin (2/5/2016), bobotoh membentangkan spanduk bertuliskan "Ada Apa dengan Kim dan Coach Dejan?". Turut juga spanduk bertuliskan Kim Butut saat itu.

Kim dan Antonic sejatinya tidak ambil pusing atas sikap bobotoh itu. Namun, dari sinilah, transformasi Kim dimulai. Ia tampaknya sadar bahwa untuk menjawab keraguan, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain tampil apik di atas lapangan.

Kim pun memperbaiki penampilannya. Etos kerja keras a la pesepak bola Jerman, benar-benar ia terapkan di atas lapangan. Ia jadi sosok yang tidak lelah menyisir setiap sisi lapangan. Malah, tak jarang ia juga mengincar gol jika ada kesempatan.

X post embed

Antonic akhirnya pergi dari Persib. Tapi, tidak dengan Kim. Ia bertahan dan menjawab semua caci maki yang dialamatkan kepadanya. Penampilannya membaik. Ia jadi dinamo di lini tengah Persib.

Berdampingan dengan siapa pun, entah itu Dedi Kusnandar, hingga Omid Nazari, ciri khas Kim tidak pernah hilang. Ia tidak lelah menyisir setiap sisi lapangan, memotong serangan lawan, sekaligus jadi penghubung antar lini.

Tidak hanya itu, Kim juga punya determinasi tinggi. Ia kerap menekan lawan, terutama mereka yang memasuki area tengah dan menjadi distributor bola bagi lawan. Tak jarang, penampilannya ini merusak skema permainan lawan.

Namun, bukan berarti badai sudah berlalu. Pada 2017, Kim mengalami cedera patah tulang fibula setelah kakinya diterjang oleh pemain Persija. Ia harus rehat dalam waktu yang lama, serta menjalani sederet perawatan.

Tempatnya di skuat Persib pun sempat akan hilang. Namun, alih-alih dicaci, ia justru mulai mendapatkan dukungan dari bobotoh. Mereka menyemangati Kim agar segera pulih dan bisa kembali bertanding.

Kim Jeffrey Kurniawan, pemain Persib Bandung. Foto: Dok. Media Persib

Lalu, pada akhirnya, tempatnya di tim tetap aman. Ia dipertahankan oleh tim pelatih dan manajemen 'Maung Bandung' hingga musim 2020 ini. Sebuah kepercayaan yang berbuah manis bagi Persib.

Pada 2019, Kim merumput lagi. Ia masih eksplosif. Ia tetap rajin menekan lawan serta memotong serangan lawan di tengah. Penampilan impresifnya ini menarik perhatian Rene Alberts. Dalam beberapa laga, ia memberi Kim posisi dan peran baru.

Jadi, Kim kerap ditempatkan di posisi gelandang serang. Hal ini menghadirkan pertanyaan: loh, bukannya Kim biasanya jadi gelandang tengah? Rene Alberts memiliki jawabannya sendiri soal ini. Sebuah jawaban yang cukup taktikal.

“Kim bukan hanya gelandang bertahan saja. Ia gelandang serang yang bagus dan mampu mengubah gaya menyerang tim,” ujar Rene Alberts selepas laga Persib menghadapi Tira-Persikabo, 18 Juni 2019 silam.

“Dia hampir menembus pertahanan lawan sebanyak tiga kali dengan kecepatannya, dan dia bisa menghentikan serangan lawan dari depan, kami butuh dia,” lanjutnya.

Robert Rene Alberts berdiskusi dengan Kim Kurniawan. Foto: Dok. Media Persib

Merujuk pada jawaban Rene Alberts, ia ingin memanfaatkan kemampuan menekan Kim untuk merusak skema lawan sejak dari belakang. Hal ini menunjukkan jika Rene Alberts tahu kemampuan Kim dan memanfaatkannya untuk tim.

Setelah momen itu hingga kini, Kim sudah sah menjadi andalan Persib di lini tengah. Ia juga mampu bersaing dengan gelandang-gelandang Persib lain seperti Abdul Aziz, Hariono (sekarang hijrah ke Bali United), maupun Dedi.

Total, sejak pertama kali didatangkan ke Persib, Kim sudah mencatatkan 70 kali penampilan di semua ajang. Di musim 2020 ini saja, ia sudah tampil selama 3 kali dari 3 pertandingan di liga.

Berawal dari cacian, Kim bangkit dan sukses menggenggam kepercayaan di Persib. Sebuah cerita yang menggugah sekaligus bisa jadi bahan pelajaran bagi siapa pun yang ingin memperkuat Persib nantinya.

***

Jalan masih panjang bagi Kim Kurniawan di Persib. Bobotoh, seperti yang kita tahu, adalah suporter dengan tuntutan yang tinggi. Mereka ingin setiap pemain tampil konsisten di setiap laga. Hal itu berlaku untuk semua, tak terkecuali Kim.

Kim Jeffrey Kurniawan (tengah), pemain Persib Bandung. Foto: Dok. Media Persib

Namun, melihat cara Kim menjawab cacian yang dialamatkan padanya ketika 2016 lalu, ia tampaknya mampu menjawab tantangan ini. Toh, Kim mungkin sudah belajar satu adagium dari Ajat Sudrajat yang telah mengakar lama di Persib: "Persib besar oleh cacian, pujian adalah racun".