Kumparan Logo

Kisah Legenda Inter: Bangkit dari Kematian Sang Ayah hingga Jadi Anak Gawang

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Italia, Sandro Mazzola. Foto: Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Italia, Sandro Mazzola. Foto: Reuters

Penggemar Inter Milan seharusnya tak asing dengan nama Sandro Mazzola. Ia bangkit dari kecelakaan tragis yang menimpa sang ayah hingga menjadi seorang anak gawang sebelum dikenal luas sebagai legenda Nerazzurri.

Ya, sang ayah juga merupakan seorang pesepak bola. Ia bernama Valentino Mazzola, nama yang tak kalah masyhur di Italia. Valentino menjadi korban dari Tragedi Superga yang terjadi pada Mei 1949, terjadi selang seminggu setelah ayah Sandro menandatangani kontrak dengan Torino.

Tragedi Superga merupakan kecelakaan pesawat yang terjadi di bukit Superga, Italia. Pesawat yang ditumpangi oleh skuad 'Grande Torino' menjadi korban dalam kecelakaan itu usai kembali dari Lisbon, Portugal setelah melakukan pertandingan persahabatan melawan Benfica.

Bagi Sandro, kepergian sang ayah menjadi sebuah peristiwa yang sangat memukul. Terlebih, kedua orang tuanya telah bercerai pada 1946 dan ayahnya yang membesarkan Sandro muda. Bahkan, ia belajar banyak tentang seni bermain sepak bola.

“Dasar-dasar adalah segalanya bagi seorang pesepak bola. Ayah saya mengajari saya dasar-dasarnya," ucap Sandro Mazzola kepada Gazzetta Dello Sport, dikutip dari These Football Times.

"Untuk itu, saya akan selalu berhutang budi padanya. Saya membangun karier berdasarkan keterampilan yang dia ajarkan. Saya harus menjadi pesepak bola. Tidak ada pilihan. Saya harus menemukan kedamaian di lapangan. Kami hanya punya sedikit waktu bersama,” tambahnya.

Penyerang/gelandang Italia Sandro Mazzola yang bermain untuk tim nasional sepak bola Italia selama Piala Dunia 1970. Foto: AFP

Atas dasar tekad tersebut, Sandro dan sang adik, Ferruccio, bergabung dengan Inter pada 1960. Namun, keduanya tak langsung menjadi pemain, melainkan menjalani karier sebagai seorang maskot sekaligus anak gawang.

“Suatu hari, Benito Lorenzi, penyerang Inter yang bermain dengan ayah saya di Timnas Italia dan merupakan teman dekatnya, datang ke rumah saya. Dia meminta ibuku untuk mengizinkan saya pergi ke Milan untuk menjadi maskot tim," ujar Sandro mengenai awal mula ia bergabung bersama Nerazzurri.

Menurut laporan These Football Times, Giuseppe Meazza saat itu juga sangat terpengaruh oleh tragedi Superga tersebut dan berusaha untuk membantu Sandro dan Ferruccio yang merupakan anak dari legenda Italia, Valentino Mazzola.

“Kami berdua akan mengenakan seragam Inter lengkap, berjalan keluar bersama para pemain dan tetap berada di sisi lapangan selama pertandingan," terang Sandro.

"Bahkan sebagai maskot, kami mendapat bonus dan kami biasa mendapatkan 10 ribu lira (sekitar Rp 17 juta dengan kurs saat ini) untuk kemenangan dan 5 ribu lira (sekitar Rp 8,5 juta dengan kurs saat ini) untuk hasil imbang. Itu uang yang banyak untuk keluarga kami,” tambahnya.

Gianni Rivera (atas, ketiga dari kiri) dan Sandro Mazzola (bawah, paling kanan) saat memperkuat Timnas Italia. (Foto: AFP/Staff)

Sampai pada akhirnya Sandro Mazzola melakukan debutnya sebagai pemain untuk Inter pada 1961. Saat itu Nerazzurri berhadapan dengan Juventus. Namun, tak mudah baginya untuk tampil maksimal di usia muda, terutama di bawah bayang-bayang kehebatan sang ayah.

“Sangat sulit ketika saya masih muda karena semua orang mengharapkan saya untuk menjadi yang terbaik, berbakat seperti ayah saya. Tapi saya tidak memiliki kualitas yang sama dengannya," ujar pemain kelahiran 1942 tersebut.

"Para penggemar terkadang membuat komentar negatif tentang saya dan itu sulit diterima. Itu menjadi sangat buruk sehingga saya sempat berpikir untuk berhenti bermain sepak bola pada satu tahap tertentu,” tambahnya.

Dua tahun setelahnya Sandro melakukan debut di Timnas Italia dan sisanya menjadi sejarah. Bersama Gli Azzurri, Sandro tergabung dalam tim yang memenangkan Euro 1968 usai mengalahkan tim kuat, Yugoslavia, di final. Ia juga membantu Italia saat menjadi runner-up di Piala Dunia 1970.

Sementara di level klub, 'Il Baffo' sukses mengantongi 4 gelar Serie A, 2 Piala Eropa, 2 Piala Interkontinental, dan juga menjadi top skorer Serie A musim 1964/65. Kesetiaannya bersama Nerazzurri juga membuatnya dijuluki one club man.

Pemain Italia, Sandro Mazzola. Foto: Reuters

Sandro mengakhiri kariernya pada 1977, enam tahun setelah dirinya menjadi runner-up Ballon d'Or 1971, tepat di belakang Johan Cruyff. Meski pensiun, Sandro tetap berkarier di bidang sepak bola sebagai komentator dan pundit untuk Rai TV.

Di usianya yang kini sudah menginjak 78 tahun, Sandro Mazzola masih teringat tentang bagaimana kedekatannya dengan sang ayah, Valentino. Itu dia ucapkan pada 2014 lalu saat berada di Rai TV.

“Saya lebih dekat [dengan Valentino] melalui sepak bola. Mungkin saya bisa belajar dan menjadi sesuatu yang lain, tetapi saya tahu saya tidak akan merasa damai. Saya merasa dekat dengan ayah saya. Sepak bola menyatukan kami lagi,” ucap Sandro.