Bola & Sports
·
28 Mei 2021 14:35
·
waktu baca 5 menit

Kisah Pablo Aimar, The Next Maradona yang Gagal di Liga Malaysia

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Pablo Aimar, The Next Maradona yang Gagal di Liga Malaysia (321156)
searchPerbesar
Eks pemain Benfica asal Argentina, Pablo Aimar. Foto: Ian MacNicol/AFP
Pablo Aimar sempat mencuri perhatian hingga dilabeli The Next Maradona, namun dirinya tenggelam saat hijrah ke Liga Malaysia. Ia juga merupakan pemain yang diidolakan oleh Lionel Messi.
ADVERTISEMENT
Di awal dekade 2000-an muncul seorang pesepak bola bertubuh kecil dan rambut kribo dari Argentina yang mampu menyihir perhatian dunia.
Pemain bernama lengkap Pablo Cesar Aimar Giordano itu dikenal sebagai gelandang serang yang sangat luar biasa. Ia merupakan jebolan akademi sepakbola Argentina, Estudiantes Rio Cuarto.
Pelatih mudanya dulu, Alfie Mercado, melihat Aimar sebagai bakat yang diprediksi akan bersinar. Kecepatan, kontrol bola, hingga membaca permainan, mampu dikuasai dengan oleh pria bertinggi 170 cm itu.
Setelah resmi bergabung dengan River Plate pada 1993, Aimar melakukan debut untuk River pada 11 Agustus 1996 melawan Colon. Gol pertamanya untuk klub tersebut hadir pada 20 Februari 1998 di laga melawan Rosario Central.
Kisah Pablo Aimar, The Next Maradona yang Gagal di Liga Malaysia (321157)
searchPerbesar
Eks pemain Benfica asal Argentina, Pablo Aimar. Foto: PAUL ELLIS/AFP
Empat musim memperkuat River Plate, Aimar mengemas 21 gol dari 82 laga. Selain itu, ia juga sukses mempersembahkan dua trofi liga dan satu trofi piala super untuk River Plate.
ADVERTISEMENT
Menyusul penampilan luar biasa bersama River Plate, Aimar dilirik oleh klub Eropa, Valencia. Di sinilah, dirinya disebut sebagai suksesor Diego Maradona. Jauh sebelum Lionel Messi disejajarkan dengan Maradona, Aimar lebih dulu dilabeli The Next Maradona oleh publik Argentina.
Pergerakannya yang cepat, memiliki visi yang baik, andal dalam melewati pemain, umpan-umpannya terukur, tubuhnya yang mungil serta rambutnya yang gimbal membuat publik Argentina seolah kembali melihat sosok Maradona dalam versi baru.
Di Valencia, masa kejayaan Aimar dalam dunia sepakbola Eropa mencuat. Ia diboyong ke Spanyol dengan banderol 24 juta euro atau setara 353 miliar rupiah.
Lima musim memperkuat Los Che, Aimar mengemas 27 gol dari 162 laga. Dia merasakan dua kali mengangkat trofi La Liga, dua kali trofi piala super dan satu trofi liga Europa. Sementara itu, di final Liga Champions musim 2000/01, Aimar gagal membawa timnya juara setelah dikalahkan Bayern Muenchen lewat adu penalti.
Kisah Pablo Aimar, The Next Maradona yang Gagal di Liga Malaysia (321158)
searchPerbesar
Diego Maradona menyapa publik di stadion "La Bombonera" klub Atletik Boca Juniors di Buenos Aires pada 9 November 2001. Foto: ALI BURAFI/AFP
Saat itu, Aimar benar-benar menjadi pujaan rakyat Estadio Mestalla. Pasalnya, Valencia sempat tak meraih menjuarai La Liga selama 30 tahun sebelum Aimar datang berlabuh.
ADVERTISEMENT
Kehebatan Aimar sendiri diakui langsung oleh Maradona. Sejak Aimar memutuskan untuk hijrah ke Eropa untuk membela Valencia, Maradona sudah memprediksi bahwa Aimar akan menjadi pemain hebat.
Ternyata apa yang diucapkan Maradona itu benar adanya. Aimar kemudian menjadi sosok penting dalam kejayaan yang diraih Valencia saat itu. Gelontoran trofi bergengsi berhasil ia sumbangkan untuk klub asal Spanyol tersebut.
Kehebatan Aimar saat menjadi motor serangan Valencia itulah yang pada akhirnya membuatnya dijuluki El Magoa, atau yang memiliki arti Si Penyihir.
Namun saat Ranieri masuk ke jajaran pelatih Valencia, Aimar mulai kesulitan tembus tim utama. Hingga pada akhirnya, ia harus tersingkir dari persaingan dan hengkang ke kesebelasan La Liga lainnya, Real Zaragoza.
ADVERTISEMENT
Setelah julukan Si Penyihir masih melekat erat dalam dirinya, Zaragoza sempat dibawanya merangsek ke peringkat empat pada paruh musim pertamanya, dan berkesempatan berlaga di kompetisi Liga Champions Eropa.
Namun, cedera lutut yang Aimar derita pada pertengahan musim membuatnya harus absen selama sebulan. Zaragoza yang kehilangan sang penyihir pun harus terlempar dari posisi lima besar pada akhir musim.
Bisa dibilang, tahun 2006 menjadi awal dari kemerosotan karier Pablo Aimar. Ia hanya dua musim memperkuat Los Blanquillos. Dari 47 pertandingan di La Liga, Aimar hanya mencetak lima gol saja.
Aimar pun lantas memutuskan untuk pindah kompetisi. Dia kemudian bergabung dengan klub Liga Primer Portugal, Benfica. Aimar pun kembali pada penampilan terbaiknya. Musim kedua bersama Benfica, ia berhasil memberikan trofi Liga.
ADVERTISEMENT
Selama lima musim di Portugal, Aimar sudah bermain sebanyak 171 partai di seluruh kompetisi. Saat itu, di Benfica, ia berduet dengan mantan rekan setimnya di River Plate, Javier Saviola.
Keduanya menjadi sosok di balik kesuksesan River Plate yang menjuarai Liga Apertura dan Clausura Argentina pada 2000, meski saat itu keduanya masih berusia 19 dan 17 tahun. Keduanya pun hengkang dari River dengan periode yang tak jauh berbeda, Aimar pada Januari 2001, sementara Saviola enam bulan kemudian menuju Barcelona.
Setelah lima musim membela raksasa Portugal, kontrak Aimar akhirnya habis. Selepas bermain untuk Benfica, Aimar justru putuskan untuk berkarier di Malaysia bersama Johor Darul Takzim. Keputusan itu pun berbuah fatal.
Belum genap setahun membela klub asal Malaysia tersebut, Aimar malah dipecat begitu saja. JDT putuskan untuk akhiri kontrak Aimar lantaran sang pemain kerap terkena cedera.
ADVERTISEMENT
JDT merasa frustrasi dan memilih mengambil solusi ekstrem. Mereka memutuskan langsung memecat Aimar dengan alasan telah sia-sia membuang-buang uang untuknya.
Setelah sempat berstatus tanpa klub, Aimar akhirnya pulang ke Argentina. 15 tahun berkelana diluar Argentina, ia menjalani debut saat River mengalahkan Rosario Central pada 31 Mei 2015.
Namun ternyata laga itu menjadi laga pertama, sekaligus terakhir bagi Aimar. Pada 16 Juli 2015, Ia memutuskan untuk gantung sepatu setelah namanya tak diikutsertakan pelatih River, Marcelo Gallardo, yang akan menjalani laga semi-final Copa Libertadores.
Keputusan yang diambil Gallardo untuk tak menyertakan Aimar adalah keputusan terbaik setelah Aimar menceritakan masalahnya selama ini pada sang pelatih. Aimar sempat berkata bahwa dirinya merasa menderita dengan cedera yang dialaminya.
ADVERTISEMENT
Maka ketika keputusan Gallardo telah diambil, Aimar pun memutuskan untuk tak lagi bermain sepak bola. Meski akhiri karier dengan cara yang kurang diinginkan, perjalanan Aimar banyak diminati oleh pecinta sepakbola dunia.
Bahkan, Aimar berhasil menjadi inspirasi bagi sebagian pemain, termasuk bintang FC Barcelona, Lionel Messi. La Pulga bahkan tak segan untuk menyebut Aimar sebagai idola masa kecilnya.
Menurut Messi, Aimar adalah salah satu pemain terbaik Argentina. Ia sudah banyak memberinya inspirasi dan menjadi idola semasa kecilnya. Ketika Aimar putuskan pensiun, Messi bahkan mengucapkan banyak terima kasih bagi Aimar yang sudah memberikan sihirnya di atas lapangan.
“Pablo Aimar akan selalu menjadi idolaku. Aku sangat menikmati permainannya, dan aku sudah mengikuti perjalanannya sejak ia berada di River,” ungkap Messi selepas laga Barcelona kontra Benfica pada Liga Champions tahun 2012, dikutip dari Sportskeeda.
ADVERTISEMENT
“Dia adalah pemain terbaik di dunia. Aku sangat berterima kasih kepadanya,” sambung kapten Timnas Argentina tersebut.
Adapun setelah pensiun, Aimar langsung serius mengambil lisensi kepelatihan. Selain itu, di sela-sela waktunya, pria yang juga sempat mendapatkan julukan Si Badut itu juga sesekali mengisi layar kaca dengan menjadi pundit di berbagai acara sepak bola.
Di dunia kepelatihan, tak butuh waktu lama buat Aimar menjejakkan karier. Sekitar dua tahun setelah pensiun, Aimar langsung dipercaya menukangi Timnas Argentina U-17 sebagai asisten manajer Lionel Scaloni.
Setelahnya bersama Scaloni juga, Aimar naik ke level Timnas Argentina U-20 setahun berselang. Termasuk ketika Scaloni dipercaya menukangi Timnas senior Argentina, Pablo Aimar juga turut mendampinginya sebagai asisten pelatih.
Menurut catatan Transfermarkt, Aimar berhasil mencetak 60 gol dan 68 assist dari 461 pertandingan di level klub. Adapun bersama Timnas Argentina, ia telah mengemas 8 gol dari 53 caps.
ADVERTISEMENT
****