news-card-video
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

Kisah Rendah Hati Sadio Mane: Bangun Desa, Bersihkan Masjid

24 Juni 2022 16:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ekspresi Sadio Mane usai bawa Senegal juara Piala Afrika. Foto: Mohamed Abd El Ghany/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ekspresi Sadio Mane usai bawa Senegal juara Piala Afrika. Foto: Mohamed Abd El Ghany/REUTERS
ADVERTISEMENT
Sadio Mane memang dikenal sebagai sosok penyerang yang cukup mematikan jika sudah berada di depan gawang. Di balik ke garangannya, pemain baru Bayern Muenchen itu juga dikenal sangat rendah hati.
ADVERTISEMENT
Menurut pemaparan SportsBible, Mane sering tertangkap kamera ketika menunjukkan kedermawanannya. Boleh dibilang bahwa Mane merupakan sosok manusia yang mempraktikkan peribahasa kacang yang tidak lupa kulitnya.
Pria 30 tahun tersebut selalu menebar kebaikan berupa materi kepada orang-orang yang berada di negaranya, Senegal, setelah ia berhasil menjadi pesepak bola top bersama Liverpool.
Masa kecil Mane bisa dikatakan cukup kekurangan jika dibandingkan dengan orang-orang seusianya sebab ia dibesarkan dari keluarga sederhana. Keluarga Mane sebenarnya tidak menginginkan dirinya menjadi sosok pesepak bola.
Keluarga Mane mendambakan anaknya menjadi seseorang yang berpendidikan tinggi. Tetapi, itu tidak membuat semangatnya surut dan terus berupaya meningkatkan kapasitasnya dalam mengolah 'si kulit bundar'.
Selebrasi pemain Liverpool Sadio Mane saat melawan Aston Villa di Villa Park, Birmingham, Inggris. Foto: Craig Brough/Reuters
Eks Liverpool itu bahkan dulunya pernah ditertawakan karena tidak memiliki setelan yang oke ketika melakoni laga uji coba di usia muda. Kala itu, Mane tampil dengan sepatu bot dan celana pendek yang sudah compang-camping.
ADVERTISEMENT
Kegigihan dan konsistensi Mane akhirnya membuahkan hasil. Dikutip dari data Transfermarkt, ia pertama kali menginjakkan kaki di dunia sepak bola Eropa dengan bergabung tim Liga Prancis, FC Metz tim B.
Lalu, ia bertransformasi sebagai pesepak bola yang semakin mumpuni sehingga berhasil promosi ke tim inti. Beberapa saat setelah itu, ia pun beberapa kali melalang buana dengan pindah ke RB Salzburg dan Southampton.
Sadio Mane berjersi Southampton. Foto: AFP/GLYN KIRK
Pada 2016, Liverpool yang sedang berusaha untuk membangun skuad dari awal pun tertarik dengan Sadio Mane. Alhasil, The Reds pun rela merogoh kocek sebesar 23 juta euro atau sekitar Rp 359 miliar demi mendaratkan bintang Senegal itu.
Mane akhirnya menjadi sosok penyerang yang moncer bersama Liverpool. Lambat laun hidupnya pun mulai berubah menjadi lebih baik, khususnya dalam aspek finansial.
ADVERTISEMENT
Meskipun sudah bergelimang harta, ia masih ingat di mana kampung halamannya. Buktinya, pada 2018, Mane dikabarkan telah menyumbangkan 200 ribu pounds (Rp 3,6 miliar) untuk membiayai sekolah.
Tidak hanya itu, Mane juga membangun rumah sakit di kampung halamannya dengan menggelontorkan dana sebesar 455 ribu pounds atau Rp 8,2 miliar. Tak lupa, ia juga terlibat dalam pembangunan masjid dan stadion olahraga.
Walaupun dulunya Mane memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya, ia kini bertekad untuk membangun pendidikan di daerahnya. Ia dikabarkan telah membagikan laptop, pakaian olahraga, hingga menyediakan internet 4G.
Pemain Liverpool Sadio Mane bereaksi saat hadapi Real Madrid pada final Liga Champion di Stade de France, Saint-Denis dekat Paris, Prancis, Sabtu (28/5/2022). Foto: Anne-Christine POUJOULAT/AFP
Pesepak bola 30 tahun itu juga terlibat dalam pembangunan fasilitas-fasilitas umum seperti kantor pos dan pom bensin. Walaupun sudah melakukan banyak kebaikan, ia mengaku bahwa hal tersebut dilakoni bukan untuk popularitasnya.
ADVERTISEMENT
Media asal Inggris, The Telegraph, pun pernah ditolak ketika mereka menawari Mane untuk wawancara perihal apa yang telah ia lakukan kepada negaranya.
"Saya tidak melakukan ini untuk publisitas," ucap Mane sesaat setelah menolak tawaran wawancara pada 2018, dikutip dari SportsBible.
Kebaikan Mane tidak terbatas pada sikap dermawan dalam memberikan bantuan secara finansial saja. Buktinya, ia tertangkap kamera kala membantu petugas kebersihan untuk mengepel toilet dan tempat wudu di masjid lokal.
Sadio Mane juga tak pernah melupakan teman masa kecilnya. Pada 2020 lalu, ia sempat bertemu dengan teman masa kecilnya yang sudah tidak bertemu kurang lebih selama 17 tahun. Mane pun langsung mengundang temannya untuk menonton dirinya tampil secara langsung di Anfield.
ADVERTISEMENT
Tidak habis di lingkungan masa kecilnya, ia pun tak ragu menyebarkan kebaikan bagi semua orang. Mane pernah mendedikasikan golnya untuk fan Liverpool yang sudah berusia senja ketika membungkam Crystal Palace 7-0 pada 2020 silam.
Sikap rendah hati yang dimiliki Mane sejatinya merupakan pengembangan dari prinsip hidupnya. Pria 30 tahun itu mengaku bahwa harta yang ditorehkannya saat ini sejatinya harus bermanfaat bagi dunia di sekitarnya.
Pemain Liverpool Sadio Mane berselebrasi dengan manajer Juergen Klopp setelah memenangkan adu penalti melawan Chelsea di Stadion Wembley, London, Inggris, Sabtu (14/5/2022). Foto: Action Images via Reuters/Peter Cziborra
"Mengapa saya menginginkan 10 Ferrari, 20 jam tangan berlian, atau dua pesawat? Apa yang akan dilakukan benda-benda ini bagi saya dan dunia?" ucap Mane kepada media Ghana, Nsemwoha.
"Saya pernah merasa lapar, dan bekerja di lapangan. Saya bertahan di waktu sulit, bermain sepak bola dengan tanpa alas kaki, tidak memiliki pendidikan oke, dan masih banyak lagi. Tetapi apa yang saya peroleh hari ini adalah karena sepak bola dan itu digunakan untuk membantu orang-orang," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Sadio Mane secara resmi hengkang dari Anfield dan berlabuh ke Bayern Muenchen. Ia dikontrak Die Roten hingga 2025 mendatang dengan biaya sebesar 32 juta euro atau sekitar Rp 500 miliar.
Penulis: Hamas Nurhan R T