Kumparan Logo

Kontrak Panjang Stadion, Madura United Fokus Bersolek Mendobrak Asia

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para penggawa Madura United melakujan selebrasi perayaan gol. Foto: Instagram/@Madura United
zoom-in-whitePerbesar
Para penggawa Madura United melakujan selebrasi perayaan gol. Foto: Instagram/@Madura United

Warisan budaya karapan sapi tampaknya sudah begitu menyatu dengan Madura hingga menjadi sebuah identitas. Akan tetapi, tiga tahun belakangan, perlahan muncul label baru pada Pulau Garam pada diri Madura United.

Ya, sejak 2016, Madura United mulai merasuk ke relung hati masyarakat setempat. Lewat sepak bola, 'Laskar Sape Kerap' punya niat luhur dengan mencoba menyatukan masyarakat Madura di empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, bertekad mengelola Madura United dengan sebaik mungkin. Apalagi, sepak bola kini seakan telah menjadi kultur baru di Madura.

Rencana jangka panjang untuk klub yang dulu bernama Bandung Raya ini pun dibuat agar masyarakat Madura layak membusungkan dada ketika berbicara sepak bola. Usai merekrut banyak bintang pada musim 2019, Madura United kini mulai bersolek untuk terbang lebih tinggi menuju level Asia.

Belum memiliki stadion berstandar AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) membuat Madura United menyasar infrastruktur. Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) di Pamekasan dikontrak panjang lima tahun untuk pembenahan menuju level internasional.

Label Madura United pun sudah terpampang di SGRP. Bahkan, pada Sabtu (6/4/2019) lalu, Pemerintah Kabupaten Pamekasan sebagai pemilik stadion, telah meresmikan nama baru menjadi Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) agar suasana Madura United kental.

“Jangan salah. Kami sudah menyisiapkan sendiri bujet untuk stadion. Kami sudah memikirkan hal itu. Sewa SGMRP sudah jangka panjang, setiap lima tahun diperbarui. Bahkan, mereknya di stadion sudah Madura United,” ujar Achsanul Qosasi ketika diwawancarai oleh kumparanBOLA di Jakarta beberapa waktu lalu.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Madura United lantas punya hak kelola dan perawatan sepanjang lima tahun tersebut. Distribusi ke dua pos dalam hal infrastruktur juga sudah disiapkan.

Direktur PT Polana Madura Bersatu, Ziaul Haq, menuturkan perjanjian dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) itu memudahkan Madura punya stadion berstandar internasional.

“Konsep yang kami miliki bagaimana stadion yang kami kontrak itu bisa punya standar berlabel AFC atau internasional. Kalau kami menunggu apa yang dilakukan pemkab akan butuh proses lama. Pemkab juga terkendala anggaran. Pemilik tetap pemkab, tapi hak pakai ada di kami. Madura United mungkin klub kedua setelah Bali United yang punya konsep seperti itu," ujar Ziaul kepada kumparanBOLA, Senin (8/4).

Ada dua pos anggaran yang kami siapkan, yaitu pengelolaan dan perawatan serta sewa yang dibebankan ke klub. Kami bayar sewa sesuai peraturan daerah (perda). Kemudian kami mengeluarkan biaya untuk peningkatan beberapa aspek untuk memenuhi persyaratan AFC,” lanjutnya.

Meski demikian, Ziaul belum bisa memastikan berapa anggaran pasti yang dibutuhkan untuk mendandani stadion. Yang pasti prioritas Madura United ialah membenahi ruang ganti, akses disabilitas, bench pemain, dan tribune.

“Setiap tim dibentuk dengan proyeksi ingin berprestasi. Madura United salah satu yang ingin berlaga di level Asia. Kami akan mendahulukan untuk mendapat lisensi klub AFC. Salah satu aspeknya ialah stadion. Kami penuhi dulu syarat stadion. Memang kami baru mulai berhitung berapa yang dibutuhkan,” tutur Ziaul.

embed from external kumparan

Tak cuma dana perbaikan yang dikucurkan, klub berlogo kepala sapi ini juga menganggarkan kucuran dana untuk sumber daya manusia yang mengelola stadion. Sejauh ini, yang baru terbaca ialah soal perawatan saja.

Ziaul mengungkapkan jika menilik anggaran pemkab dalam perawatan stadion ialah Rp 800 juta per musim. Angka itu belum termasuk peningkatan beberapa fasilitas dan aliran dana untuk sumber daya manusia dalam perawatan stadion.

Terlepas dari itu, kontrak panjang dengan SGMRP bukan tak menimbulkan kritik. Madura United sejak awal punya konsep menyatukan rakyat Madura sehingga beberapa musim terakhir juga bermain kandang di Stadion Gelora Bangkalan (SGB).

Madura United memang kerap berpindah-pindah kandang demi mewujudkan ide klub. Suporter Madura United, K-Conk Mania, mempertanyakan nasib SGB apakah masih dipakai sebagai kandang klub atau tidak.

Kritik tersebut langsung dijawab Ziaul. Menurutnya, SGB tetap dipakai demi sejalan ide pendirian klub.

instagram embed

“Begini, kami Madura United tetap sesuai dengan apa yang dikonsepkan klub. Madura United ini bukan milik satu daerah saja, tapi punya rakyat Madura. Karena itu, kami tidak berpikir kandang klub bukan cuma di Pamekasan. Stadion di Bangkalan juga tetap kami pakai. Hanya saja, ini ‘kan kami butuh ada satu stadion berstandar AFC di Madura. Makanya, kami pilih SGMRP. Setidaknya, kalau kami main di level Asia tidak perlu keluar dari Pulau Madura,” kata Ziaul.

Suporter Madura United rasanya bisa lega mendengar jawaban itu. Mereka tak perlu khawatir karena konsep pendirian klub tetap dijalankan.

Namun, ada satu pertanyaan lagi yang mengemuka. K-Conk Mania mempertanyakan bagaimana ketegasan klub, sebagai pengelola sah SGMRP, dalam menyikapi penggunaan stadion di luar sepak bola. Sebelumnya, stadion berkapasitas 15 ribu itu sempat dipakai untuk kegiatan keagamaan dengan sejumlah mobil merangsek ke lapangan.

Ziaul memang belum memikirkan hal itu. Akan tetapi, setidaknya Madura United juga mesti menjaga hati-hati SGMRP.

instagram embed

“Memang stadion itu ‘kan bisa dipakai ajang lain seperti konser. Kami belum bicara soal penggunaan itu. Namun, tidak menutup kemungkinan dipakai di luar sepak bola. Kami harus memikirkan aspek kenyamanan dan keamanan stadion. Rumput dan segala yang ada di stadion tetap harus dijaga. Pasalnya, semua beban perawatan dan pengelolaan itu ada di klub," ucapnya.

"Pastinya, kalau dipakai di luar sepak bola dan rusak yang pusing kami juga. Ke depan seluruh apa yang hak dan kewajiban kami akan dijalankan dengan baik. Kami berusaha menjadi yang amanah dan amanah itu ‘kan tanggung jawab besar. Kami harus menjaga aset pemkab dan masyarakat Madura,” ujar Ziaul.

Kini, mampukah Madura United--dengan deretan pemain bintang plus pembenahan stadion--benar-benar menembus Asia musim depan? Menarik dinantikan.