Kontroversi di Balik Gianni Infantino Beri FIFA Peace Prize ke Donald Trump
ยทwaktu baca 3 menit

Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberi penghargaan FIFA Peace Prize ke Presiden AS, Donald Trump, di sela acara drawing grup Piala Dunia 2026 di Washington DC, Sabtu (6/12) dini hari WIB. Hal ini jadi kontroversi dan Infantino kini kembali dituding telah melanggar kode etik FIFA.
FIFA Peace Prize adalah penghargaan baru dari FIFA untuk individu yang dianggap luar biasa memajukan perdamaian dan menyatukan banyak orang lewat sepak bola. Trump menjadi tokoh pertama yang mendapatkannya.
"Anda sungguh pantas menerima FIFA Peace Prize yang pertama atas tindakan Anda, atas apa yang telah Anda peroleh dengan cara Anda, tetapi Anda telah memperolehnya dengan cara yang luar biasa," kata Infantino dalam pidatonya di hadapan Trump.
"Bapak Presiden, Anda selalu dapat mengandalkan, dukungan saya, dukungan seluruh komunitas sepak bola untuk membantu Anda mewujudkan perdamaian dan memakmurkan seluruh dunia," tambahnya.
Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, agak heran dengan penghargaan FIFA kepada Trump itu. Ia menganggapnya aneh karena ada acara itu di tengah drawing grup Piala Dunia.
"Ini seperti pertunjukan aneh," kata Solbakken dikutip dari media Norwegia, Bannet.no.
Adapun eks Pejabat PBB, Craig Mokhiber, menyebut penghargaan itu memalukan. Ia merasa, Infantino seolah coba mengaburkan dukungan Trump ke Israel dan pelanggaran HAM lainnya.
"Tidak puas dengan dua tahun keterlibatan FIFA dalam genosida di Palestina, Infantino dan kroni-kroninya kini telah menciptakan 'hadiah perdamaian' baru untuk menjilat Donald Trump," ujar Mokhiber kepada Al Jazeera.
Menurut New York Times, beberapa eksekutif senior FIFA, termasuk board members dan wakil presiden, mengaku terkejut karena pengumuman penghargaan dibuat secara terburu-buru. Ini hanya dianggap sebagai cara Infantino untuk menyenangkan Trump, yang sebelumnya gagal mendapat Nobel Peace Prize.
Mantan Ketua Komite Tata Kelola FIFA, Miguel Maduro, mengkritik Infantino yang dinilainya melanggar kode etik. Ia berharap Komite Etik FIFA akan mengusutnya.
"Fakta bahwa FIFA memberikan Peace Prize sama sekali tidak bermasalah. Masalah muncul ketika hadiah tersebut diberikan kepada seseorang yang aktif di dunia politik. Maka terjadilah pelanggaran netralitas politik, ujar Miguel Maduro kepada media Norwegia, NRK.
"Pertama, FIFA mengambil sikap politik terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh aktor politik, dalam hal ini Trump. Dan kedua, memberikan penghargaan kepada seseorang yang aktif di dunia politik juga merupakan tanda politik," tambahnya.
Pelanggaran statuta FIFA dapat memicu penyelidikan dari Komite Etik FIFA, yang merupakan bagian yudisial dan independen FIFA yang bertugas menyelidiki dan mengadili perilaku. Sanksi atas pelanggaran aturan dan regulasi FIFA dapat mencakup peringatan, teguran, denda, pelatihan kepatuhan, dan larangan berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan sepak bola.
Meskipun ada potensi sanksi, saat ini belum ada indikasi adanya penyelidikan terhadap komentar Infantino. Ketika diminta menanggapi tuduhan pelanggaran statuta netralitas politik, FIFA menolak untuk berkomentar.
