Kumparan Logo

Luka Modric, karena Inter Tak Cuma Butuh Otot

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi Luka Modric di laga menghadapi Inggris. (Foto: Reuters/Kai Pfaffenbach)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Luka Modric di laga menghadapi Inggris. (Foto: Reuters/Kai Pfaffenbach)

Terlepas dari tuduhan Karim Benzema dan agennya, Gianluca Di Marzio tetap merupakan sosok yang paling bisa dipercaya untuk urusan transfer. Jurnalis Sky Italia itu, bersama Fabrizio Romano yang dipekerjakan oleh The Guardian, menjadi patokan kebenaran dari sebuah kabar di lantai bursa yang terkadang bisa bergerak sampai ke luar nalar.

Ketika Di Marzio dan Romano sudah bersabda, gosip bakal berhenti menjadi gosip. Di saat itu pulalah gosip tadi berubah menjadi berita yang keabsahannya bisa dipertanggungjawabkan.

Musim panas ini, suporter Internazionale sudah punya segudang alasan untuk tersenyum lebar dan bersikap optimistis menyambut musim 2018/19. Kedatangan Stefan de Vrij, Kwadwo Asamoah, Sime Vrsaljko, Matteo Politano, Lautaro Martinez, dan Radja Nainggolan adalah alasan-alasan itu. Kini, menyusul pemberitaan teraktual dari Di Marzio, alasan untuk tersenyum itu bertambah satu lagi.

Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba saja Di Marzio mengabarkan bahwa Inter sudah menjalin kontak dengan salah satu pesepak bola terbaik dunia bernama Luka Modric. Ya, Modric yang itu; Modric yang berhasil menjadi pemain terbaik Piala Dunia 2018 dan punya koleksi empat trofi Liga Champions itu; Modric yang disebut Peter Drury sebagai satu-satunya orang yang dilahirkan untuk bermain sepak bola itu.

Kabar ini jelas mengejutkan. Sebab, Inter sebelumnya justru dikabarkan sudah selangkah lagi bakal mendapatkan Arturo Vidal. Selain itu, La Beneamata juga terkesan sangat berhati-hati dalam memilih pemain, terbukti dalam kesabaran mereka menunggu De Vrij dan Asamoah bisa didatangkan tanpa biaya sepeser pun. Maka, transfer spektakuler seperti mendatangkan Modric selama ini seperti tidak ada dalam rencana klub.

Namun, justru di sinilah menariknya. Di Marzio menyebutkan bahwa Inter, lewat direktur olahraga Piero Ausilio, selama ini sudah bergerak diam-diam dalam menjalin kontak dengan perwakilan Modric. Bahkan, Vidal yang diklaim bakal segera merapat ke Giuseppe Meazza itu justru disebut sebagai target cadangan Inter.

Bagi siapa pun, tak hanya Inter, mendatangkan Modric adalah sebuah berkat yang tak terperi. Pemain berusia 32 tahun itu adalah sosok serbabisa yang bisa beradaptasi di lingkungan mana pun. Parameternya jelas. Modric pernah bersinar di bawah arahan Harry Redknapp. Padahal, Redknapp adalah sosok pelatih yang sama sekali tidak punya taktik.

Bagi seorang pemain, bermain tanpa arahan taktik bisa jadi sesuatu yang terburuk. Pasalnya, taktik adalah pedoman. Lewat itulah seorang pemain diarahkan untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Modric, tanpa arahan itu, tetap sanggup bermain cemerlang. Bahkan, boleh dikatakan selama di Tottenham Hotspur, Modric bersama Rafael van der Vaart-lah yang menjadi juru taktik tim.

Bale dan Modric di Tottenham. (Foto: AFP/Ian Kington)
zoom-in-whitePerbesar
Bale dan Modric di Tottenham. (Foto: AFP/Ian Kington)

Bagi Inter, kedatangan Modric jelas bakal sangat membantu mereka. Sebab, sosok yang seharusnya jadi pengatur serangan mereka, Borja Valero, rupanya sudah habis. Musim lalu, pemain asal Spanyol itu memang bermain sebanyak 36 kali di Serie A, tetapi kontribusinya tidak optimal. Borja Valero, pada musim 2017/18 hanya sanggup menghasilkan rata-rata 1 umpan kunci per laga. Padahal, total umpan per laganya mencapai angka 55,9.

Bandingkan dengan Modric yang cuma turun 26 kali di La Liga, tetapi bisa menghasilkan 1,5 umpan kunci per laga dan total 6 assist sepanjang musim. Selain itu, rata-rata jumlah umpan Modric juga lebih bagus dari Borja Valero dengan catatan 59,5 per pertandingan. Ini, tentunya, belum termasuk kontribusinya untuk Real Madrid di Liga Champions dan peran sentralnya untuk Kroasia di Piala Dunia.

Kegagalan Borja Valero tampil optimal itu membuat pelatih Inter, Luciano Spalletti, lebih suka mengandalkan gelandang box-to-box miliknya untuk menjadi motor utama serangan. Matias Vecino dan Marcelo Brozovic pada akhirnya menjadi solusi jika Borja Valero sudah mentok. Buktinya, dari Vecino dan Brozovic akhirnya bisa lahir 7 gol dan 11 assist. Brozovic bahkan punya catatan umpan kunci per laga (2) lebih baik dibanding Borja Valero.

'Kecanduan' Spalletti akan sosok gelandang box-to-box ini akhirnya diwujudkan kembali dengan transfer Nainggolan. Memang benar bahwa Nainggolan bukan gelandang box-to-box biasa karena kemampuannya bermain di belakang striker. Namun, pada dasarnya cara bermain Nainggolan tetap menunjukkan arketipe box-to-box yang kental.

Nainggolan memperkuat Inter di laga pramusim melawan Sion. (Foto: Dok. Inter)
zoom-in-whitePerbesar
Nainggolan memperkuat Inter di laga pramusim melawan Sion. (Foto: Dok. Inter)

Vidal pun begitu. Sebagai seorang pemain tengah, sosok asal Cile ini terhitung serbabisa. Di Juventus dulu dia pernah menjadi pencetak gol terbanyak pada musim 2012/13 (bersama Mirko Vucinic). Selain itu, bertahan pun Vidal tak kagok. Namun, keserbabisaan itu justru hadir karena Vidal adalah salah satu gelandang box-to-box terbaik dunia.

Singkat kata, tanpa keberadaan pengatur serangan yang mumpuni, Spalletti berusaha mengakali minimnya 'otak' dengan memperkuat 'otot'. Akan tetapi, di level tertinggi, khususnya Liga Champions, 'otot' saja tidak akan cukup. Inter saat ini sudah punya Nainggolan, Vecino, Brozovic, serta Roberto Gagliardini. 'Otot' Inter sudah lebih dari sekadar kuat dan kini, saatnya membenahi bagian 'otak'.

Di situlah Modric masuk dalam perhitungan. Dengan kebiasaan Spalletti memainkan formasi 4-2-3-1, kemungkinan besar Modric akan menjadi satu dari dua poros ganda bersama Vecino (kalau tidak jadi dijual ke Chelsea) dan Brozovic. Sementara, Nainggolan akan didorong naik untuk menyokong Mauro Icardi atau Lautaro Martinez.

Kedatangan Modric nantinya akan membuat Inter tak cuma jadi penantang serius di Serie A. Di Liga Champions pun mereka bakal sangat bisa berbicara banyak. Namun, yang kini jadi masalah, apakah Inter bakal mampu secara finansial memenuhi permintaan Real Madrid?

Brozovic signifikan membantu Modric dan Rakitic. (Foto: Alberto Pizzoli/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Brozovic signifikan membantu Modric dan Rakitic. (Foto: Alberto Pizzoli/AFP)

Masalahnya, tanpa keberadaan Ronaldo, pemain-pemain tengah Madrid bakal lebih vital lagi perannya. Apalagi, Julen Lopetegui adalah pelatih yang senantiasa menitikberatkan kekuatan timnya pada sektor tengah. Bersama Tim Nasional (Timnas) Spanyol, Lopetegui sudah kerapkali melakukan itu, termasuk dengan menerapkan formasi 4-6-0 kala menghajar Italia 3-0 di Kualifikasi Piala Dunia.

Dengan pelatih seperti Lopetegui, Modric jelas bakal mendapat peran krusial. Oleh karenanya, Florentino Perez pun kemungkinan besar bakal ogah-ogahan melepas alumnus Akademi Dinamo Zagreb tersebut. Kalaupun Perez bersedia, harganya tentu bakal cukup mahal.

Nah, Inter sendiri, beberapa waktu lalu sudah dipastikan tidak akan bisa mempermanenkan Rafael Alcantara dari Barcelona. Alasan Inter ketika itu adalah harga yang diminta Blaugrana untuk adik Thiago Alcantara itu terlalu mahal. Jika Rafinha saja tidak terbeli, secara logis, tentunya Modric takkan terbeli oleh Inter.

Akan tetapi, bisa jadi keengganan untuk mempermanenkan Rafinha itu merupakan sebuah trik yang dilakukan Ausilio untuk menyimpan uang Inter demi target yang lebih tinggi. Bisa jadi, target sesungguhnya dari Nerazzurri adalah Modric. Jika ini bisa terwujud, rasanya kita semua sudah bisa mengatakan bahwa Serie A, secara resmi, sudah kembali jadi liga sepak bola bergengsi.