Kumparan Logo

M. Rahmat dan Mengapa Ia Dijuluki 'The Flash'

kumparanBOLAverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain PSM Makassar M Rahmat (kanan) menendang bola ke arah gawang Home United pada penyisihan Grup H Piala AFC di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/4). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
zoom-in-whitePerbesar
Pemain PSM Makassar M Rahmat (kanan) menendang bola ke arah gawang Home United pada penyisihan Grup H Piala AFC di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/4). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Jay Garrick dan Barry Allen. Dua sosok yang tak saling mengenal, tetapi memiliki takdir yang saling bertautan.

Ya, keduanya adalah dua karakter yang pernah memerankan 'The Flash', seorang superhero dari DC Universe. 'The Flash' sendiri adalah superhero yang memiliki kemampuan untuk berpikir, berlari, dan bergerak dengan sangat cepat.

Baik Garrick maupun Allen nyatanya menjadi 'The Flash' dengan cara mereka masing-masing. Jika Garrick menjadi 'The Flash' karena menghirup aroma atom dari sebuah cairan radioaktif, maka Allen menjadi 'The Flash' karena tersambar petir di sebuah laboratorium.

Serial komik dari 'The Flash' pertama kali muncul pada kisaran 1940 silam. Gardner Fox menjadi penulis awal dari komik ini. Kini, 'The Flash' pun menjadi salah satu karakter superhero DC yang berpengaruh, selain nama-nama seperti Superman, Batman, maupun Wonder Woman.

Nah, di kancah sepak bola nasional sendiri, ada pemain yang acap dijuluki dengan 'The Flash'. Siapakah dia?

***

Nama M. Rahmat mungkin belum begitu familiar di telinga pecinta sepak bola nasional. Apalagi, untuk ukuran usia pesepak bola, Rahmat sudah memasuki masa senja yakni 31 tahun.

Namun, usia toh hanya angka bagi Rahmat. Performa apiknya bersama PSM Makassar bisa dijadikan acuan akan asumsi itu. Sudah dua musim terakhir Rahmat jadi andalan PSM dengan bermain dalam 61 partai di Liga 1 dengan torehan 13 gol dan 8 assist.

Karier Rahmat dimulai dari Pra Ligina 2--program pengembangan pemain muda oleh PSM--pada 2006 silam. Selang dua tahun, ia akhirnya mendapat kesempatan naik ke PSM senior. Meski begitu, bukan berarti Rahmat mampu masuk tim inti dengan mudah. Persaingan ketika itu di PSM cukup ketat.

Pemain PSM Makassar, M Rahmat (kanan) berusaha melewati pemain Home United pada penyisihan Grup H Piala AFC, di Stadion Pakansari, Bogor pada Selasa (30/4). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Namun, berkat satu modal yang ia miliki ini, Rahmat mampu bertahan dan bersaing hingga kini di skuat PSM. Modal apakah itu? Kecepatan.

Dalam beberapa kesempatan, ia acap memperagakan kecepatan yang dimilikinya, terutama ketika berduel satu lawan satu dengan bek sayap lawan. Ciri khasnya adalah, Rahmat akan menendang bola dengan jauh, lalu ia akan mengajak sang pemain itu beradu lari memperebutkan bola tersebut. Pada akhirnya, Rahmat sering keluar sebagai pemenang, dan lazimnya hal itu akan diikuti oleh gol.

Selain untuk melewati lawan, Rahmat juga mengeksploitasi kecepatannya untuk menyusuri ruang-ruang kosong. Laga PSM lawan Arema pada 2018 silam bisa jadi contoh, bagaimana lihainya Rahmat memanfaatkan kecepatannya.

Sebelum menerima umpan Willem Jan Pluim, ia terlebih dahulu berlari melewati bek-bek Arema. Berbekal kecepatannya, ia mampu menyusup masuk ke ruang kosong, dan menceploskan bola ke gawang Utam Rusdiana.

Penampilan apiknya bersama klub membuatnya mendapat kesempatan membela Timnas Indonesia. Tercatat, pada 2012 ia pernah masuk skuat Timnas asuhan Nilmaizar untuk ajang Piala AFF 2012. Sayang, jam terbangnya tidak terlalu banyak.

Pada 2018 ini, Simon McMenemy memberikannya kesempatan lagi untuk membela skuat 'Garuda'. Rahmat pun tak segan untuk unjuk gigi. Dalam laga uji tanding melawan Perth Glory, 13 Maret 2019 silam, Rahmat sukses mencetak hat-trick dan membawa Indonesia menang 3-1.

video youtube embed

Atas apa yang ia lakukan ini, Rahmat pun kini mendapat julukan The Flash. Kecepatan yang dimilikinya jadi patokan kenapa julukan itu diberikan kepadanya.

Namun, seperti yang diujarkan oleh Thomas Alfa Ediosn bahwa jenius itu adalah 1% bakat dan 99% kerja keras, tentu ada semacam latihan yang dilakukan oleh Rahmat agar ia bisa jadi pemain yang secepat itu. Tips ini ia ungkapkan ketika ditemui awak kumparanBOLA di Stadion Pakansari.

"Saya tiap hari lari sprint. Ya, lari sprintnya seringnya 100 meter, itu saya lakukan beberapa kali," ujar Rahmat.

Memangnya lari 100 meter bisa meningkatkan kecepatan lari seseorang? Lari 100 meter ini, dalam cabang olahraga atletik, termasuk ke dalam lari jarak pendek. Dalam sebuah lari jarak pendek, kecepatan mutlak jadi salah satu faktor kemenangan.

Hal ini tentu berbeda dengan lari jarak menengah maupun lari jarak jauh. Dalam lari jarak menengah dan jauh, stamina pun jadi salah satu faktor penentu, selain kecepatan tentunya. Maka, sudah benar adanya Rahmat menjalani latihan lari 100 meter ini.

Kecepatan yang sering ia peragakan di atas lapangan, nyatanya memang lahir dari latihan rutin yang ia jalani. Mengamini ucapan dari Edison bahwa ada kerja keras yang mengiringi di balik kejeniusan seseorang.

***

Perkara kecepatan Rahmat ini, ada dua orang yang sudah mengendusnya sejak lama.

Penasihat teknik PSM pada 2014 silam, Najib Latandang, mengakui perkara kecepatan yang dimiliki oleh Rahmat ini, meski ia mengaku jika Rahmat juga kadang sedikit takut benturan.

“Dia memang pemain cepat, apalagi sepakannya kalau satu lawan satu dengan kiper,” ujar Najib.

Pelatih PSM medio 2014 silam, Assegaf Razak juga mengakui kecepatan yang dimiliki Rahmat ini. Oleh karena itu, ia mengaku memberikan kesempatan bagi Rahmat untuk unjuk gigi.

instagram embed

“Makanya dia dikasih kesempatan untuk mengisi posisi itu (winger kiri),” ujarnya.

Kecepatan memang jadi modal utama Rahmat untuk bersaing. Namun, yang tentu perlu disorot adalah, upaya Rahmat untuk tetap melatih kecepatannya. Ia sadar betul dirinya bukanlah Garrick maupun Allen, yang menjadi 'The Flash' karena bantuan alam.

Kini, sampai kapan Rahmat akan mampu berlari secepat kilat?