Kumparan Logo

Manchester City, Klub Sepak Bola untuk Tujuan Mulia

kumparanBOLAverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Starting XI Manchester City. (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Starting XI Manchester City. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Ada dua tim sepak bola ternama di Manchester, yaitu Manchester City dan Manchester United. Jika Manchester United dibentuk oleh sekumpulan pekerja kereta api, lain hal dengan Manchester City. Mereka dibentuk dengan tujuan yang lebih lembut dan mulia.

Secara prestasi, Manchester City bukan klub yang kelewat sukses. Dibandingkan dengan tetangganya, Manchester United, City belum ada apa-apanya. Sejauh ini, United tercatat sudah meraih 20 trofi Liga Inggris, sejak era Football League sampai era Premier League. Trofi ini belum ditambah dengan trofi lain, semisal trofi Piala FA, Piala Liga, Community Shield, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental.

Sedangkan City, sejauh ini, baru mengoleksi lima trofi Liga Inggris, sejak era Football League sampai era Premier League. Raihan trofi-trofi mereka yang lain, seperti trofi Piala FA, Piala Liga Inggris, dan trofi kompetisi Eropa mereka, masih kalah jauh dari Manchester United.

Dengan raihan ini, maka tak heran Sir Alex Ferguson, mantan manajer kawakan United, menyebut bahwa klub yang pernah bermarkas di Maine Road tersebut sebagai klub yang penuh dengan rasa iri, yang belum bisa mengejar rekor mentereng milik 'Setan Merah'.

"Manchester City adalah tim kecil dengan mental yang kecil pula. Yang bisa mereka lakukan adalah menjelek-jelekkan Manchester United. Mereka tak bisa jauh dari itu," ujar Ferguson dilansir Give Me Sport.

Namun, di balik inferioritas City atas United, yang semakin berkurang setelah Sheikh Mansour mengambil alih City pada 2008 silam, sebenarnya ada satu keunggulan lain yang dimiliki oleh Manchester City. Di awal pembentukannya, mereka memiliki tujuan yang cukup mulia. Tujuan yang berdasarkan kepada kedekatan mereka dengan gereja.

Masa Awal Manchester City: Afiliasi dengan Gereja

Sebelum menjadi Manchester City yang dikenal seperti sekarang ini, pada 1880 silam, City masih bernama St. Mark's. Nama St. Mark's ini tak lepas dari asal kesebelasan City yang dibentuk oleh para anggota gereja St. Mark, gereja yang berlokasi di wilayah West Gorton, Manchester Kehadiran klub sepak bola St. Mark's ini hanya berselang lima tahun dari pembentukan klub kriket St. Mark's pada 1875 silam.

Afiliasi klub sepak bola St. Mark's dengan gereja ini bukanlah tanpa alasan. Tujuan awal dari didirikannya klub sepak bola ini adalah untuk mengurangi aktivitas-aktivitas negatif yang kerap terjadi di wilayah West Gorton. Kala itu, para pemuda West Gorton acap melakukan aktivitas yang meresahkan warga seperti mabuk-mabukan, pencurian, ditambah dengan penggangguran yang merajalela di wilayah West Gorton.

Dengan didirikannya klub sepak bola St. Mark, yang kemudian berganti nama menjadi Gorton AFC pada 1884 lalu berganti nama menjadi Ardwick AFC pada 1887 (setelah pindah markas ke Hyde Road), perilaku negatif dari para pemuda ini semakin berkurang. Setiap akhir pekan, para pemuda West Gorton terlibat dalam berbagai aktivitas olahraga, seperti kriket, sepak bola, serta rugbi.

Hal ini bisa terjadi karena St. Mark sendiri, selaku gereja yang ada di daerah West Gorton, membawahi banyak klub olahraga, tidak hanya sepak bola saja. Pada akhirnya, kegiatan-kegiatan negatif itu pun berkurang dengan sendirinya, karena para pemuda mulai fokus berolahraga, terutama di akhir pekan. Kegiatan negatif berganti menjadi pertandingan olahraga lokal, tak terkecuali sepak bola.

X post embed

St. Mark sendiri melakukan laga pertama mereka pada November 1880 silam melawan Maccesfield. Pada pertandingan tersebut, St. Mark kalah dengan skor 2-1. Pertandingan itu merupakan tonggak dari perkenalan St. Mark dengan sepak bola Inggris.

Selepas itu, banyak hal yang dilalui oleh St. Mark. Ketika bernama Ardwick AFC, klub ini sudah menjadi klub yang cukup diperhitungkan di area Manchester, bersama dengan Newton Heath YLR (cikal bakal Manchester United). Sedikit menanggalkan kegerejaan mereka karena pindah ke wilayah selatan Manchester, kepopuleran didapat Ardwick AFC berkat trofi Manchester Cup yang mereka raih pada 1891.

Sempat mengalami masalah finansial pada musim 1893/1894, Ardwick kemudian berganti nama menjadi Manchester City Football Club. Setelah berganti nama menjadi Manchester City inilah, prestasi City seperti sebuah roller coaster, naik dan turun. Promosi dan degradasi adalah sebuah hal yang biasa dari Manchester City.

Evolusi Manchester City Sampai Saat Ini

Cukup lama City mengalami masa naik dan turun. Pernah suatu masa mereka menjuarai Football League First Division, pernah juga mereka menjuarai European Cup Winners' Cup pada 1970 silam, tapi pernah juga mereka menjadi pesakitan dengan degradasi ke Second Division. Malah, sejak 1976 sampai 2011, City sama sekali jarang meraih trofi kompetisi utama.

Baru pada 2008 silam, sejak Sheikh Mansour mengambil alih kepemilikan City, evolusi City mulai tampak. Dimulai dengan gelar juara Premier League pada musim 2011/2012, City mulai diperhitungkan sebagai salah satu tim besar Inggris, malah Eropa. Apalagi mereka sukses melenggang sampai ke babak semifinal Liga Champions pada musim 2015/2016 silam.

Kesuksesan mereka dalam menggaet Pep Guardiola pada musim 2016/2017 semakin membuat City diperhitungkan di kancah sepak bola Inggris dan Eropa. Ditambah lagi dengan ekspansi Sheikh Mansour yang membentuk City Football Group, semakin menegaskan bahwa mereka berusaha menguatkan pengaruh City di mata dunia.

Namun, jika ditelisik, sebenarnya pembentukan City Football Group, dengan Manchester City sebagai pusatnya, hampir serupa dengan apa yang dilakukan Gereja St. Mark di awal pembentukan City. Dengan memiliki banyak klub di belahan dunia yang berafiliasi di bawah bendera City, maka City secara tidak langsung membuka kesempatan bagi para pesepak bola dari daerah terpencil untuk menjadi pemain profesional.

X post embed

Beberapa kerja sama, seperti dengan akademi Right to Dream di Ghana, juga dengan klub-klub seperti NAC Breda, San Antonio FC, Girona, serta Atletico Venezuela, menjamin bakat-bakat yang ada di dunia terjaring dengan baik oleh City. Akademi yang mereka bangun di Inggris, Manchester City Elite Development Squad, juga bertujuan agar menjadi akademi penyumbang pemain berkualitas untuk Timnas Inggris.

Hasilnya memang belum terlihat (baru Phil Foden saja sejauh ini yang menonjol). Namun, di masa depan, kelak apa yang City lakukan ini, selain membuat mereka akan stabil berada di papan atas, juga akan memberikan sumbangsih nyata bagi sepak bola Inggris. Bahkan, dunia bisa merasakan sumbangsih City ini, karena bakat-bakat sepak bola akan tersaring dengan lebih baik.

***

Anda boleh menyebut Manchester City, saat ini, sebagai tim yang besar karena dana melimpah. Hal tersebut tidaklah salah, mengingat jika tidak ada kucuran dana Sheikh Mansour, bisa jadi sampai saat ini The Citizens masih menjadi tim medioker.

Namun, jika menilik tujuan awal City didirikan, serta tujuan dari ekspansi yang City lakukan, maka bisa dilihat bahwa City punya tujuan yang cukup mulia. Seperti ketika masih bernama St. Mark's, intinya, City dibangun agar masyarakat bisa menikmati sepak bola dan memiliki kegiatan alternatif lain berupa sepak bola.