Manchester United, Juventus, dan Kenangan yang Mengiringi

Tanpa banyak kata, semua orang sudah bisa mengetahui apa yang ada di benak Gary Neville malam itu. Kejadian ini sudah lama. Sudah hampir dua dekade silam. 18 Maret 1999 di Stadio Giuseppe Meazza, Milan, Neville menunjukkan muka masam yang sampai sekarang masih segar di memori kolektif para pencinta sepak bola.
Seharusnya, Neville berbahagia malam itu. Tim yang dibelanya, Manchester United, baru saja memastikan diri lolos ke semifinal Liga Champions usai menyingkirkan jagoan Italia, Internazionale. Setelah menang 2-0 di Old Trafford dua pekan sebelumnya, United sukses menahan imbang Nerazzurri 1-1 di Milan. 'Iblis Merah' pun lolos dengan agregat 3-1.
Akan tetapi, Neville saat itu juga tahu bahwa urusannya di Liga Champions belum selesai. Dalam hatinya, dia berharap agar United mendapatkan lawan mudah di semifinal agar jalan ke partai puncak bisa lebih mulus. Dalam bayangan Neville, Olympiacos adalah lawan yang menyenangkan untuk dihadapi sebelum final.
Sampai menit ke-84, satu kaki Olympiacos masih berada di semifinal. Setelah kalah 1-2 di pertandingan pertama, juara Yunani itu mampu mencetak satu gol yang membuat skor agregat jadi 2-2. Dalam situasi demikian, Predrag Djordjevic dkk. bakal lolos berkat aturan agresivitas gol tandang.
Akan tetapi, keinginan Neville tadi tak terwujud. Pada menit ke-85, Alessandro Birindelli memimpin serangan dari sisi kanan. Oleh Birindelli, bola dikirimkan ke kotak penalti lewat sebuah umpan silang. Kiper Olympiacos, Dimitrios Eleftheropoulos, keluar dari sarangnya untuk meninju bola. Akan tetapi, upaya sang kiper itu gagal.
Alih-alih menjauh dari gawang, bola justru mendarat mulus di kaki Antonio Conte. Tanpa pikir panjang, Conte langsung menendang bola ke gawang yang tinggal dijaga seorang bek Olympiacos. Gol Conte itulah yang akhirnya membuat mimpi buruk Neville menjadi nyata. Juventus menyamakan skor menjadi 1-1 dan berhak lolos ke semifinal dengan kemenangan agregat 3-2.
"Juventus lolos?" tanya Neville kepada jurnalis yang mewawancarainya di mixed zone. Setelah mendapat konfirmasi, air muka Neville langsung berubah. "Mampuslah kita," barangkali begitu yang ada di pikirannya.
Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya, bukan Manchester United yang mampus, melainkan Juventus. Setelah bermain imbang 1-1 di Old Trafford, Juventus langsung menggebrak dengan unggul dua gol cepat di Stadio delle Alpi. Akan tetapi, musim 1998/99 itu memang musimnya Manchester United. Dipimpin kapten karismatik Roy Keane, United melakukan comeback, menang 3-2, dan lolos ke final, sebelum jadi juara dengan mengalahkan Bayern Muenchen.
Meski demikian, ketakutan Neville itu bisa sangat dimengerti. Pasalnya, Juventus memang merupakan lawan yang begitu sulit dikalahkan oleh United pada masa itu. Sebelum musim 1998/99 itu, kedua klub sudah bertemu dalam dua kesempatan di musim 1996/97 dan 1997/98. Dari empat pertandingan di dua musim tersebut, United kalah tiga kali dan cuma menang sekali.
Satu dari empat laga itu begitu membekas di ingatan Neville, tepatnya ketika United dan Juventus bersua di Turin pada pertandingan fase grup musim 1996/97. Kebesaran Juventus, yang kala itu merupakan juara bertahan, begitu menggetarkan hati Neville yang masih belia. Dalam autobiografinya yang berjudul 'Red', kakak pelatih Timnas Wanita Inggris, Phil Neville, itu bercerita soal pertandingan tersebut.
"Setahun sebelumnya kami disingkirkan Rotor Volgograd di babak pertama Piala UEFA. Kami boleh jadi juara di Inggris, tetapi bagi tim-tim di seluruh dunia kami sama sekali tidak menakutkan. Yang paling parah adalah ketika kami harus menghadapi fase grup Liga Champions di musim gugur 1996," tulis Neville.
"Di situ, kami kehilangan rekor 40 tahun tak terkalahkan di kandang, dikalahkan oleh Fenerbahce, dan takluk dua kali dari Juventus -- sang juara Eropa dan salah satu tim terbaik yang pernah kuhadapi."
"Juventus saat itu luar biasa bagus. Begitu besar, begitu kuat, dengan skuat yang berisikan talenta-talenta hebat. Berdiri di sebelah mereka di terowongan saja rasanya begitu menakutkan. Aku tidak pernah menghadapi tim setangguh itu: [Ciro] Ferrara dan [Paolo] Montero di belakang, [Didier] Deschamps, Conte, dan [Zinedine] Zidane di tengah, dan [Alessandro] Del Piero bersama dua penyerang berbahaya, [Alen] Boksic dan [Christian] Vieri."

"Semua pemain itu adalah pemain-pemain besar dengan nama-nama besar. Kami kalah 0-1 dari mereka di Turin, tetapi bisa saja kami kalah 0-10. Belum pernah kami dihajar sedemikian rupa di lapangan. Mereka, para pria dewasa itu, mengajari kami yang masih bocah ini bagaimana cara bermain bola yang baik dan benar."
"Sepanjang pertandingan, kami sama sekali tak punya peluang berarti. Manchester United bermain sembilan puluh menit tanpa menembak, tanpa bisa menebar ancaman. Dalam 602 pertandingan sepanjang karier, cuma sekali aku merasakan seperti itu," papar pria yang sekarang bekerja sebagai pandit Sky Sports itu.
Kisah Neville soal Juventus itu sebenarnya senada dengan apa yang juga sudah pernah diucapkan oleh Sir Alex Ferguson. Hanya ada satu perbedaan. Jika kala itu Neville begitu syok akan kehebatan para pemain Juventus, Sir Alex betul-betul tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada sosok Marcello Lippi.
Pada dasarnya, di sepanjang dekade 1990-an itu, Sir Alex cuma punya satu tujuan. Yakni, menjadi seperti Lippi. Dia ingin agar para pemain United bermain seperti tim asuhan Lippi. "Jangan lihat taktik atau tekniknya," kata Sir Alex. "Tetapi lihat bagaimana hasrat mereka untuk meraih kemenangan."

Selain itu, Sir Alex juga pernah terperangah melihat keagungan sosok Lippi yang elegan dan necis. "Waktu itu aku sedang di Turin dan Signor Lippi sedang duduk di bangku cadangan. Dia mengenakan mantel kulit dan mengisap cerutu kecil dengan begitu tenang. Sedangkan, aku tampak seperti seorang buruh yang megap-megap kehujanan," kenang Sir Alex suatu kali.
Dari apa yang dikatakan Neville dan Sir Alex tersebut, ada satu hal yang bisa dijadikan hipotesis, yaitu bahwa ada suatu masa ketika Manchester United ingin bisa jadi sebesar Juventus. Pada akhirnya, United mampu melakukan itu. Bahkan, kini mereka sudah berhasil melampaui Juventus, setidaknya dari segi kekayaan dan popularitas.
Bahkan, keberhasilan United melampaui Juventus itu sudah terlihat ketika terakhir kali mereka bertemu pada musim 2002/03. Saat itu, di fase grup kedua, The Red Devils sukses mengalahkan The Old Lady dua kali. Sayang, United kala itu harus dijegal oleh Real Madrid di fase gugur, sementara Juventus akhirnya justru bisa melaju ke final sebelum dibekuk Milan via adu penalti.
Manchester United dan Juventus, pada dekade 1990-an, adalah rival yang sudah berulang kali bertemu. Namun, tak ada setitik pun kebencian di antara mereka. Rasa hormat adalah sesuatu yang dikedepankan setiap kali mereka bersua. Seharusnya, tak ada alasan untuk menanggalkannya ketika dua kesebelasan besar ini bertemu lagi Rabu (24/10/2018) dini hari WIB nanti.
