Kumparan Logo

Memangnya Semengerikan Apa Bermain di Stoke pada Musim Dingin?

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kandang Stoke City yang "angker" itu. (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Kandang Stoke City yang "angker" itu. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Tidaklah mengejutkan jika salah satu perdebatan terpanas di dunia sepak bola datang dari salah satu sosok paling kontroversial. Perdebatan yang dimaksud adalah soal apakah Lionel Messi bakal bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya jika dia harus bermain di malam yang dingin, basah, dan berangin di Stoke-on-Trent. Adapun, sosok yang pertama kali melontarkan gagasan ini adalah Andy Gray.

Ketika itu, Andy Gray dan pasangan sehidup-sematinya, Richard Keys, masih bekerja untuk Sky Sports, sebelum mereka berdua akhirnya dipecat karena melontarkan guyonan seksis untuk hakim garis perempuan, Sian Massey. Kala itu, di tahun 2010, dalam sebuah acara pratinjau jelang laga Manchester City melawan Everton, tiba-tiba saja obrolan nyangkut di Lionel Messi dan gagasan itu pun akhirnya terlontar.

Gagasan Gray ini sendiri dalam perjalanannya berubah menjadi sebuah anekdot. Ketika ada seseorang--tak hanya pesepak bola--yang melakukan sebuah aksi luar biasa, maka orang-orang akan bergurau dengan mengatakan, "Ya, tetapi apakah dia bisa melakukannya di Selasa malam yang dingin dan basah di Stoke?"

Bagi sebagian orang, gurauan itu memang (sempat) menyenangkan dan cukup populer di media sosial. Namun ternyata, tidak semua orang menganggap bahwa itu adalah gurauan. Menurut kolomnis The Guardian, Rob Smyth, dalam artikelnya yang dirilis pada 2011, ternyata memang ada sebagian orang yang betul-betul menganggap kandang Stoke City sebagai tempat paling angker di dunia sepak bola. Pada akhirnya, di tangan orang-orang ini, ia menjadi sebuah mitos.

Namun, mitos ini sebenarnya sudah pernah dimentahkan oleh Jonathan Jurejko dari BBC. Tahun 2016 lalu, dia menunjukkan bahwa rupanya, kandang Stoke City tidaklah semengerikan yang dibayangkan orang-orang.

Dari 13 pertandingan sejak Stoke pertama kali promosi pada musim 2008/09 sampai musim 2015/16, tim tamu rata-rata berhasil membawa pulang 0,9 poin. Malah, kandang Stoke ini masih kalah angker dibanding Craven Cottage milik Fulham (0,7 poin per laga) dan Liberty Stadium milik Swansea City (0,6 poin per laga). Dari situ, diketahui bahwa pertandingan tandang ke bet365 Stadium (dulu Britannia Stadium) hanyalah yang tersulit kesembilan di Premier League.

Yang lebih mencengangkan lagi, Jurejko juga menunjukkan bahwa pada musim dingin, di laga tengah pekan, Stoke City sebenarnya lebih jarang menang. Perbandingannya, di cuaca yang lebih hangat, Stoke bisa memenangi 46% laga kandangnya. Sementara, di cuaca dingin, The Potters hanya mampu memenangi 38% laga.

Stoke City tidak semengerikan itu di musim dingin. (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Stoke City tidak semengerikan itu di musim dingin. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Namun, ada satu hal dari riset Jurejko yang sedikit membuktikan bahwa pernyataan Gray ada benarnya, yakni persentase kekalahan Stoke yang memang lebih kecil ketika bermain di cuaca dingin, ketimbang saat berlaga di cuaca hangat. Ketika bermain di cuaca dingin, persentase kekalahan mereka adalah 14%. Sedangkan, ketika bermain di cuaca hangat, mereka kalah di 26% laga kandang. Namun, meski tidak kalah, hasil terbaik yang mereka raih di kala dingin adalah imbang di mana ada 48% laga yang berakhir tanpa pemenang.

Lalu, apa yang sebenarnya menjadi dasar dari pernyataan Andy Gray tersebut? Apakah memang musim dingin Stoke-on-Trent seburuk itu, atau adakah sebab lain?

Stoke-on-Trent, sebagai sebuah kota yang terletak di Midlands, memang tergolong lebih dingin dibanding kota-kota di Inggris Selatan seperti London, Southampton, Watford, dan semacamnya. Namun, ia juga bukanlah yang terdingin, juga bukan yang paling berangin.

Berdasarkan data dari Met Office--badan meteorologi Inggris--, Stoke-on-Trent hanya menduduki ranking ke-24 pada daftar kota terdingin di Inggris. Di musim dingin, suhu terendah di sana "hanya" 2°C. Sementara, Glasgow yang merupakan kota terdingin suhu terendah bisa mencapai -12,5 °C.

Suporter Stoke City yang berisik itu. (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Suporter Stoke City yang berisik itu. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Kemudian, untuk urusan angin, Stoke-on-Trent juga bukanlah kota paling berangin. Malah, menurut data yang dihimpun Mirror, tidak ada kota di Midlands yang dikenal sebagai kota berangin, mengingat lokasi geografis mereka yang terkurung daratan.

Adapun, ada yang menyebabkan kandang Stoke City kemudian menjadi tempat yang tidak menyenangkan untuk disambangi adalah lapangan stadion yang kecil, suporter yang berisik, dan tentu saja, Tony Pulis. Dengan permainan sepak bolanya yang keras menjurus kasar, Stoke City di bawah asuhan manajer asal Wales itu menjadi tim yang begitu dihindari. Bukan apa-apa. Tim-tim lawan itu hanya malas kalau nanti ada cedera parah yang menimpa pemainnya.

Kalau tak percaya, tanya saja Arsenal yang sempat kehilangan Aaron Ramsey selama lebih dari setahun karena patah kaki. Cedera itu didapat Ramsey usai ditekel dengan brutal oleh Ryan Shawcross, kapten Stoke, di Britannia Stadium. Tak heran jika Arsenal yang (ingin menjadi klub dengan gaya bermain paling) kontinental itu kemudian begitu membenci Stoke.

Arsene Wenger di Stoke-on-Trent. (Foto: Reuters/Andrew Yates)
zoom-in-whitePerbesar
Arsene Wenger di Stoke-on-Trent. (Foto: Reuters/Andrew Yates)

Akan tetapi, kini Pulis sudah tak lagi mengomandoi Stoke. Pria 59 tahun itu memang kini masih berada di Midlands, tepatnya di West Bromwich dan musim lalu, terbukti bahwa resep Pulis ini masih berfungsi dengan sempurna. Dalam laga yang dihelat di The Hawthorns, Arsenal ditekuk West Bromwich Albion 1-3.

Sekarang ini, Stoke dilatih oleh Mark Hughes dan menurut Danny Murphy, Stoke di bawah Hughes tak lagi mengerikan. Malah, masih menurut riset Jurejko itu, persentase kemenangan Stoke di tengah pekan musim dingin menurun sampai 30% jika dibandingkan pada era Pulis.

Terakhir, kembali ke Lionel Messi tadi. Bisakah Lionel Messi menjadi Lionel Messi di kandang Stoke City?

Pada bulan Januari 2016 lalu, Bojan Krkic sempat menjawab pertanyaan itu dari jurnalis Guillem Balague. "Saya sudah bertanya ke Messi soal itu," kata Krkic seperti dikutip dari ESPNFC.

Messi yakin tetap bisa main bagus di Stoke. (Foto: Reuters/Sergio Perez)
zoom-in-whitePerbesar
Messi yakin tetap bisa main bagus di Stoke. (Foto: Reuters/Sergio Perez)

"Dia bilang, 'Orang-orang yang mengatakan demikian seharusnya tahu bahwa ketika masih di Rosario dulu, saat aku masih 11 tahun, aku bermain dengan lapangan yang berlubang di mana-mana dan ada banyak kaca di permukaannya.' Dan dia bermain bagus di sana," sambung pemain 27 tahun ini.

Namun, itu baru kata Messi. Lalu bagaimana dengan faktanya?

16 dari 37 gol yang tercipta di Stoke-on-Trent pada musim dingin, dalam kurun waktu 2008/09 s/d 2015/16, dicetak oleh pemain asing. Dari kubu Stoke, ada tujuh pemain asing yang sudah pernah mencetak gol di kandangnya, yakni Mamady Sidibe, Tuncay Sanli, Abdoulaye Faye, Robert Huth, Ricardo Fuller, Kenwyne Jones, dan Joselu.

Dengan demikian, terbukti sudah bahwa anggapan "Selasa malam berangin di Stoke" itu hanyalah mitos. Kini, mungkin sudah saatnya bagi publik sepak bola Inggris untuk mencari alasan-alasan lain untuk menutupi inferioritas mereka.