Kumparan Logo

Memori Grande Torino dan Superga di Derby della Mole

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Skuat Grande Torino yang wafat pada Bencana Udara Superga 1949. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Skuat Grande Torino yang wafat pada Bencana Udara Superga 1949. Foto: Wikimedia Commons

Sebelum musim 2018/19 dimulai Torino menjalani sebuah laga persahabatan menghadapi klub Brasil, Chapecoense. Dalam perjalanan sejarahnya, kedua tim memang nyaris tak pernah beririsan. Apalagi, mereka berasal dari dua negara yang dipisahkan jarak geografis begitu besar. Akan tetapi, ada tragedi yang menyatukan mereka.

28 November 2016, sebuah pesawat Avro RJ85 yang dioperasikan oleh LaMia jatuh di hutan belantara Kolombia. Ketika jatuh, pesawat sewaan berukuran kecil itu tengah mengangkut rombongan pemain dan staf serta wartawan yang meliput pertandingan Chapecoense. Saat itu mereka sedang dalam perjalanan menuju Medellin untuk menjalani laga final Copa Sudamericana.

Pesawat jatuh dan 71 orang meninggal dunia. Sembilan belas di antaranya adalah pemain Chapecoense. Laga final tadi dibatalkan dan Chapecoense pun diberi gelar juara secara otomatis sebagai bentuk penghormatan.

Meskipun kehilangan banyak pemain, Chapecoense kini sudah bangkit kembali. Buktinya, mereka berhasil menjadi juara di negara bagian Santa Catarina pada musim 2017. Namun, itu tak serta merta membuat mereka lupa akan jasa para pahlawan terdahulunya. Pertandingan melawan Torino itu tadi merupakan salah satu cara mereka memberi penghormatan.

Torino melakoni laga persahabatan melawan Chapecoense. Foto: Dok. Torino FC

4 Mei 1949, hampir 70 tahun silam, Torino mengalami kejadian serupa. Sekembalinya dari Lisbon, Portugal, usai menjalani laga persahabatan kontra Benfica, 27 pemain dan staf Torino meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat di Bukit Superga, dekat Turin. Pada hari itulah Torino kehilangan skuat terbaiknya sepanjang masa.

Skuat Torino yang meninggal dalam Bencana Udara Superga itu sampai saat ini dikenal sebagai Grande Torino, atau Torino yang Agung. Selama lima musim berturut-turut, dari 1942-43 sampai 1948-49, Torino berhasil merajai Serie A dengan pemain-pemain seperti Valentino Mazzola, Romeo Menti, Mario Rigamonti, dan Ezio Loik. Pemain-pemain itu pun mendominasi Timnas Italia asuhan Vittorio Pozzo.

Tidak seperti Chapecoense, Torino kesulitan bangkit. Tak cuma itu, bencana udara itu juga membuat Torino seperti dikutuk. Pada 1967, misalnya, pemain andalan mereka Gigi Meroni meninggal dunia usai ditabrak mobil saat sedang menyeberang jalan. 'Menariknya', si penabrak itu, Attilio Romero, adalah suporter Torino yang di kemudian hari bakal menjadi presiden klub.

Meski sulit untuk bangkit, Torino bukannya sama sekali tak berprestasi. Pada 1975/76 mereka merengkuh Scudetto ketujuhnya. Scudetto itu mengantarkan mereka ke ajang European Cup yang merupakan cikal bakal Liga Champions. Sayangnya, Torino harus rontok di tangan Borussia Moenchengladbach.

X post embed

Setelah itu, pada musim 1991/92, Torino asuhan Emiliano Mondonico berhasil melaju sampai ke final Piala UEFA. Akan tetapi, mereka harus mengakui kemenangan Ajax yang unggul dalam agresivitas gol tandang di final dua leg. Untungnya, pada musim berikutnya, Torino mampu mendapat gelar hiburan berupa trofi Coppa Italia yang mengantarkan mereka ke Piala Winners.

Namun, ya, hanya sebatas itulah pencapaian Torino pasca-Superga. Mereka bahkan sempat hampir bangkrut sebelum diselamatkan Urbano Cairo, presiden mereka saat ini. Di bawah kepemimpinan Cairo, Toro perlahan berhasil menstabilkan diri di Serie A. Salah satu wujud keberhasilan Cairo adalah kelolosan Torino ke Liga Europa musim 2014/15.

Kini, Torino membidik target yang lebih tinggi lagi: Liga Champions. Untuk bisa ke sana, mereka harus bersaing dengan Atalanta, Roma, Milan, serta Lazio. Namun, tak sampai di situ saja halangan yang harus dihadapi pasukan Walter Mazzarri. Pada Sabtu (4/5/2019) dini hari WIB, Torino bakal berhadapan dengan rival sekota yang sudah lama tak mereka kalahkan, Juventus.

Terakhir kali Torino menang atas Juventus adalah pada musim 2014/15 dengan skor 2-1. Hampir empat tahun sudah berlalu dan Torino bakal kembali berusaha meraih hasil optimal pada Derby della Mole edisi kedua musim 2018/19. Pertandingan derbi ini sendiri bakal digelar bertepatan dengan peringatan 70 tahun Bencana Udara Superga. Meski laga akan dilangsungkan di Allianz Stadium, Torino tidak gentar.

Blaise Matuidi mencetak gol ke gawang Torino pada Derby della Mole. Foto: Reuters/Massimo Pinca

"Kami tak boleh takut karena kami butuh poin. Kami tidak boleh terkesima dengan sosok Cristiano Ronaldo dan bintang-bintang lainnya. Kami ingin melakukan sesuatu yang spesial dan itu akan kami camkan baik-baik di pikiran kami," kata bek Armando Izzo seperti dikutip dari Channel News Asia.

Keyakinan juga diungkapkan Cairo usai Torino mengalahkan Milan pekan lalu. Perlu dicatat bahwa itu adalah kemenangan pertama Torino atas Milan sejak 2001. Seusai laga Cairo mengutarakan optimismenya meski tetap mengingatkan agar para pemain Torino tak jemawa.

"Yang kami perlu lakukan saat ini adalah tetap menjejakkan kaki di tanah. Jangan dulu berpikir soal Liga Champions karena di masa-masa seperti ini yang penting adalah bermain konsisten. Sekarang kami harus memikirkan laga melawan Juventus. Menurutku, perebutan tempat ke kompetisi Eropa masih sangat terbuka, tetapi Torino yang ini punya determinasi tinggi," tutur Cairo.

Ketika Mazzola dan kawan-kawan meninggal dunia dulu, kompetisi antarklub Eropa belum secara resmi digelar. Mereka kala itu sukses mendominasi Italia tetapi tak pernah menularkan kedigdayaannya ke level yang lebih tinggi. Saat ini, Torino memang belum bisa kembali menjadi raja di Italia. Akan tetapi, setidaknya, Andrea Belotti cs. berkesempatan untuk tampil di Liga Champions, ajang paling elite yang tak pernah dirasakan para pendahulunya.