Memutar Ulang Memori Partai Sengit Persib vs Persija

Pada akhir pekan ini, Sabtu (22/7/2017), mata pecinta sepak bola nasional akan tertuju ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Mengapa? Karena pertarungan sengit sarat gengsi akan tersaji ketika Persib Bandung menjamu Persija Jakarta dalam lanjutan Gojek Traveloka Liga 1.
Sejarah panjang pertemuan kedua tim --dibumbui rivalitas di antara kedua suporter-- kemudian semakin menambah "sakral" laga nanti. Sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, partai kali ini pun menjadi momentum pembuktian kepada pendukung masing-masing.
Untuk menambah hangat suasana, kumparan (kumparan.com) mencoba untuk memutar ulang memori mengenai pertemuan antara Persib vs Persija semenjak era Indonesia Super League (ISL) dihelat untuk kali pertama. Berikut lima partai Persib vs Persija yang dianggap paling menarik.
ISL 2008/09
Partai yang dihelat di Stadion Siliwangi pada 20 Juli 2008 ini menjadi bentrok perdana kedua tim ketika ISL pertama kali digelar. Pertandingan sejatinya berjalan menarik dengan saling jual beli serangan sejak menit awal. Akan tetapi, ulah suporter Persib di akhir babak kedua membuat keseruan laga ini ternoda.
Persib, yang dilatih oleh Jaya Hartono ketika itu, mengandalkan Lorenzo Cabanas sebagai playmaker untuk mendukung duet Zaenal Arif dan Hilton Moreira di lini depan. Tensi tinggi langsung tersaji sejak awal dan Persib sukses membuka keunggulan lewat sepakan Arif saat laga baru berjalan semenit.
Namun, gol itu hanya bertahan sembilan menit setelah berhasil disamakan oleh Abanda Herman lewat sundulan memanfaatkan sepak pojok. Persija yang dilatih Danurwindo tampil lebih agresif di babak kedua. Itu ditandai dengan gol dari Robertino Pugliara pada menit ke-62.

Persija bahkan semakin menjauh menyusul gol dari Bambang Pamungkas pada menit ke-74. Gol itu sempat menuai perdebatan karena Bambang dianggap off-side. Bobotoh pun mulai memantik kericuhan.
Persib memiliki kesempatan untuk memperkecil kedudukan setelah Hilton dilanggar di dalam kotak penalti. Sayang, eksekusinya masih bisa ditepis kiper Hendro Kartiko.
Kegagalan eksekusi penalti inilah yang semakin membuat puluhan ribu bobotoh murka sampai merangsek ke tepi lapangan. Pertandingan sempat dihentikan selama 20 menit.
Ketika dilanjutkan, Persib benar-benar mampu memperkecil kedudukan melalui penalti kedua. Kali ini, yang menjadi eksekutor adalah Rafael Bastos yang sukses mengecoh Hendro.
ISL 2009/10
Musim ini, Persija kurang beruntung karena harus menggelar laga melawan Persib di Malang, Jawa Timur. Itu terjadi setelah Persija tak mendapatkan izin menggelar laga di Ibu Kota.
Sebelum laga, suasana panas sudah terasa. Tha Jakmania menjadi sasaran teror ketika berniat berangkat menuju Malang. Kereta api (KA) Matarmaja jurusan Jakarta - Malang yang mengangkut sekitar 600 The Jak dilempari batu selepas Stasiun Cikampek sampai Cirebon.
Partai yang dihelat pada 10 Juni 2009 ini akhirnya terlaksana di Stadion Gajayana. Ketegangan di dalam lapangan semakin meningkat manakala Bobotoh yang awalnya dilarang untuk datang, nekat untuk masuk stadion. Jadilah, The Jak dan Bobotoh berada dalam satu stadion, hanya dipisahkan tribun berbeda.

Di atas lapangan, Persib meraih keunggulan lebih dahulu ketika laga memasuki menit ke-49 lewat aksi sang striker, Airlangga Sucipto. Akan tetapi, gol itu mampu dibalas oleh striker asing Persija, Fabio Lopez, di menit 54.
Ketika laga sepertinya akan berakhir dengan imbang, Cristian Gonzales tampil sebagai pahlawan kemenangan menyusul golnya pada menit ke-88. Satu gol itu pula menjadikannya sebagai top skorer ISL 2009/10 dengan 28 gol.
ISL 2011/12
Setelah menaklukkan Stadion Siliwangi di musim perdana ISL, Persija untuk kali kedua mampu membuat Bobotoh bermuram durja. Kali ini, Stadion si Jalak Harupat menjadi saksi kehebatan Persija kala menekuk tuan rumah dengan skor 3-2 pada 18 Maret 2011.
Di luar dugaan, Persija sudah unggul dengan dua gol di babak pertama. Gol pembuka dilesakkan Bambang Pamungkas pada menit ke-15 dan Oliver Makor pada lima menit jelang turun minum.
Persib bangkit di babak kedua dengan memperkecil kedudukan pada menit ke-49 lewat eksekusi penalti Matsunaga Shohei. Akan tetapi, memasuki menit 68, Bambang berhasil membawa Persija kembali unggul.
Sepuluh menit jelang laga usai, Persib mampu mempetipis ketinggalan lewat Abanda Herman. Akan tetapi, pada menit sisa sang tuan rumah gagal menambah gol sehingga harus menahan malu di hadapan suporter sendiri.
ISL 2012/13
Kali ini ada yang berbeda dari gelaran ISL. Kompetisi besutan PT Liga Indonesia ini tercatat dalam sejarah sebagai breakaway league menyusul tak diakuinya oleh PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin.
Meski demikian, status itu nyatanya tak mengurangi gengsi pertandingan. Persija bertindak sebagai tuan rumah dengan menjamu Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 27 Mei 2012.
Sebelum laga, atmosfer panas seperti biasa sudah tercium. Akan tetapi, kali ini ada usaha untuk meredam konflik di antara kedua belah suporter. Maka, terciptalah pertemuan antara sesepuh Viking dan The Jakmania.
Pertemuan yang dihelat sehari sebelum pertandingan itu menghasilkan kesepakatan damai. Itu direalisasikan dengan bentangan spanduk yang dipegang oleh pemain Persija dan Persib yang bertuliskan “The Jak-Viking Bersatulah”.
Namun, hal itu rupanya hanya berlaku di tataran elit. Sementara, di akar rumput, kekerasan tetap terjadi. Laga itu bahkan menelan tiga orang korban jiwa serta beberapa orang lainnya mengalami luka akibat dikeroyok massa.
Oke, kembali ke lapangan. Menurunkan duet Marcio Souza dan Noh Alam Shah, Persib tampil trengginas. Benar saja, mereka mampu unggul terlebih dahulu lewat sepakan jarak dekat Atep.
Namun, tuan rumah mampu memblasnya lewat gol Ramdani Lestaluhu di babak kedua. Persija bahkan berbalik unggul lewat tandukan Precious Emuejeraye memanfaatkan sepak pojok.
Gol bek asal Singapura itu tampaknya bakal memberikan kemenangan bagi Persija. The Jak pun bernyanyi dengan riuhnya. Akan tetapi, malapetaka hadir di penghujung laga.
Hanya dua menit jelang waktu normal usai, Maman Abdurrahman memaksa laga berakhir imbang setelah sepakannya mengarah ke atas gawang tak bisa dihentikan kiper Andritany Arhdiyasa.
Kekecewaaan tampak jelas di wajah penggawa Persija yang gagal mempersembahkan kemenangan untuk sekitar 50.000 The Jak yang memadati stadion.
ISL 2013/14
Lagi, partai antara Persija vs Persib harus dihelat di tempat netral. Kali ini, Stadion Maguwoharjo, Sleman, dipilih sebagai venue-nya.
Berbeda ketika menjalani partai usiran pada ISL 2009/10 yang relatif aman, kali ini pertandingan yang berlangsung pada 28 Agustus 2013 diwarnai bentrokan oleh Viking dan The Jak yang sama-sama hadir ke stadion.
Babak kedua pertandingan bahkan sempat dihentikan karena lemparan botol mineral yang masuk ke dalam stadion. Pada momen ini, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo yang turut hadir mencoba ikut menenangkan masa. Sampai akhirnya berbuah momen viral di media sosial ketika ia salah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Tensi pertandingan sudah meninggi sejak menit-menit awal babak pertama. Persija yang bertindak sebagai tuan rumah beberapa kali mengancam gawang Persib yang dikawal I Made Wirawan. Usaha mereka untuk membuka skor akhirnya terwujud pada menit ke-22.
Keputusan M. Ilham untuk melepaskan tendangan jarak jauh, sukses merobek jala Persib. Namun sebelum masuk ke gawang Made, bola sempat menyentuh Nasser Al Sebai sehingga berubah arah.
Di babak kedua. Persib berhasil membalas lewat kaki Sergio van Dijk. Berawal dari umpan silang M. Ridwan, bola yang jatuh ke mulut gawang Andritany Ardhiyasa coba disapu oleh bek Persija. Akan tetapi, bola liar malah mengarah ke Van Dijk. Dengan sekali tendangan, sang bomber sukses merobek jala Persija meski sempat dihadang oleh Fabiano Beltrame.
Bagaimana, adakah di antara laga tersebut yang menjadi kenangan terindah?
