Mengapa Apparel asal Inggris, Umbro, Nekat Mensponsori Klub Liga 1?

Di Benua Biru, sepak bola sudah sejak lama menjadi sebuah industri. Pendek kata, aspek apapun terkait dengan sebuah klub bisa dijual. Manchester United bisa menjadi cerminan nyata dari sepak bola industri itu.
Kondisi jauh berbeda terjadi di Indonesia. Jangankan industri, dari tahun ke tahun, dunia si kulit bulat Tanah Air masih saja berkutat dengan perkara regulasi yang kerap berujung drama.
Kendati demikian, keadaan itu tampaknya tak membuat Umbro gentar. Apparel asal Inggris itu berani memutuskan untuk bekerjasama dengan dua klub Liga 1, yakni PSM Makassar dan Barito Putera mulai musim depan. Tak hanya setahun, Umbro bahkan langsung mengikat kontrak dua tahun bersama PSM dan tiga tahun dengan Barito.
Langkah yang diambil Umbro tentu saja menimbulkan segudang pertanyaan. Pasalnya, sejauh ini, jarang apparel kelas satu dunia mau berinvestasi ke klub Indonesia.
Apalagi, Umbro terkenal sebagai salah satu apparel besar dunia. Kini, terdapat 130 klub di seluruh dunia yang menggunakan Umbro sebagai apparelnya. Di ajang Premier League saja sudah ada Everton dan West Ham United yang musim ini menggunakan jasa Umbro.
Untuk menjawab itu, kumparan (kumparan.com) berbincang dengan CEO Umbro Indonesia, Ryan Gozali, di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (28/12/2017). Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana awalnya bisa terjalin kerjasama tersebut?
Kami mulai penjajakan sekitar tiga bulan lalu. Saat musim mau berakhir. Mutual saja, tidak ada siapa yang mendekati siapa. Saya dengan pihak klub bertemu, lalu ngobrol soal kerjasama ini. Akhirnya, Desember kami sepakat yang dituangkan ke dalam kontrak.
Apa pertimbangan memilih PSM dan Barito?
Kami melihat dua klub ini punya manajemen yang memang belum sempurna, tapi sudah lumayan berkembang. Owner mereka punya visi jangka panjang dan punya tekad untuk membuat klub mereka besar.
Pertimbangan lain karena PSM adalah klub terbesar di Sulawesi, sementara Barito jadi salah satu terbesar di Kalimantan, meskipun ada klub-klub lainnya. Jadi, kami dapat dua klub terbesar di satu pulau.
Kami juga ingin membuktikan bahwa klub luar Pulau Jawa itu tidak ketinggalan dengan klub-klub di Pulau Jawa. Mereka secara prestasi bahkan lebih baik musim lalu. Karena selama ini kita ‘kan cenderung Jawasentris.

Mengapa Umbro nekat nyemplung ke sepak bola Indonesia? Bukankah Anda juga sudah tahu segala dinamika yang terjadi sepanjang musim lalu?
Indonesia itu diibartkan sebagai sleeping giant (raksasa yang sedang tertidur). Negeri ini, bahkan oleh orang luar, dilihat punya potensi sangat besar. Hampir mayoritas penduduknya gila bola. Cuma permasalahannya mengapa pasar yang begitu besar itu tidak berbanding lurus dengan hasil, baik di timnas maupun liga.
Kami juga paham manajemen klub-klub di sini lebih fokus kepada apa yang terjadi di lapangan. Manajemennya bukan berbasis bisnis. Jadi, mereka lebih memilih mengontrak pemain asing dengan harga miliaran yang kualitasnya juga belum jelas, ketimbang harus menggaji seorang staff, katakanlah, di bawah Rp 10 juta untuk khusus mengurusi soal merchandise, misalnya.
Karena itu, sponsorship kami juga unik. Umbro bukan hanya memberikan produk ke mereka, tapi juga minta klub untuk berjuang. Kami adalah partner dari klub. Karena merchandise ini sebenarnya adalah bagian penting dari klub dengan pemasukan yang lumayan. Hanya di sini belum digarap dengan serius.
Berjuang seperti apa yang Anda maksud?
Untuk bisa menjaga merchandise ini sebagai pemasukan klub, kami minta mereka juga untuk bisa komitmen untuk menjaganya peredarannya. Selama ini, barang-barang bajakan bisa beredar karena tidak ada kontrol dari klub. Karena, barang-barang KW itu yang produksi juga sebenarnya fans klub itu sendiri.
Fans dan klub ini ‘kan dua instansi yang berbeda tapi saling membutuhkan. Tapi, sejauh ini fans yang lebih sering memakan klub dengan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri seperti memproduksi barang KW. Akhirnya, klub juga tidak dapat revenue dari merchandise itu.
Tapi, di sisi lain salah satu alasan mengapa barang KW juga bisa beredar adalah karena fans susah mencari jersey aslinya. Karena itu, dengan masuknya Umbro ke PSM dan Barito, kami minta mereka untuk mengontrol penjualan jersey secara langsung. Karena ini bukan soal supply-demand. Demand sudah ada tapi supply yang kurang.
Bukankah jersey asli identik dengan harganya yang selangit?
Tidak. Keunggulan Umbro dari produk apparel sejenis lainnya adalah kami bisa memasang harga sendiri. Jadi, kami buat tiga level jersey untuk PSM dan Barito dengan harga Rp 599.000, lalu Rp 399.000, dan terakhir Rp 199.000. Yang membedakan adalah bahannya.
Kami minta klub juga harus mau mengedukasi suporternya. Kalau memang mengaku cinta dengan klub, maka belilah produk aslinya. Kalau dilihat, harga Rp 199.000 saya pikir terjangkau untuk sebuah jersey asli. Apalagi, dengan beli satu jersey asli, akan dapat satu tiket menonton pertandingan. Masa cuma beda Rp 50 ribu, masih mau beli barang KW?

Jadi, apakah dengan menjadi sponsor apparel dari dua klub itu, Umbro bisa meraup keuntungan?
Klub ‘kan beli barang dari kami. Mereka tinggal mendistribusikannya. Di tahun pertama juga sudah untung kok. Saya bisa bilang keuntungannya lumayan. Tapi, bagaimana caranya saya nggak bisa kasih tahu he he he…
Apakah setelah PSM dan Barito, Umbro akan menyasar klub Liga 1 lainnya?
Bagi kami, idealnya dalam satu liga itu bisa bekerjasama dengan lima klub. Saat ini sudah ada dua klub, kami sedang penjajakan dengan dua klub di Pulau Jawa. Mungkin realisasinya tahun depan.
Dan, nanti setelah masuk tahun kelima, kami coba buat buka kemungkinan mensponsori Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Karena saat itu, kontrak dengan apparel saat ini sudah akan habis.
Sebenarnya, kami sudah sempat ditawari (untuk mensponsori Timnas Indonesia), tapi kami belum siap. Kami harus besar dulu. Sekarang kami belum punya toko. Percuma jadi sponsor timnas, tapi tidak bisa jual karena tidak punya toko. Makanya, kami mulai dulu dari klub-klub di Liga 1.
