Kumparan Logo

Menyanyikan Kebangkitan Michael Keane Lewat Napas The Stone Roses

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keane kala diperkenalkan Everton. (Foto: Twitter @Everton)
zoom-in-whitePerbesar
Keane kala diperkenalkan Everton. (Foto: Twitter @Everton)

"Turn, turn, I wish you'd learn

There's a time and place for everything

I've got to get it through.

Cut loose 'cause you're no use

I couldn't stand another

Second in your company.

Don't waste your words I don't need anything from you,

I don't care where you've been or what you plan to do."

----

Lirik lagu “I am The Resurrection” milik The Stone Roses di atas adalah representasi yang pas untuk menggambarkan takdir Michael Keane saat ini, yakni sebuah kebangkitan.

Liriknya mengandung makna yang sendu karena diisi dengan bait-bait keputusasaan. Malah, seakan terlihat sebagai lagu yang sengaja diibuat untuk menghibur diri sendiri. Dengan dibantu ritme simpel, alih-alih minor, lagu yang dirilis pada 1989 itu terdengar lebih ceria ketimbang isinya.

Lagu ini kemudian ditutup dengan dengan melodi psychedelic, membuatnya terasa lebih hidup. Kebetulan, band yang digawangi oleh Ian Brown itu beranggotakan tiga pendukung Manchester United, klub yang juga jadi idola Keane (bahkan) hingga saat ini.

“Ini adalah klub masa kecilku, tapi kadang-kadang aku harus mempertimbangkan segala sesuatu dari hati dan memikirikan hal yang terbaik untukku, dan aku merasa ini (Everton) adalah tempat terbaik bagiku untuk berkembang," ujar Keane seperti yang dilansir Sky Sports.

Keane sendiri mengaku bahwa dirinya sempat tergoda untuk kembali ke Old Trafford setelah namanya masuk dalam daftar pemain yang jadi incaran Jose Mourinho. Namun semuanya sirna setelah United mendatangkan Victor Lindeloef dari Benfica.

Situasi yang dapat dimaklumi karena United adalah tim pertama Keane. Lagipula, sebagai seorang bocah kelahiran Stockport, yang berjarak sekitar 7 mil dari Manchester, membela United adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Dia menandatangani kontrak profesionalnya pada 2011 silam atau tiga tahun setelah menimba ilmu di akademi "Setan Merah".

Tapi bisa ditebak, perjalanannya menuju skuat utama tak berjalan mulus. Bagaimana tidak, saat itu United masih dihuni Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Selain itu Keane juga harus bersaing dengan Phil Jones, Chris Smalling, dan Jonny Evans sebagai pelapis dua bek sentral itu. Ironisnya, saat yang ditunggu-tuggu Keane untuk tampil memperkuat United di ajang liga baru terealisasi pada Agustus 2014, itu pun hanya masuk dari bench setelah menggantikan Smalling.

Seperti ritual kesebelasan besar lainnya, Keane kemudian dipinjamkan United ke barbagai klub semenjana demi mendapatkan jam terbang lebih. Leicester City, Derby County, Blackburn Rovers, dan Bunrley jadi tempatnya mendapatkan pengalaman. Dan Burnley-lah yang jadi penolong kariernya, kendati akhirnya klub yang bermarkas di Turf Moor itu jadi batu loncatan bagi rekan seangkatan Jesse Lingard tersebut.

Sejak kontraknya dipermanenkan musim lalu, Keane menjelma jadi tulang punggung di jantung pertahanan Burnley, bersama Ben Mee dan Tom Heaton. Dia merupakan pemain paling aktif kedua dalam melakukan sapuan dengan jumlah rataan 7,4 per laga. Setidaknya, aksi tersebut sejurus dengan dengan instruksi Sean Dyche yang memang mengandalkan long ball dalam skema serangannya.

X post embed

Keane berbeda dengan dengan bek tengah modern macam John Stones yang lihai dalam membangun serangan secara rapi. Tapi tak bukan berarti pemain berusia 24 tahun itu tak punya spesialiasi, sepasang gol dan satu assist yang dicatatkannya di musim lalu terhitung lumayan bagi klub sekelas Burnley. Tak ayal, dia masuk sebagai kandidat PFA Young Player of The Year bersama Harry Kane, Dele Alli, dan Romelu Lukaku.

Di luar itu, Keane adalah tipikal bek tengah klasik khas Inggris. Ia kokoh dan bagus dalam berduel di udara. Menurut catatan Opta, Keane membuat 176 halauan dengan sundulan sepanjang musim lalu. Sementara itu, Squawka melansir, Keane membuat 44 blok atas tembakan-tembakan lawan, yang mana membuatnya menjadi pemain dengan jumlah blok terbanyak di lima liga teratas Eropa (La Liga, Premier League, Bundesliga, Ligue 1, dan Serie A).

Kini setelah diikat Everton, Keane telah resmi naik kelas. Biaya transfernya pun tak main-main, yakni sebesar 30 juta poundsterling!

Di samping itu kans anak asuh Ronald Koeman itu berbicara banyak di Premier League musim depan semakin besar usai mendatangkan amunisi-amunisi baru di bursa transfer kali ini. Memang, tak mudah untuk menembus duo bek tengah Phil Jagielka dan Ashley Williams. Tapi menilik konsistensi yang disuguhkannya musim lalu, bukan tak mungkin dia akan menggeser kedua pemain veteran itu.

Merasa terbuang sudah, tampil membela The Three Lions pun sudah. Sekarang —seperti penggalan lirik lagu di atas— adalah kebangkitan Keane, dan sudah saatnya untuk tak peduli lagi dengan apa yang pernah dan akan dilakukan United.