Kumparan Logo

Mereka yang Ada di City Sebelum 'Uang' Sheikh Mansour Datang

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suporter Manchester City. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
zoom-in-whitePerbesar
Suporter Manchester City. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Manchester City memang bisa dibilang anak kemarin sore. Kalau tidak ada kucuran dana dari Sheikh Mansour, bisa jadi City tidak akan menjelma menjadi klub besar seperti sekarang ini. Namun, bukan berarti City tidak memproduksi pemain-pemain bertalenta sejak dulu.

Sejak diambil alih oleh Sheikh Mansour, tercatat beberapa nama besar datang dan pergi silih berganti dari City. Ada nama Carlos Tevez, Robinho, Nigel de Jong, Gareth Barry, James Milner, Aleksandar Kolarov, Edin Dzeko, Samir Nasri, Jesus Navas, serta Martin Demichelis yang pernah membela City. Sekarang Leroy Sane, Kevin De Bruyne, David Silva, John Stones, dan Sergio Aguero ada di skuat City.

Melihat nama-nama yang lumayan mentereng di atas, tak salah jika banyak yang menganggap bahwa kesuksesan yang didapat City adalah sebuah kesuksesan instan. Bermodalkan pemain mahal, mereka menggebrak sepak bola Inggris dan Eropa, persis seperti yang dilakukan Chelsea usai mereka dibeli Roman Abramovich. Hampir sama juga yang dilakukan oleh Paris Saint-Germain di Prancis.

Tapi, bukan berarti City minim pemain-pemain akademi. Sejak dulu, City kerap beberapa kali menelurkan pemain berbakat dari akademi. Tidak hanya pemain berbakat dari akademi saja, City juga pernah memiliki pemain yang cukup mereka kenang. Itu semua terjadi sebelum Sheikh Mansour datang.

Siapa sajakah pemain-pemain ini? Siapakah mereka yang sudah membawa panji Manchester City sebelum Mansour datang?

Joey Barton

Joey Barton adalah produk akademi Manchester City. Memulai karier sebagai seorang gelandang bertahan, Barton kemudian berevolusi menjadi seorang gelandang serang jempolan karena kemampuan umpan dan daya jelajahnya yang cukup baik. Tercatat, dia membela City sejak musim 2002/2003 sampai 2006/2007, dengan torehan 16 gol dan 5 assist dari 148 penampilan.

Dilabeli sebagai anak nakal sepak bola Inggris, Barton sebenarnya tampil cukup gemilang di City. Pada musim 2003/2004, dia pernah mendapat gelar sebagai Pemain Muda Terbaik City. Dia juga tak segan untuk ribut dengan lawan jika dirasa timnya diserang lawan. Namun, emosi buruknya inilah yang kerap membawanya pada masalah, sampai akhirnya pada 2007 dia ditendang oleh Stuart Pearce dari skuat City.

X post embed

Shaun Wright-Phillips

Salah satu produk akademi City lain yang bersinar. Tercatat dia membela City dalam waktu yang cukup lama, yaitu selama sembilan musim. Sembilan musim itu terbagi dalam dua periode, yaitu periode pertama (musim 1999/2000 sampai musim 2004/2005) dan periode kedua (musim 2008/2009 sampai musim 2010/2011). Dari dua periode itu, Wright-Phillips sukses menorehkan 44 gol dan 20 assist dari 254 penampilan.

Selama berada di City, Wright-Phillips tampil cukup baik. Dia tercatat pernah meraih gelar Pemain Muda Terbaik City sebanyak empat kali. Dia juga dikenal sebagai pemain yang memiliki kemampuan dribel apik, bahkan pernah dipasang oleh Kevin Keegan sebagai wing-back. Sisi sayap adalah daerah kekuasaannya di City.

video youtube embed

Stephen Ireland

Satu lagi produk akademi City yang juga sempat bersinar. Membela City sejak musim 2005/2006 sampai musim 2009/2010, Ireland sukses menorehkan 23 gol dan 24 assist dari total 174 penampilannya bersama Manchester City di semua ajang. Gelandang ini dikenal karena memiliki ciri khas berupa kepala botak, walau sebenarnya dulu dia sempat memiliki rambut.

Selama bermain untuk City, dia berposisi sebagai gelandang serang. Dia juga pernah menjadi Pemain Terbaik City pada musim 2008/2009 silam. Dia juga pernah mendapatkan gelar sebagai Pemain Muda Terbaik Irlandia pada 2007 silam. Sekarang, walau sudah berusia kepala tiga, Ireland masih aktif bermain bersama Stoke City.

X post embed

Eyal Berkovic

Salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Israel. Berkovic memutuskan untuk bergabung di Manchester City pada 2001 silam, dan dianggap sebagai salah satu gelandang serang dengan kemampuan umpan yang baik di area sepertiga akhir. Dia menjadi satu dari dua playmaker yang dimiliki City, selain Ali Benarbia, ketika City diasuh Kevin Keegan.

Dari sekian banyak penampilan yang dicatatkan Berkovic bersama City, salah satu yang cukup dikenang adalah ketika dia memimpin City mengalahkan Manchester United dengan skor 3-1 dalam laga derbi Manchester di musim 2002/2003 silam. Di musim yang sama, dia juga sukses mendapatkan gelar Pemain Terbaik, sebelum akhirnya mengalami masalah dengan suporter dan hijrah ke Portsmouth pada musim 2004/2005.

X post embed

Billy Meredith

Pemain terbaik City di era lampau. Sempat sulit untuk pindah dari klub daerahnya, Northwich, karena ditahan oleh sang ibu, sederet kejadian membuat Billy Meredith akhirnya resmi menjadi pemain Manchester City. Bersama The Citizens, Meredith meraih kesuksesan yang gemilang.

Total dari dua periodenya membela Manchester City, Meredith sukses menorehkan 367 penampilan bersama City dan mencetak 129 gol. Dia dikenal sebagai pemain yang berkemampuan lengkap, baik itu dari segi dribel, umpan, tembakan, dan kemampuannya mengontrol bola. Dia juga punya hobi yang cukup unik, yakni mengunyah sebuah tusuk gigi sebelum laga, membuatnya mudah dikenali para penonton

.

X post embed

***

Selain nama-nama pemain di atas, sebenarnya ada juga nama-nama lain yang sempat bersinar bersama City semisal Micah Richards, Darius Vassell, Sun Jihai, Richard Dunne, Sylvain Distin, serta Bert Trautmann, kiper bersejarah City. Keempat pemain di atas juga memiliki catatan apiknya masing-masing ketika membela Manchester City.

Namun, pada intinya, adanya pemain-pemain ini menunjukkan bahwa City pernah memproduksi talenta-talenta mumpuni, walau City sekarang sedang dianggap sebagai klub yang mengandalkan uang untuk merekrut pemain andal.