kumparan
22 Juli 2019 14:12

Metamorfosis Persela Lamongan Bersama Nilmaizar

Persela Lamongan vs Madura United
Para pemain Persela Lamongan merayakan gol ke gawang Madura United. Foto: Syaiful Arif/Antara
Ketika pertama kali diperkenalkan sebagai pelatih baru Persela Lamongan pada 4 Juli 2019, Nilmaizar mengutarakan sesuatu yang menarik perhatian. Begini ucapannya:
ADVERTISEMENT
"Saya orangnya tidak mau kalah dalam hal apapun yang dilakukan. Sehingga ketika bertanding itu yang penting kita ingin menang dan ingin menang. Saya juga suka pemain dengan dedikasi tinggi, daya juang, dan punya kerja keras," ujar Nil.
Kata-kata itu pun sontak menghadirkan optimisme di tubuh Persela. Saat Nil datang, situasi Persela sedang tidak baik. Dari enam laga di ajang Liga 1 2019, mereka hanya mampu menorehkan hasil dua kali imbang dan empat kali kalah. Cuma 2 poin saja yang mampu mereka kumpulkan.
Alhasil, Persela terjerembab di papan bawah klasemen. Aji Santoso yang menduduki kursi kepelatihan sejak awal musim 2019, memutuskan untuk undur diri. Oleh karena itu, hadirnya Nil ini diharapkan dapat membawa perubahan positif di tubuh 'Laskar Joko Tingkir'.
ADVERTISEMENT
Pertanyaannya sekarang, apakah Nilmaizar membawa perubahan di tubuh Persela? Sejak direkrut pada 4 Juli silam, Nil sudah menangani Persela dalam tiga laga. Bagaimanakah rapornya sejauh ini? Mari kita telisik.
Fokus Pembenahan Nil Tidak Hanya Pertahanan Saja
Dalam sesi jumpa pers perkenalan dirinya sebagai pelatih Persela, Nil mengungkapkan jika salah satu fokus yang ingin ia benahi adalah lini pertahanan. Dari enam laga, Persela sudah kebobolan 16 kali. Jumlah kebobolan yang tentu bisa dibilang tidak kecil.
Nil pun merealisasikan kata-katanya ini, Dari tiga laga yang dijalani Persela bersama Nil, tim yang bermarkas di Lamongan tersebut hanya kebobolan tiga angka saja. Malah, pada laga melawan Kalteng Putra dan Bali United, Persela sukses menorehkan clean sheet. Hal ini tentunya merupakan sebuah capaian apik.
ADVERTISEMENT
Hal itu terjadi berkat kemampuan Nil membenahi organisasi pertahanan. Persela kerap mengalami situasi seperti ini: Unggul terlebih dahulu, namun kalah di akhir laga. Pertahanan Persela mudah ditembus lawan, baik itu lewat skema bola mati maupun lewat skema open play.
Namun, begitu Nil masuk, ia membuat pertahanan Persela jadi rapat. Salah satu hal penting yang ia benahi adalah koordinasi antara bek tengah. Dengan koordinasi yang baik antara Arif Satria dan Mawouna Amevor, Persela mampu mengadang setiap serangan yang hadir, baik dari skema bola mati maupun open play.
Namun, pada praktiknya, perubahan yang dilakukan Nil tidak hanya soal membenahi pertahanan saja. Lebih jauh, Nil juga membenahi organisasi permainan Persela yang sempat kacau ketika masih ditukangi oleh Aji. Apa cara yang ditempuh Nil untuk memperbaiki organisasi permainan Persela?
ADVERTISEMENT
Persija Jakarta melawan Persela Lamongan
Pemain Persija Jakarta Riko Simanjuntak (kanan) berusaha melewati pemain Persela Lamongan. Foto: Dok. Media Persija
Ketika masih ditangani Aji, Persela acap bermain dengan skema dasar 4-3-3. Skema ini sejalan dengan sepak bola menyerang yang menjadi kesenangan dari pelatih asal Malang tersebut. Namun, skema ini justru menyisakan lubang di lini tengah Persela. Inilah yang kerap dieksploitasi lawan.
Di lini tengah, Persela memiliki sosok bernama Kei Hirose yang menjadi poros. Ia kerap ditopang oleh Sugeng Efendi, Malik Risaldi, serta Delvin Rumbino. Meski acap ditemani Delvin dan Sugeng, sejatinya Hirose acap bekerja sendiri dalam menyaring serangan lawan. Ini dikarenakan dua rekannya di lini tengah kerap terlalu maju.
Ketika Nil datang, ia pun hadir membawa sedikit perubahan. Skema 4-3-3 yang kerap digunakan, ia ubah menjadi 4-5-1 maupun 4-2-3-1. Dengan padatnya pemain di lini tengah, keseimbangan permainan Persela jadi terjaga. Bukan cuma itu, masalah lubang di lini tengah yang kerap muncul juga mulai teratasi.
ADVERTISEMENT
Poros ganda pun kadang diterapkan oleh Persela untuk membantu kinerja Hirose di tengah. Lazimnya, sosok Lucky Wahyu-lah yang acap dijadikan teman oleh Nil bagi Hirose di tengah. Hal ini membuat serangan lawan mampu disaring dengan baik sejak dari area sepertiga tengah lapangan.
Selain itu, lini tengah Persela juga ditopang oleh Sugeng dan Delvin. Di bawah asuhan Nil, mereka jadi sosok yang enerjik. Tidak cuma membantu penyerangan, mereka juga kerap memberikan tekanan bagi para pemain tengah lawan. Hal itu membuat proses serangan lawan acap terganggu.
Arema vs Persela
Duel Arema vs Persela di Stadion Kanjuruhan. Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA
Perbaikan organisasi pertahanan dan permainan inilah yang pada akhirnya turut mendongkrak prestasi Persela. Dalam dua laga Liga 1 teraktual, mereka mampu mengalahkan Kalteng Putra (3-0) dan Bali United (2-0).
ADVERTISEMENT
Memaksimalkan Alex dos Santos dan Rafael Oliveira
Dengan membenahi organisasi permainan, Nilmaizar juga membenahi peran yang diemban dua pemain asing mereka, Alex dos Santos dan Rafael Oliveira. Ya, dua pemain ini sukses jadi motor serangan Persela dalam dua laga terakhir.
Bahkan, nama Alex dos Santos muncul sebagai salah satu kandidat pencetak gol terbanyak di ajang Liga 1 2019. Saat ini, sosok asal Brasil itu sukses membukukan 8 gol. Ia unggul atas rekan senegaranya yang membela PS Tira-Persikabo, Ciro Alves, juga unggul atas penyerang Persija, Marko Simic.
Mencuatnya dua pemain ini bisa dibilang sebagai buah kesuksesan Nil dalam memberikan peran pada Rafael dan Alex. Ketika masih ditangani oleh Aji, tak jarang Alex dan Rafael ditempatkan sebagai "winger". Hal itu membuat kemampuan keduanya tidak muncul, meski memang keduanya memiliki kemampuan dribel yang lumayan.
ADVERTISEMENT
Dengan skema dasar 4-2-3-1 dan 4-5-1 yang diterapkan Nil, Alex dan Rafael kembali pada peran murni mereka. Rafael kembali berperan sebagai pengatur serangan, sedangkan Alex kembali menjadi sosok pemburu gol. Kini, jangan heran jika melihat Rafael aktif bergerak di area sepertiga akhir lawan, dan ia kerap menghadirkan bahaya bagi pertahanan lawan.
Peran distributor bola sekaligus pengacau pertahanan lawan sukses diperagakan Rafael dengan baik. Peran Rafael yang berjalan ini didukung pula oleh aksi dari Alex yang tak kalah menawan.
Alex dos Santos Goncalves
Alex dos Santos, penyerang Persela. Foto: Dok. PT LIB
Selepas kartu merah yang ia terima di laga awal Liga 1 2019 menghadapi Madura United, Alex berbenah. Perkenalannya dengan kompetisi sepak bola Indonesia memang tidak baik. Tapi, perkenalannya itu yang justru membuat ia tahu karakter sepak bola Indonesia.
ADVERTISEMENT
Alex, laiknya para penyerang asal Brasil lainnya, lihai dalam mencari posisi di kotak penalti. Ia juga sangat oportunis, dan tak segan memanfaatkan peluang sekecil apapun di pertahanan lawan. Tak heran, kemampuannya ini membuat Alex mampu mencatatkan 8 gol di ajang Liga 1 2019.
Nil cermat melihat ini, dan sukses membangkitkan potensi dua pemain tersebut. Hasilnya, permainan Persela juga terangkat, dan 5 gol sukses mereka bukukan dalam tiga laga terakhir.
***
Persela boleh saja sedang berbahagia saat ini. Namun, bukan berarti tak ada lawan-lawan berat yang sudah menanti di depan.
Tim yang bermarkas di Stadion Surajaya, Lamongan, itu belum menghadapi beberapa nama besar, macam Persib maupun PSM. Selain itu, mereka juga belum berhadapan dengan tim-tim yang punya potensi mengejutkan, macam Borneo FC, PSS Sleman, serta PS Tira-Persikabo.
ADVERTISEMENT
Tira Persikabo
Selebrasi gol pemain Tira Persikabo. Foto: Instagram/ @officialpersikabo
Menakar kemampuan yang dimiliki Persela, semestinya mereka mampu menghadapi tim-tim tersebut. Apalagi, Nil juga dikenal sebagai pelatih kaya strategi. Ia adalah sosok yang menghindarkan PS Tira dari jerat degradasi pada musim 2018 silam.
Tidak hanya itu, ia juga mampu mengantarkan Semen Padang menjuarai Indonesia Premier League (IPL), serta membawa Semen Padang ke babak perempat final AFC Cup musim 2012/13. Jadi, tak ada yang perlu Persela risaukan sebenarnya. Asal konsisten bermain rapi, mereka bisa bicara banyak di ajang Liga 1 2019 ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan