Mourinho soal Serial Dokumenter City: Mereka Tak Punya Kelas

Ada yang baru dari Manchester City musim ini. Bukan, ini bukan soal Riyad Mahrez yang datang dari Leicester City sebagai pemain termahal dalam sejarah klub. Di sini, kita berbicara soal sebuah serial dokumenter keluaran Amazon yang menceritakan perjalanan City bersama Pep Guardiola. Serial itu diberi nama 'All or Nothing'.
Serial tersebut memang hanya bisa dinikmati melalui layanan streaming berbayar dari Amazon. Akan tetapi, potongan-potongan serial tersebut sudah banyak beredar di dunia maya, seperti ketika Pep merasa khawatir dengan ketajaman lini depan Liverpool atau ketika pelatih asal Spanyol itu misuh-misuh lantaran para pemainnya dianggap tidak serius dalam berlatih.
Nah, sepertinya, potongan-potongan video itu sudah disaksikan oleh Jose Mourinho yang merupakan pelatih rival sekota City, Manchester United. Sebab, dalam konferensi pers jelang laga menghadapi Brighton and Hove Albion, Minggu (19/8/2018) malam WIB, Mourinho justru lebih memilih bicara soal serial dokumenter itu. Padahal, dia sendiri mengaku belum menontonnya.
Alih-alih memuji, Mourinho justru mencela keputusan City merilis serial 'All or Nothing' tersebut. Bagi eks entrenador Real Madrid ini, langkah City itu menunjukkan bahwa mereka tidak punya kelas.
"Jika kamu adalah klub kaya, kamu bisa membeli semua pemain hebat. Tetapi, yang tidak bisa kamu beli adalah kelas," kata Mourinho seperti dikutip dari The Guardian. "Aku belum nonton filmnya [sic] tetapi aku tahu beberapa hal tentangnya dan ini adalah reaksi pertamaku."
Mourinho sendiri muncul dalam serial 'All or Nothing' tersebut. Tidak sebagai pemeran utama, tentunya, melainkan sebagai cameo. Namun, kemunculan singkat Mourinho itu punya efek besar dalam narasi yang dibangun oleh City. Ada sebuah adegan yang menunjukkan Mourinho berada di ruang ganti Chelsea tengah membicarakan alasannya melepas Kevin de Bruyne.
De Bruyne pada 2014 lalu dilego Mourinho ke klub Jerman, VfL Woflsburg. Di sanalah pemain asal Belgia itu mulai menunjukkan bahwa Mourinho salah telah menyia-nyiakannya. Penampilan cemerlang De Bruyne di Wolfsburg itu akhirnya membuat City kepincut dan menebusnya dengan harga 55 juta poundsterling.
Selama di City, De Bruyne kemudian menjelma menjadi salah satu pemain terbaik dunia. Total, dia sudah bermain sebanyak 143 kali untuk City dengan torehan 35 gol dan 57 assist. Gelar juara Premier League 2017/18, di mana De Bruyne meraihnya sebagai pemain inti The Citizens, benar-benar jadi tamparan keras untuk Mourinho.
Mourinho tidak terima. Bahkan, sosok yang mengantarkan Internazionale meraih treble pada 2010 ini menyebut bahwa dia semestinya mendapat kompensasi atas kemunculannya di serial tersebut.
"Kupikir aku bisa minta royalti," ujar Mourinho. "Mungkin, tanpa diriku (serial) itu takkan begitu menjual. Entahlah, mungkin apabila City mengirim kaus yang mereka kenakan di terowongan, kaus yang berbunyi 'Kami Melakukannya di Hari Derbi', aku bakal merelakan royalti tadi."
Di sini, Mourinho sedang berbicara soal Derbi Manchester pada April lalu. Kala itu, City sebenarnya hampir memenangi Premier League di depan para pemain United. Pada babak pertama City sudah unggul, tetapi pada babak kedua United membalikkan keadaan lewat dua gol Paul Pogba dan satu gol Chris Smalling. Alhasil, gelar juara City pun tertunda.
Musim ini, United memulai kompetisi dengan kemenangan 2-1 atas Leicester. Hasil itu terbilang sangat bagus jika kita melihat apa yang terjadi pada 'Iblis Merah' selama pramusim. Di antara rentetan uji tanding yang dijalani United, satu hal yang senantiasa muncul adalah keluhan Mourinho, mulai dari soal liburan para pemain yang dianggap terlalu panjang sampai soal buruknya pergerakan klub di bursa transfer.
Salah satu contoh buruknya pergerakan United di bursa transfer itu adalah kegagalan mendapatkan bek sentral baru. Harry Maguire, Toby Alderweireld, Jerome Boateng, dan Diego Godin menjadi target transfer United, tetapi semua pemain itu urung bersalin seragam. Inilah mengapa, United kemudian memutuskan untuk mencari seorang direktur olahraga demi melancarkan proses rekrutmen pemain.
Laga menghadapi Brighton sendiri bakal dilangsungkan di Amex Stadium, markas The Seagulls. Musim lalu, United berhasil mengalahkan Brighton di Old Trafford lewat gol bunuh diri Lewis Dunk. Namun, ketika kedua tim bersua di Amex Stadium, giliran United yang harus menyerah. Pascal Gross, ketika itu, menjadi pahlawan kemenangan Brighton.
