Kumparan Logo

Multikulturalisme di Dalam Tubuh Timnas Inggris

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Inggris berkumpul usai laga melawan Kolombia. (Foto: John Sibley/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Inggris berkumpul usai laga melawan Kolombia. (Foto: John Sibley/Reuters)

Karena hakikat manusia adalah perjalanan, mengherankan apabila imigran sampai dilarang.

Sejak 1800-an, Inggris menjadi sasaran imigrasi penduduk dunia. Kebanyakan dari mereka didatangkan oleh negara jajahan Inggris, seperti pecahan India, Asia Tenggara, Oseania, hingga Karibia.

Kisah imigrasi terbesar ke Inggris terjadi pada akhir Perang Dunia Kedua, pada 1940-an. Saking banyaknya imigran yang datang, surat izin tak lagi diperlukan. Tak ada syarat khusus bagi mereka, yang ditanya hanya, “Punya keahlian apa?”

Menurut The National Archives, total 200 ribu imigran mendatangi Inggris pada 2000-an. Jumlah kedatangan mereka melonjak tiga kali lipat saat lembaga tersebut kembali melakukan penghitungan pada 2015-an.

Pelan-pelan, imigran mengisi setiap lubang di beragam bidang pekerjaan. Dengan upah yang murah dan kemampuan bekerja di atas rata-rata, imigran adalah pilihan utama bagi korporat yang menginginkan keuntungan.

Tak selamanya imigran diterima. Partai sayap kanan Inggris, United Kingdom Independence Party (UKIP), salah satu yang tak menerima mereka. Berbekal slogan berbau anti-muslim dan anti-imigran, mereka menginginkan keaslian Inggris.

Dalam beberapa kampanyenya, UKIP menganggap imigran sebagai sumber masalah. Bagi mereka, imigran adalah sumber kenistaan. Mereka merasa bahwa imigran menyebabkan masalah baru terkait perumahaan, kesejahteraan, dan layanan kesehatan.

Persepsi negatif yang berkembang soal imigrasi coba ditentang oleh para imigran. Salah satunya adalah lewat sepak bola. Dan, membawa nama Inggris di Piala Dunia 2018 menjadi satu cara menentang stigma buruk soal imigrasi.

Southgate memberi arahan kepada pemain Inggris. (Foto: REUTERS/Christian Hartmann)
zoom-in-whitePerbesar
Southgate memberi arahan kepada pemain Inggris. (Foto: REUTERS/Christian Hartmann)

Skuat Tim Nasional (Timnas) Inggris di Piala Dunia 2018 diisi oleh 23 pemain dari 11 etnis berbeda. Menurut The Guardian, jumlah etnis tersebut bahkan menjadi yang terbanyak sepanjang keikutsertaan Inggris selama mengikuti kompetisi besar antarnegara.

Dari 11 starting eleven The Three Lions saat menghadapi Kolombia, Rabu (4/7/2018) malam WIB, hanya lima orang yang berdarah Inggris murni. Sisanya, anak dari pria asal Irlandia, cucu dari pasangan asal Saint Vincent (Jesse Lingard), atau lahir di sudut kawasan keras di Jamaika (Raheem Sterling).

Harry Kane adalah salah satu bukti keberhasilan imigran di Inggris. Di balik statusnya sebagai pria yang lahir di Inggris, ia adalah buah dari pria asal Republik Irlandia. Enam gol yang diciptakan Kane di Piala Dunia 2018 jadi bukti bahwa tak selamanya imigran bisa berprestasi,

Keputusan pelatih Inggris Gareth Southgate untuk memanggil pemain dari beragam ras dan etnis berbeda lantas disebut sebagai keputusan terbesar sepanjang sejarah sepak bola Inggris. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa Inggris menjunjung tinggi meritokrasi.

embed from external kumparan

Apa yang dilakukan oleh (Timnas) Inggris sebenarnya bukan yang pertama di dunia. Jauh lebih dulu, ada Jerman yang diisi oleh anak-anak imigran, Brasil yang diisi oleh anak cucu budak asal Afrika, dan Prancis yang banyak diisi oleh anak dari pasangan berbagai belahan dunia.

Keberhasilan Prancis menjadi juara dunia 1998 adalah bukti bagaimana falsafah ‘Black, blanc, beur’ benar adanya. Pun demikian dengan Jerman yang sukses lewat beragam campuran darah dan bangsa.

Keberadaan nama dari berbagai macam ras dan etnik memang tak menjamin sebuah kesuksesan. Namun, dengan sukses di Piala Dunia 2018, setidaknya imigran Inggris tak akan terus menerus mendapatkan cap negatif.