Nomor 10 dan Kisah Pemakainya di Juventus

Nomor 10 Juventus baru saja menemukan tuannya. Paulo Dybala secara resmi akan memakai nomor itu di punggungya pada musim 2017/2018.
Penyematan nomor 10 pada bintang asal Argentina ini memang tidak mengejutkan. Usai hengkangnya Paul Pogba, Dybala sudah lama digadang-gadang akan menjadi ikon baru "Si Nyonya Tua". Hal ini sekaligus menjadi peredam isu hijrahnya Dybala ke Barcelona.
Bagi Juventus --bahkan sepak bola pada umumnya-- nomor 10 memang menjadi sesuatu yang spesial. Seolah menjadi konsensus bahwa syarat pemain bernomor punggung 10 adalah pemain dengan kualitas mumpuni, kalau bisa malah yang terbaik. Begitu juga dengan klub asal Turin ini, dalam sejarahnya nomor 10 digunakan oleh mereka yang dianggap terbaik saat itu.
Nama-nama berikut ini adalah para pengguna nomor 10 di Juventus sebelum Paulo Dybala.
1. Giampiero Boniperti

Giampiero Boniperti adalah nama pertama yang dianggap sebagai penanda awal kisah nomor 10 di Juventus. Lahir di Barengo, Italia, 4 Juli 1928, Boniperti menjelma menjadi salah satu legenda terbesar Bianconeri. Ia menghabiskan 15 tahun karier profesionalnya hanya di Juventus dengan torehan 178 gol. 5 gelar Serie A berhasil dipersembahkan dengan tambahan 2 gelar Coppa Italia. Pengabdiannya pada Juventus tak berhenti di situ, tahun 1971-1990 ia didapuk sebagai presiden klub. Salah satu jasa terbesar Boniperti pada Juventus adalah menemukan seorang pemuda asal Corneglio, Italia, yang kelak akan menjadi legenda terbesar di Juventus, Alessandro Del Piero.
2. Omar Sivori

Kisah Boniperti dengan nomor 10 nya dengan segera dilanjutkan oleh Omar Sivori. Pria kelahiran Argentina, 2 Oktober 1935 itu berkarier di Juventus dari tahun 1957 sampai 1965. Sivori didatangkan dari River Plate dengan banderol 91 ribu poundsterling, yang menjadi rekor dunia saat itu. Bersama John Charles, Sivori menjelma menjadi duet mengerikan kala itu. Total ia menceploskan 167 gol selama kariernya di Italia. Tidak hanya Scudetto dan Coppa Italia, sederet penghargaan pribadi juga berhasil diraihnya seperti top skorer Serie A musim 1959-60 dan pemain terbaik Eropa tahun 1961 yang mana merupakan gelar Ballon d'Or pertama bagi pemain klub asal Turin tersebut.
3. Liam Brady

Tidak banyak pemain asal Britania yang sukses berkarier di Juventus. Selain nama John Charles yang melegenda, Liam Brady adalah salah satunya. Kariernya memang lebih banyak dihabiskan di London bersama Arsenal. Kesuksesannya di Arsenal membuat Juventus tertarik memboyongnya pada 1980. Berposisi sebagai gelandang serang, Liam Brady menakhodai irama permainan Juve selama 2 musim hingga 1982. Dua Scudetto berhasil ia persembahkan ke Juventus. Meski memiliki kemampuan yang andal, nama Brady mungkin akan selalu dikenang oleh tifosi Fiorentina. Namanya secara tidak langsung terkait dengan awal mula rivalitas Juventus dengan klub asal Firenze tersebut. Kala itu Fiorentina harus merelakan gelar juara karena di pertandingan terakhir bermain imbang 0-0 dengan Cagliari. Laga ini dianggap kontroversial karena wasit menganulir gol yang dicetak Fiorentina. Di saat yang bersamaan Juventus berhasil unggul atas Catanzaro melalui sepakan penalti Liam Brady.
4. Michel Platini

Liam Brady bukanlah pemain yang buruk, tetapi dirinya tak kuasa menyerahkan nomor 10 miliknya ke salah satu pemain terbaik Eropa sepanjang masa, Michel Platini. Didatangkan dari Saint Etienne di awal musim 1982, Platini adalah aktor utama Juventus meraih masa kejayaan di pertengahan 1980an. Ia meraih segalanya di Juventus. 2 gelar Serie a, Coppa Italia, Piala Winners, Piala Super Eropa, Piala Interkontinental hingga membawa Juventus meraih Liga Champions pertama lewat gol tunggalnya saat melawan Liverpool. Karier individunya di Juventus memang begitu menonjol. Tak hanya bagi tim, sederet penghargaan individu juga berhasil ia raih. Platini menjadi pemain pertama yang meraih Ballon d'Or tiga kali berturut-turut dari 1983 sampai 1985. Ia juga tiga kali menjadi capocannoniere atau top skorer Serie A. Di Timnas Prancis, mantan Presiden UEFA ini berhasil mempersembahkan gelar Euro 1984 usai mengalahkan Spanyol di final. Meski memiliki karier gemilang, Platini memutuskan pensiun di akhir musim 1987 bersama Juventus.
5. Roberto Baggio

Usai era Platini, Juventus sempat mengalami nirgelar. Keadaan ini membuat Juventus kembali memecahkan rekor dunia lewat salah satu transfer paling kontroversial atas nama Roberto Baggio. Musim panas 1990, Baggio resmi berkostum hitam-putih setelah melalui serangkaian penolakan bahkan kerusuhan di kota Firenze. Meski sempat berujar jika dipaksa menyetujui transfer kontroversial tersebut, nyatanya Baggio mengalami periode keemasan di Juventus. Baggio membawa Juventus kembali menjuarai kompetisi Eropa lewat Piala UEFA di musim 1992/93 dan Serie A 1994/95 setelah puasa gelar selama 10 tahun. Saat bersama Juventus jugalah Baggio meraih Ballon d'Or tahun 1993. Total ia mencetak 115 gol bersama Juventus. Tahun 1995 secara mengejutkan Juventus melepasnya ke sang rival, AC Milan. Sebuah keputusan yang kemudian hari tidak pernah disesalinya.
6. Alessandro Del Piero

Keputusan Juventus melepasnya ke Milan di akhir musim 1995 mungkin terdengar aneh mengingat kebesaran nama Baggio di paruh awal 1990an. Namun hal itu bukan tanpa alasan. Marcello Lippi dengan keputusan berani mempersilahkan pemuda berumur 20 tahun menggantikan Baggio. Namanya Alessandro Del Piero. Ia dijuluki Il Pinturicchio, mengacu pada seorang pelukis Italia di abad pertengahan. Setelah debut di tahun 1993 musim 1995/96, Del Piero resmi mengenakan jersey nomor 10 dan sisanya adalah sejarah. Del Piero menjadi legenda terbesar klub ini. Dialah pemilik rekor pencetak gol terbanyak sekaligus pemain dengan penampilan terbanyak. Selama 19 tahun Del Piero menjadi ikon Juventus. Hampir seluruh gelar pernah ia rasakan bersama Juventus mulai dari lokal hingga internasional. Nama Del Piero juga terekam abadi di kepala para tifosi karena dirinya adalah pemain pertama yang memutuskan bertahan ketika Juventus harus degradasi ke Serie B di tahun 2006. Satu kalimatnya yang terkenal di kalangan Juventini adalah "The True Gentleman Never Leaves His Lady".
7. Carlos Tevez

Selepas Del Piero hengkang di tahun 2012, nomor 10 sempat lowong selama satu musim. Musim 2013-14, Carlos Tevez didapuk sebagai pemilik baru nomor 10. Banyak penolakan diawal mengingat rekam jejak perilaku Tevez yang tak terlalu baik. Pemain yang kini membela Shanghai Shenhua itu dianggap belum pantas mengenakan nomor 10. Tevez membuktikannya di lapangan. Ia menjadi striker tertajam Juventus kala itu dengan koleksi 39 gol selama 2 musim. Ia juga mempersembahkan dua Scudetto dan satu Coppa Italia. Tevez juga membawa Juventus ke final Liga Champions untuk pertama kalinya setelah 12 tahun. Sudah mendapat cinta dari Juventini, nyatanya Tevez memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Argentina. Akhir musim 2015, Tevez pun hijrah ke Boca Juniors walaupun secara mengejutkan ia memutuksan pindah dengan gaji tinggi ke Liga China bersama Shanghai Shenhua di tahun 2016.
8. Paul Pogba

Paul Pogba menjadi pemilik nomor 10 dengan periode tersingkat, hanya semusim. Menjadi pilar lini tengah Juventus sejak 2013, Pogba menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia. Banyak yang menolak keputusan manajemen saat memberi Pogba nomor 10. Selain kariernya yang baru seumur jagung di Juventus, posisinya sebagai gelandang box-to-box juga jadi alasan. Para pendahulu Pogba semua adalah pemain dengan tipe menyerang. Ditolak sedemikian rupa, Pogba membuktikan jika dirinya pantas menggunakan nomor 10. Musim 2015-2016 Pogba menjadi pemain yang paling menonjol dengan 49 penampilan dan 10 gol. Total ia bermain sebanyak 178 kali dengan koleksi 34 gol, sebuah capaian yang terhitung apik mengingat usianya yang masih berumur 23 tahun saat itu. Tak hanya menjadi gelandang box-to-box ia juga berperan atas gol-gol Juventus di musim itu. Cerita menjadi kontroversi saat Pogba memutuskan kembali ke klub lamanya, Manchester United, dengan memecahkan rekor sebagai pemain termahal dunia (sebelum dipecahkan Neymar musim ini).
