Kumparan Logo

Panic Buy: Drama Bursa Transfer yang Penuh Nafsu dan Spekulasi

kumparanBOLAverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dembele diperkenalkan Barcelona. (Foto: REUTERS/Albert Gea)
zoom-in-whitePerbesar
Dembele diperkenalkan Barcelona. (Foto: REUTERS/Albert Gea)

Bursa transfer selalu saja dipenuhi nafsu dan spekulasi, terutama ketika deadline day akan tiba. Menjelang ditutupnya bursa transfer, klub-klub yang merasa skuatnya belum cukup dan masih membutuhkan tambahan pemain, sebisa mungkin akan mendatangkan pemain. Cocok atau tidak, bagus atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting datangkan pemain dulu!

Nah, sekarang, marimakan pop corn, duduk anteng, dan menikmati drama yang satu ini.

Setiap tahunnya, menjelang deadline day hingga bursa transfer benar-benar ditutup, klub-klub di liga-liga top Eropa sedang sibuk-sibuknya berburu pemain. Di masa-masa ini, harga bukan lagi sebuah pertimbangan. Ketika pemain yang bersangkutan bersedia pindah, maka klub yang mengincar akan langsung membayar berapapun harga yang diminta oleh klub pemilik pemain itu.

Sekali lagi, bursa transfer selalu dipenuhi nafsu dan spekulasi. Karenanya, di masa-masa seperti ini, klub-klub kerap membeli "kucing dalam karung". Di sini, pokoknya yang penting membeli untuk membuat skuat menjadi ideal. Syukur-syukur pembelian itu tepat. Tapi kalau ternyata justru zonk, ya, itulah risikonya.

Karena itu, pembelian-pembelian tersebut, di Inggris kerap disebut panic buy. Ya, pembelian yang didasari kepanikan karena merasa butuh tambahan pemain anyar. Ini adalah drama yang terjadi di masa-masa kritis menjelang deadline day.

Sudah banyak cerita tentang panic buy ini. Anda tentu ingat, di musim panas 2013, Manchester United mendatangkan Marouane Fellaini di pengujung bursa transfer dengan harga 27,5 juta poundsterling. Pembelian itu dilakukan karena di musim panas tersebut, United sama sekali belum mendatangkan pemain top. Mereka sebenarnya mengincar Cesc Fabregas dan Thiago Alcantara, tapi kesepakatan tidak terjadi.

Fellaini pada laga Piala Super Eropa. (Foto: Eddie Keogh/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Fellaini pada laga Piala Super Eropa. (Foto: Eddie Keogh/Reuters)

Di akhir-akhir bursa transfer, daripada tidak membeli pemain sama sekali, manajer David Moyes kala itu akhirnya memilih mendatangkan mantan anak buahnya di Everton itu. Panic buy-nya United ini bisa menjadi contoh yang berhasil karena Fellaini masih ada di skuat mereka saat ini, dan walau tidak berstatus sebagai pemain inti, namun dia masih berkontribusi cukup besar dalam tim.

Tapi, United juga pernah mengalami kegagalan di masa-masa kritis ini. Di musim panas tahun 2014, Angel Di Maria didatangkan di masa-masa ini. Kepergian banyak pemain inti di musim yang sama membuat United memang harus belanja dan mereka juga membutuhkan pemain bintang. Di Maria pun didatangkan dari Real Madrid dan memecahkan rekor transfer klub.

Tapi setelah itu, uang 59,7 juta pounds yang dikeluarkan untuk mendatangkan Di Maria sia-sia. Pemain asal Argentina itu gagal menunjukkan performa terbaiknya di Inggris. Dia tidak mampu memberikan pengaruh besar bagi timnya Louis Van Gaal. Sampai pada akhirnya, di musim panas berikutnya dia dilepas ke Paris Saint-Germain.

Jika itu United, maka ada satu tim lain yang kerap kali melakukan panic buy. Mereka adalah (siapa lagi kalau bukan) Arsenal. Arsenal selalu saja tak pandai memanfaatkan bursa transfer. Mereka biasanya menggeber di awal-awal dengan mendatangkan beberapa pemain, tapi setelah itu mereka anteng-anteng saja, kehilangan pemain buruan, dan baru beraksi lagi di pengujung bursa transfer.

Sialnya, di masa-masa ini, pemain-pemain yang tersedia memang sangat sedikit. Sebagian sudah diboyong klub lain, sebagian sudah memutuskan tak mau pindah, dan sisanya ini yang menjadi rebutan banyak klub. Tapi, dengan motivasi "yang penting belanja" dari sang manajer, Arsene Wenger, Arsenal selalu saja mendapatkan pemain di masa-masa ini. Tapi yang sukses sangatlah sedikit.

Nama-nama seperti Jens Lehmann, Per Mertesacker, dan Mikel Arteta adalah panic buy yang sukses bagi Wenger. Tapi setelahnya, nama-nama seperti Yossi Benayoun, Kim Kallstrom, Andre Santos, Shkodran Mustafi, Lucas Perez, hingga Park Chu-Young lebih banyak menjadi lelucon. Mereka ini adalah "kucing dalam karung" yang dibeli Arsenal. Mereka adalah hasil dari nafsu dan spekulasi.

Wenger saja malu dengan penampilan Arsenal. (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Wenger saja malu dengan penampilan Arsenal. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Masih di Inggris, Liverpool tak mau kalah. Anda tentu ingat bagaimana di musim dingin 2011, Liverpool mendatangkan Andy Carroll tepat di deadline day karena di hari yang sama, Fernando Torres pergi ke Chelsea. Di musim panas 2014, pada masa-masa ini mereka mendatangkan Mario Balotelli karena di musim panas yang sama, Luis Suarez pergi.

Tapi tengoklah, dua pemain yang didatangkan Liverpool itu tidaklah sukses. Ini karena Liverpool tak berhitung dulu setelah kehilangan pemain pentingnya. Mereka melihat ke pasar dan langsung memboyong pemain-pemain tersebut, padahal harganya mahal dan ternyata performanya tak bagus-bagus amat. Intinya, spekulasi yang berbuah apes.

Dua hari lagi, deadline day bursa transfer akan tiba. Sejauh ini, sudah ada tanda-tanda panic buy seperti di atas bakal kembali terjadi. Dan klub-klub Premier League yang tampaknya masih akan jadi aktor utama. Jagoan-jagoan seperti Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur, Liverpool, hingga Arsenal bakal melakukan hal tersebut.

Chelsea misalnya. Kepergian Nemanja Matic yang memberikan dampak besar di tiga laga awal Chelsea pasti membuat Antonio Conte berpikir keras untuk menemukan penggantinya, atau setidaknya menemukan gelandang yang bisa menjadi pelapis Cesc Fabregas. Di sini, tampaknya nama Dany Drinkwater yang akan menjadi panic buy-nya Chelsea.

Di lihat dari performanya, Drinkwater cocok untuk menggantikan Matic. Tapi apakah nantinya dia bisa nyetel dengan sistemnya Conte, itu yang kita tidak tahu. Selain itu, The Blues juga dikabarkan masih mengincar satu nama di sektor sayap. Alex Oxlade-Chamberlain belakangan yang jadi buruan utama, nah, dengan memilih pemain Arsenal itu Chelsea sama saja telah berspekulasi.

Di kubu City, Guardiola masih ingin menambah pemain di sektor belakang dan depan. Masalahnya, stok yang benar-benar bagus sudah menipis di kedua lini itu. Guardiola pun malah berani berspekulasi dengan mengincar bek West Bromich Albion, Jonny Evans. Well, Evans memang tidak jelek, dia pernah bermain bersama United pula. Tapi, apakah dia cukup bagus untuk sistemnya Guardiola? Nah, kita tidak tahu itu.

Untuk lini depan, nama Alexis Sanchez jadi nama terdepan untuk mendarat di Etihad Stadium. Sebagai bintang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, Sanchez adalah pemain impian bagi City. Dia memiliki segala atribut yang bisa menunjang lini depan City. Tapi, itu kalau dia tak bernasib sial. Karena bisa saja, nasibnya di Etihad justru serupa Robinho.

Sudah capek berseragam Arsenal, Sanchez? (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Sudah capek berseragam Arsenal, Sanchez? (Foto: Reuters/Carl Recine)

Bagi Spurs yang sama sekali tak aktif sepanjang musim panas ini, masa-masa kritis ini adalah waktu terakhir bagi mereka (kalau memang ingin mendatangkan pemain baru). Ada dua nama yang bisa menjadi panic buy Spurs di musim panas ini. Pertama ada gelandang Everton, Ross Barkley, dan kedua ada winger Leicester City, Riyad Mahrez.

Secara kemampuan dan performa di klub saat ini, keduanya adalah pemain jempolan. Barkley dan Mahrez bisa membuat peluang dan juga menyelesaikannya sendiri. Tapi soal bisa atau tidaknya mereka nyetel di Spurs itu belum tahu. Yang jelas, kalau Mauricio Pochettino ingin menyempurnakan skuatnya, minimal salah satu dari dua pemain itu harus berhasil didatangkan.

Ah, Liverpool. Baru saja di masa-masa kritis ini mereka berhasil mendatangkan Naby Keita dari RasenBallsport Leipzig. Tapi sayangnya, Keita baru akan bergabung ke skuatnya Klopp pada musim depan. Situasi ini mau tak mau membuat Liverpool masih harus belanja di sisa musim panas ini. Sebab, ada beberapa hal yang perlu mereka perbaiki.

Pertama tentu di lini belakang. Virgil van Dijk memang menjadi incaran utama. Tapi, kalau mendatangkannya ternyata begitu sulit, The Reds jelas harus mencari alternatif lain. Yang sudah muncul ke permukaan ada Benedikt Howedes. Ini seharusnya menjadi panic buy-nya Liverpool. Entah kalau mereka tiba-tiba berbelok ke arah pemain lain.

Di lini tengah, Liverpool masih terus membutuhkan pemain tambahan. Nama Thomas Lemar yang paling gencar dikabarkan bakal bergabung ke Anfield. Ini benar-benar akan menjadi panic buy sesungguhnya bagi Liverpool karena rumor ini baru merebak di masa-masa kritis ini. Jika benar kejadian, maka menarik melihat apakah Lemar akan menjadi Balotelli kedua atau tidak.

Lemar kala bersama Timnas Prancis. (Foto: Gonzalo Fuentes/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Lemar kala bersama Timnas Prancis. (Foto: Gonzalo Fuentes/Reuters)

Sementara Arsenal, well, tetap akan menjadi Arsenal. Mereka diyakini bakal kehilangan cukup banyak pemain di masa-masa kritis ini. Karena itu, Wenger juga perlu mendatangkan amunisi anyar. Tapi sialnya, sejauh ini tak ada nama top yang dikabarkan dekat ke Emirates. Karenanya, mari kita nanti "kucing dalam karung" mana lagi yang bakal diboyong Wenger.

Di luar Inggris, panic buy bisa terjadi di Spanyol dan Italia. Di Spanyol, aktor utamanya tentu saja Barcelona. Mereka saat ini dikabarkan masih terus mencari tambahan pemain di lini tengah dan depan. Coutinho jelas menjadi buruan utama, tapi kita tidak tahu kalau nama-nama mengejutkan seperti Paulinho atau Dmytro Chygrynskiy bakal kembali hadir di Camp Nou.

Di Italia sana, Juventus dan Internazionale Milan membutuhkan panic buy. Juventus masih terus mencari pemain belakang yang bisa menggantikan Leonardo Bonucci. Sementara Inter dikabarkan bakal mendatangkan Skhodran Mustafi yang untuk kedua kalinya akan menjadi contoh panic buy.

Jadi, dalam dua hari ke depan, janganlah kaget kalau akan banyak transfer-transfer mengejutkan muncul di lini masa media sosial atau layar kaca Anda. Karena inilah bursa transfer, inilah deadline day, dan inilah panic buy. So, Nikmati saja.