kumparan
Bola & Sports26 September 2018 16:30

Parma yang Solid saat Bertahan dan Penuh Aksi kala Menyerang

Konten Redaksi kumparan
Parma
Suporter Parma di laga melawan Inter Milan. (Foto: Miguel MEDINA / AFP)
Dua kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan. Catatan itulah yang kini dimiliki Parma dari lima pertandingan pertama mereka di Serie A musim 2018/19.
ADVERTISEMENT
Sebagai tim promosi yang hanya mengeluarkan modal 7,5 juta poundsterling untuk mengarungi musim, catatan tersebut boleh dibilang cukup mengesankan. Apalagi, peringkat mereka saat ini lebih tinggi ketimbang Milan, Roma, dan Atalanta yang dalam dua musim sebelumnya selalu ada di papan atas.
Sebagai klub yang lahir kembali usai dinyatakan pailit, Parma memang dilarang keras bersikap boros di bursa transfer. Salah-salah, usaha keras mereka naik dari Serie D ke Serie A hanya dalam tempo tiga musim bisa berujung sia-sia hanya karena kegagalan belajar dari masa lampau.
Meski dengan dana terbatas, Parma sebenarnya mampu mendatangkan pemain-pemain yang cukup punya pengalaman di Serie A. Kebanyakan memang didatangkan secara cuma-cuma seperti Luigi Sepe, Bruno Alves, Massimo Gobbi, Luca Rigoni, serta Gervinho.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, sejauh ini para pemain tersebut terlihat jauh lebih mahal dari banderol aslinya. Gervinho, misalnya, sudah mencetak dua gol, di mana salah satunya diciptakan lewat aksi solo run yang menyerupai gol legendaris George Weah.
Artinya, sampai sejauh ini Parma telah berhasil. Mereka sama sekali tak terlihat kagok meskipun sudah tiga tahun tak berkecimpung di Serie A. Memang benar bahwa musim kompetisi ini baru seumur jagung, tetapi lima pertandingan yang sudah dijalani Parma tadi bisa menjadi ukuran bagaimana sebenarnya tim ini bekerja.
Sejak pertama kali membesut Parma pada 2016, Roberto D'Aversa selalu setia pada satu pakem dasar: 4-3-3. Memang, ada dua kesempatan di mana dirinya mengutilisasi formasi tiga bek kala Parma berlaga di Serie B, tetapi secara keseluruhan, formasi 4-3-3 tadilah yang begitu diandalkan oleh D'Aversa.
ADVERTISEMENT
Dalam sejarahnya, formasi 4-3-3 adalah formasi ofensif. Ajax era 1970-an dan Foggia era Zemanlandia adalah contoh bagaimana formasi tersebut semestinya digunakan. Namun, D'Aversa punya penafsiran lain terhadap formasi ini. Dia melakukan reverse-engineering sehingga formasi ini justru menjadi alat canggih untuk menegasi serangan lawan.
Dalam lima pertandingan pertama Parma, D'Aversa hampir tidak pernah melakukan perubahan susunan pemain. Memang ada masa-masa di awal musim ketika dia belum bisa menampilkan susunan terbaik, tetapi setidaknya sejak pekan keempat, sebelas awal Parma tak pernah berubah.
Di posisi penjaga gawang ada Sepe yang pernah berkostum Empoli dan Fiorentina. Di belakang, Bruno Alves memimpin kuartet yang juga berisikan Simone Iacoponi, Riccardo Gagliolo, dan Federico Dimarco.
Parma
Selebrasi pemain-pemain Parma atas gol Federico Dimarco di laga melawan Inter. (Foto: Getty Images/Emilio Andreoli)
ADVERTISEMENT
Kemudian, di lini tengah Leo Stulac menjadi poros tunggal untuk menyokong Rigoni dan Antonino Barilla. Di lini depan, Gervinho dan Antonio Di Gaudio mengapit Roberto Inglese yang jadi ujung tombak. Inilah susunan pemain Parma dalam pakem 4-3-3 milik D'Aversa tadi.
Tak seperti para pengguna 4-3-3 pada umumnya, D'Aversa tidak terlalu peduli pada pengusaan bola. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana timnya menyerang di setiap kesempatan yang tersedia. Sekecil apa pun kesempatan itu, jika ada, sudah pasti akan dimanfaatkan.
Hal itu dapat dengan mudah dilihat dari kontras antara persentase penguasaan bola Parma dan jumlah tembakan serta jumlah gol yang berhasil mereka ciptakan. Menurut data WhoScored, Parma sampai sejauh ini cuma mampu menguasai bola sebanyak 39,4% dalam satu pertandingannya. Angka ini adalah yang terendah di antara seluruh kontestan Serie A.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, dari penguasaan bola yang hanya sekian, mereka mampu melepas 10,4 tembakan per pertandingan. Hasilnya, enam gol berhasil mereka ciptakan, di mana tiga di antaranya berbuah kemenangan atas Internazionale dan Cagliari.
Laga melawan Cagliari di pekan kelima itu juga menjadi contoh paling nyata bagaimana Parma bekerja. Di situ, Parma hanya menguasai bola sebanyak 28%. Akan tetapi, jumlah tembakan mereka (18) lebih tinggi ketimbang milik Cagliari (16). Pada pertandingan itu Parma mendemonstrasikan kelebihan mereka dalam mencuri bola dari lawan (16 kali) dan mengeksekusi serangan lewat kemampuan individual pemain mereka.
Parma
Dua gelandang andalan Parma, Leo Stulac (kiri) dan Luca Rigoni. (Foto: AFP/Miguel Medina)
Secara umum, begitulah cara bekerja Parma. Lebih spesifiknya lagi, mereka bertahan dengan menumpuk pemain di dalam dan sekitar kotak penalti. Tujuannya, agar lawan mau tidak mau harus membongkar pertahanan mereka via umpan silang yang nantinya, di atas kertas, bakal dengan mudah dihalau Bruno Alves dan Gagliolo yang memang unggul dalam duel-duel udara.
ADVERTISEMENT
Dalam situasi bertahan tersebut, para pemain tengah Parma yakni Barilla, Rigoni, dan Stulac akan bertindak sebagai tameng pertama. Sampai saat ini, para pemain tersebut begitu aktif dalam melakukan aksi defensif dengan 14 aksi defensif yang meliputi tekel, intersep, sapuan, dan blok dalam tiap pertandingannya.
Perlindungan yang diberikan Barilla, Rigoni, dan Stulac itu hanya bisa dikalahkan oleh duo bek Bruno Alves dan Gagliolo. Namun, dari catatan yang ada, terlihat bagaimana perbedaan peran antara para gelandang tadi dan duo bek tengah ini. Bruno Alves dan Gagliolo begitu dominan dalam melakukan sapuan, di mana kedua pemain ini bertanggung jawab atas setidaknya 19,2 sapuan per laga.
Hal ini berbanding terbalik dengan catatan intersep dan tekel mereka yang kalah ketimbang trio gelandang tadi. Jika Barilla, Rigoni, dan Stulac -- serta Alberto Grassi yang bermain pada dua laga pertama -- mampu membuat 11,7 tekel dan intersep per pertandingan, Bruno Alves dan Gagliolo hanya membuat 4 tekel dan intersep dalam kurun waktu yang sama.
ADVERTISEMENT
Ini membuktikan soliditas Parma dalam bertahan. Mereka sama sekali tidak mengandalkan individu ketika tengah menghadapi serangan lawan. Mereka bertahan secara kolektif dan ini membuat tim-tim yang berhadapan dengan mereka selalu kesulitan.
Gervinho
Penyerang sayap andalan Parma, Gervinho, alias Lionel Messi dari Pantai Gading. (Foto: AFP/Andreas Solaro)
Sebaliknya, jika menyerang, Parma menyerahkannya pada kemampuan individual. Bukti paling kentara dari sini adalah menonjolnya angka dribel per laga milik Gervinho yang mencapai angka 2,3. Selebihnya, tak ada pemain lain yang angka dribel per laganya melebihi satu. Artinya, Parma memang begitu bergantung pada sosok asal Pantai Gading itu untuk memberi percik bagi serangan-serangan mereka.
Walau demikian, Gervinho tidak benar-benar sendiri. Memang benar bahwa dirinya adalah sosok andalan. Akan tetapi, kolektivitas Parma dalam melakukan serangan bukannya sama sekali tidak ada.
ADVERTISEMENT
Selain Gervinho, ada Inglese yang kontribusinya begitu besar dalam aksi-aksi ofensif Parma lewat 1,2 umpan kunci dan 2 tembakan per laga yang dia lepaskan. Hasilnya, Inglese pun sampai sekarang sudah mencetak dua gol, sama seperti Gervinho.
Selain Gervinho dan Inglese, pemain-pemain tengah macam Rigoni dan Stulac juga terhitung cukup aktif terlibat dalam upaya penyerangan. Rigoni mampu mencatatkan 1,5 tembakan per pertandingan, sementara Stulac sanggup membukukan 1,6 umpan kunci per laga. Khusus Stulac, pemain asal Slovakia itu juga punya kelebihan tersendiri dalam eksekusi bola-bola mati.
Perpaduan antara kolektivitas dan moncernya kemampuan individual itulah yang sampai sejauh ini jadi rahasia sukses Parma. Namun, besarnya ketergantungan D'Aversa pada pemain-pemain kuncinya menunjukkan bahwa sesungguhnya, ada masalah dalam kubu Parma bernama kedalaman skuat. Namun, ini memang masalah klasik bagi tim dengan dana terbatas dan bagi Parma, selama itu masih bisa membuat mereka bertahan di Serie A, artinya itu sudah lebih dari cukup.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan