Pemain Asing Persebaya Jelaskan Suasana Mencekam saat Tragedi Kanjuruhan
·waktu baca 3 menit

Awan hitam menyelimuti sepak bola Indonesia menyusul tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10) lalu. Peristiwa yang terjadi pasca laga Arema FC kontra Persebaya menewaskan ratusan orang.
Pemain asing Persebaya asal Brasil, Silvio Junior, jelaskan suasana mencekam kejadian tersebut. Ia mengatakan bahwa tragedi tersebut bak seperti di medan perang.
"Di ruang ganti, kami merayakan kemenangan, tetapi polisi datang dan berkata ‘Berhenti, berhenti, cepat lari, kalau tidak, kalian tidak akan bisa pergi’. Kemudian kami mulai berganti pakaian, semuanya dengan cepat, bahkan tanpa mandi dan polisi mengawal kami. Semua serba cepat, lalu kami berhasil kabur masuk ke mobil lapis baja [rantis] dan menunggu," kata Silvio Junior, dikutip dari media Brasil, GE Globo.
Laga Arema vs Persebaya dimenangkan ‘Bajul Ijo’ dengan skor 3-2. Kekalahan tersebut memantik kemarahan fan ‘Singo Edan’. Selepas laga, sejumlah oknum suporter memasuki lapangan stadion yang berujung kericuhan.
Kericuhan tak hanya terjadi di dalam stadion, melainkan pula di luar stadion. Kubu Persebaya bahkan tertahan di kendaraan taktis (rantis) karena terjebak di kepungan massa. Saat melewati kerumunan massa, rantis yang digunakan Persebaya dilempari batu-batu oleh oknum suporter.
"Kami berada di sana selama dua jam, masih menyaksikan adegan itu. Itu nyata. Saya pernah di Azerbaijan pada saat perang dengan Armenia dan saya tidak melihat hal-hal yang saya lihat di sana. Kami melihat melalui kaca depan mobil lapis baja [rantis]. Itu tampak seperti adegan perang. Mereka [suporter] melempar barang. Mereka melemparkan sesuatu yang memecahkan kaca mobil rantis. Mereka melempar batu. Ada mobil polisi di sebelah kami. Mereka merusak segalanya," lanjut penyerang berusia 28 tahun ini.
Selain Silvio Junior, pemain asing Persebaya asal Brasil lainnya, Higor Vidal, juga menceritakan pengalamannya di Stadion Kanjuruhan. Gelandang 26 tahun ini mengungkapkan bahwa tensi tinggi antara Arema dan Persebaya melebihi laga derbi di kampung halamannya.
"Mereka telah memberi tahu tentang laga klasik. Aku dari Curitiba. Saya pikir itu akan seperti Atletiba [Derbi antara Coritiba dan Atletico Paranense], kurang lebih. Tapi itu jauh lebih besar. Orang-orang pergi ke sana untuk memberikan hidupnya untuk tim. Jadi ini adalah ketegangan dari awal hingga akhir pertandingan," ungkap Higor Vidal.
Tragedi di Stadion Kanjuruhan menewaskan setidaknya 131 orang. Banyaknya korban berjatuhan tak terlepas dari tembakan gas air mata yang dilepaskan pihak keamanan ke sisi tribune penonton. Itu mengakibatkan kepanikan di antara penonton yang berhamburan ke lorong pintu keluar tribune yang sempit secara bersamaan. Kondisi yang sesak ditambah munculnya asap dari gas air mata menambah kesulitan bagi para penonton untuk menyelamatkan diri.
"Ya setelah semalam dilakukan coklit bersama Kadinkes, tim DVI dan direktur RS, jumlah korban meninggal dunia 131 orang," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (5/10).
Menyusul tragedi di Stadion Kanjuruhan, kompetisi Liga 1 2022/23 dihentikan hingga waktu yang tidak ditentukan. Lebih lanjut, kubu Arema FC dijatuhi sanksi oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI berupa denda Rp 250 juta, larangan bertanding dengan penonton, dan larangan laga kandang di Malang.
