Kumparan Logo

Pemain-pemain Asing Tira-Persikabo: Suporter di Indonesia Sangat Gila!

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ciro Alves , pemain Persikabo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ciro Alves , pemain Persikabo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Saat seorang pemain sepak bola untuk pertama kalinya bermain di Liga Indonesia, ada satu hal yang harus ia pahami betul-betul: Suporter Indonesia.

Pada Liga 1 2019, total penonton yang menyaksikan kompetisi level tertinggi sepak bola Indonesia itu berjumlah 2.867.169 orang, dengan rataan 9.369,33 orang per laga. Jumlah ini merupakan yang terbanyak keempat di Asia.

Dengan jumlah suporter sebanyak ini, sepak bola Indonesia dianggap memiliki atmosfer yang luar biasa. Bahkan, Liga Indonesia pernah disebut-sebut sebagai Premier League-nya Asia. Itu semua berkat dukungan suporter yang selalu hadir di stadion.

Hal itu juga yang dirasakan oleh empat pemain asing PS Tira-Persikabo: Ciro Alves, Alex dos Santos, Petteri Pennanen, serta Artyom Filiposyan. Dengan usia main di Indonesia yang masih seumur jagung, mereka punya pandangan tersendiri soal suporter sepak bola Indonesia.

kumparanBOLA menjumpai mereka di Sentul City, Kamis (12/3/2020). Kami bertanya kepada Ciro, Alex, Pennanen, dan Filiposyan, seperti apa pandangan mereka terhadap sepak bola Indonesia.

Ciro Alves dan Alex dos Santos

Alex maupun Ciro sama-sama sudah bermain di Indonesia selama satu musim. Liga 1 2020 ini adalah musim kedua mereka bermain di Indonesia. Alex pernah bermain di Persela Lamongan, sebelum akhirnya memutuskan main di Tira-Persikabo. Sedangkan buat Ciro, ini adalah musim keduanya berseragam Tira-Persikabo.

Ciro pribadi merasa senang bermain di Indonesia. Menurutnya, sepak bola Indonesia menuntut para pemainnya untuk bermain cepat plus disertai determinasi tinggi. Itu membuatnya merasa tertantang untuk terus tampil baik di tiap laga.

Namun, salah satu yang membuatnya tetap bertahan hingga kini di Indonesia adalah suporter. Nama Ciro memang dielu-elukan oleh suporter Tira-Persikabo musim lalu. Ia juga menyimpan kesan yang mendalam setiap kali menjalani laga tandang.

"Untuk suporter, saya senang ketika bermain lawan Persib, suporternya sangat luar biasa. Namun, intinya memang saya sangat senang baik itu ketika main di home maupun away. Dukungan suporternya sangat bagus sekali di dalam stadion," ujar Ciro.

Pelatih dan pemain asing Persikabo saat sesi wawancara khusus dengan kumparan di Sentul City, Bogor, Kamis (12/3/2020). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Setali tiga uang, Alex juga menyebut bahwa suporter di Indonesia itu luar biasa. Label yang ia berikan adalah 'good crazy'. Meski begitu, ia mengakui main di Indonesia sulit. Selalu ada tantangan baru di setiap laganya.

Namun, tantangan itu mampu ia lalui berkat dukungan para suporter. Berkat suporter, ia bisa tampil percaya diri dan mampu menghadapi semua lawan yang ada.

"Mereka (suporter) sangat gila! Benar-benar mencintai klub, tapi mereka baik. Mereka juga selalu mendorong kami untuk jadi lebih baik, dan itu penting untuk meningkatkan kepercayaan diri kami," ujar Alex.

"Tentu saja, ketika mereka mendukung kami, kami bisa bermain lebih baik. Ya, intinya mereka selalu ada di belakang kami. Saya suka itu," tambahnya.

Petteri Pennanen

Ini adalah musim pertama Petteri Pennanen bermain di Indonesia. Sebelumnya, ia lebih banyak menghabiskan karier di Eropa, terutama di Finlandia yang notabene tanah kelahirannya sendiri.

Namun, ia mengaku belum bisa memberikan penilaian menyeluruh soal sepak bola Indonesia. Ia baru menjalani dua laga resmi di Indonesia, yakni menghadapi PSS Sleman dan Arema FC. Meski begitu, ia bisa memberi penilaian singkat dari situ.

Ia menyebut bahwa sepak bola Indonesia itu lebih mengutamakan kecepatan. Hal itu berbeda dengan Eropa yang permainannya memang lebih taktikal dan berpatokan pada skema. Tetapi, ada satu hal yang menarik perhatiannya: Suporter.

Petteri Pennanen, pemain Persikabo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

"Lawan PSS tidak ada suporter, tetapi saat main di kandang (Pakansari lawan Arema), suporter benar-benar luar biasa. Saya senang melihat itu, dan saya ingin melihat stadion terisi penuh oleh stadion, tapi kita lihat saja nanti," ujar Pennanen.

"Suporter di sini tidak lelah mendukung sepanjang pertandingan, selalu berteriak, dan selalu memberikan dukungan, walau kami kalah dalam pertandingan. Itu sesuatu yang membuat saya merasa terkesan," tambahnya.

Nah, untuk lebih mendalami soal suporter dan sepak bola Indonesia, Pennanen mengaku sudah berkomunikasi dengan Eero Markkanen, sosok yang pernah bermain di PSM Makassar pada 2019 lalu.

"Saya pernah ngobrol dengannya (Markkanen) sebelum ke Indonesia. Dia memberikan saya informasi tentang sepak bola Indonesia. Dia juga memberitahu saya soal suporter Indonesia. Banyak hal dasar yang ia beritahu kepada saya," ujar Pennanen.

Petteri Pennanen, pemain Persikabo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Artyom Filiposyan

Artyom Filiposyan sebenarnya sudah pernah merasakan atmosfer sepak bola Asia Tenggara. Pada 2019, ia pernah bermain untuk PT Prachuap, klub yang kini dibela Yanto Basna. Ia sukses membawa Prachuap menjuarai Piala Liga Thailand.

Berkat pengalamannya main di Thailand ini pula, Filiposyan tidak kesulitan ketika beradaptasi dengan cuaca dan makanan di Indonesia. Cuaca dan makanan Thailand tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Namun, tetap saja, ini adalah pengalaman pertama Filiposyan bermain di Indonesia. Secara level, Filiposyan mengakui bahwa Thailand memang masih berada satu tingkat di atas Indonesia soal level kompetisi.

Artyom Filiposyan, pemain Persikabo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Namun, ia menyebut bahwa untuk urusan suporter, Indonesia berada di atas Thailand. Stadion yang penuh, di mata Filiposyan, adalah pemandangan yang jarang ditemui di Thailand.

"Untuk atmosfer di setiap pertandingan, suporternya, lebih terasa di Indonesia. Di sini, saya melihat hampir setiap pertandingan, stadion lebih penuh, jadi di sini memang lebih bagus atmosfernya," ujar Filiposyan.

***

Suporter Indonesia adalah magnet. Ya, mereka jadi pemancing bagi para pemain asing untuk bermain di Indonesia. Dukungan maksimal yang mereka berikan dalam setiap pertandingan membuat para pemain merasakan energi yang luar biasa.

Itulah yang Ciro, Alex, Pennanen, dan Filiposyan rasakan. Mereka menemukan apa yang tidak mereka lihat di kompetisi-kompetisi sepak bola negara lain. Namun, jangan lupa juga jika pembenahan kompetisi mesti tetap dilakukan.

Ini semata agar kelak Liga Indonesia dapat menjadi liga yang ramai, sekaligus rapi dalam segi pelaksanaan kompetisi. Dengan begitu gelar Premier League-nya Asia yang pernah tersemat bisa saja hadir kembali.