kumparan
28 Januari 2019 20:29

Pertemuan Rahasia PSSI: Cuma Kongkow Ngopi?

Edy Rahmayadi di Kongres PSSI 2019 (Foto: Alan Kusuma/kumparan)
Misteri pertemuan rahasia pemilik suara dengan federasi di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, menemui titik terang. kumparanBOLA mengembangkan fakta yang ditelusuri dari beberapa sumber perihal acara “diam-diam” tiga hari menjelang Kongres PSSI untuk menumbangkan Edy Rahmyadi itu.
ADVERTISEMENT
Sumber pada artikel 'Sekelumit Pertemuan Rahasia Royal Kuningan: Banyak Voters Tertipu' menyebut pertemuan rahasia itu diinisiasi oleh Asosiasi Provinsi (Asprov) Jawa Timur. Pernyataan itu dikemukakan sumber kumparanBOLA yang juga merupakan voter klub.
“Saya sempat diajak untuk datang ke Hotel Royal Kuningan. Kata rekan saya, Asprov Jatim bikin acara. Saya tidak tahu acara apa itu. Awalnya masih berpikir positif kumpul untuk membicarakan kompetisi. Sampai akhirnya saya ditunjukkan surat petisi itu. Saya menyimpulkan pertemuan di Jakarta itu berarti membuat petisi menurunkan Pak Edy,” tutur sumber kumparanBOLA yang meminta namanya dirahasiakan.
Sekretaris Umum Asprov PSSI Jatim, Amir Burhannudin, menampik pernyataan tersebut. “Buat apa menginisiasi pertemuan Jawa Timur di Jakarta?” ucapnya.
Amir lebih lanjut mengaku bahwa pertemuan terakhirnya dengan pemilik suara di Jakarta digelar pada 7-9 Desember. Pertemuan seluruh Asprov PSSI itu dihadiri Joko Driyono (masih menjabat Wakil Ketua Umum PSSI) dan empat Komite Eksekutif PSSI, yaitu Papat Yunisal, Johar Lin Eng, Yunus Nusi, dan Refrizal.
ADVERTISEMENT
Beberapa poin lahir dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asprov di Hotel Century, Jakarta. “Ada diskusi panjang antara Asprov dan PSSI dalam Rakernas tersebut. Hasil dari Rakernasi itu merupakan embrio yang dibahas di Kongres PSSI (20/1/2019). Itu pertemuan terakhir kami di Jakarta sebelum Kongres PSSI. Setelah itu, tak ada lagi pertemuan di Jakarta,” kata Amir.
Poin pertama ialah pembentukan Komite Ad Hoc Integritas. Kedua, membahas soal isu di masyarakat yang menginginkan Edy Rahmayadi mundur. Amir berpendapat Edy tak punya waktu mengurus federasi. “Beliau saja tidak bisa datang dalam Rakernas itu padahal tengah disorot publik,” ujarnya.
Ketiga, Asprov menginginkan pembentukan bidang hubungan masyarakat. Terakhir, adanya keinginan merombak struktur yang ada di PSSI, terutama komite yang berkenaan dengan kompetisi, seperti wasit, pelatih, pemain, serta tim nasional. “Wajah federasi itu kompetisi. Sementara wajah kompetisi itu komite yang berhubungan,” katanya.
ADVERTISEMENT
Benarkah Amir tak tahu-menahu soal pertemuan rahasia tersebut? Lalu, mengapa ia mengaku tak terlalu kaget melihat Edy mundur saat Kongres PSSI di Bali?
“Kami sudah membahas kinerja beliau waktu di Rakernas. Saya tidak kaget kalau beliau mundur. Tidak ada pertemuan sembunyi-sembunyi. Namun, kalau sekadar kongkow saja untuk ngopi itu sangat mungkin. Setiap hari pasti ada saja yang ingin bertemu PSSI. Sejak dulu juga begitu. Mungkin pas ada orang daerah ke Jakarta, pas ketemu PSSI. Apalagi kalau bos-bos Liga 1 itu ‘kan nongkrongnya di Jakarta. Tiap hari bertemu. Dan, tidak ada soal surat petisi itu. Kalau ada pasti muncul di Kongres PSSI. Soal uang 1.000 dolar Singapura juga tidak ada. Saya sih suka bercanda sama bos-bos itu minta uang,” tutur Amir.
ADVERTISEMENT
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyerahkan bendera organisasi sepak bola Indonesia kepada Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono seusai menyatakan pengunduran diri dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Pernyataan Amir tentu bertolak belakang dengan kesaksian sumber kumparanBOLA lain. Salah satu voter Asprov PSSI ini mengaku tahu surat petisi tersebut justru dari Amir. Namun, dirinya menegaskan tak hadir dalam pertemuan rahasia di Jakarta itu.
“Saya tidak tahu ada pertemuan di Jakarta. Saya tahu ada surat petisi itu malam sebelum Kongres PSSI. Kami kumpul-kumpul bertemu Pak Amir dan rekan-rekan lain membicarakan kinerja Pak Edy. Namun, kemudian saya ditawari untuk menandatangani sebuah surat. Sebelum itu, saya cuma dengar selentingan saja. Logikanya, setuju atau tidaknya Pak Edy mundur bisa dibicarakan di Kongres PSSI. Ada kartu merah (tidak setuju) dan hijau (setuju), tak perlu diam-diam. Saya tidak tahu kalau Pak Amir terbuka atau tidaknya dengan saya,” ucapnya kepada kumparanBOLA.
ADVERTISEMENT
Sebagai penutup menyimpulkan benar atau tidaknya soal kongkow ngopi tersebut, ada komentar salah satu voter klub yang sejalan dengan pernyataan voter Asprov PSSI tadi. Ia menegaskan bahwa pertemuan rahasia di Jakarta tak dihadiri banyak orang. Namun, hasil pertemuan tersebut digalang kembali sehari sebelum Kongres PSSI.
“Memang kalau ditanya tidak ada yang mengaku. Pertemuan di Jakarta itu tak banyak dihadiri. Cuma sekitar 20-an orang. Paling banyak memang dari klub-klub Liga 1. Hasil pertemuan itu berupa surat petisi penurunan Pak Edy. Kemudian, sehari menjelang Kongres PSSI, penandatanganan surat itu digalang lagi karena di Jakarta cuma sedikit yang hadir,” katanya.
Obrolan di warung kopi saja sudah bisa melahirkan ide-ide moncer. Apalagi jika kongkow digelar di hotel mewah plus dihadiri orang-orang berdompet tebal.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan