Kumparan Logo

Pratinjau AZ Alkmaar vs Man United: Target Sukar 'Iblis Merah'

kumparanBOLAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para pemain Manchester United di Piala Liga Inggris. Foto: Reuters/Jason Cairnduff
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Manchester United di Piala Liga Inggris. Foto: Reuters/Jason Cairnduff

Liga Europa adalah satu-satunya ajang yang paling membuat Manchester United optimistis. Ketimbang di panggung Premier League, mereka lebih punya kans untuk mendapatkan hasil bagus di sana. Pada matchday pertama, 'Iblis Merah' sukses meraup poin penuh saat menjamu FC Astana.

Kemenangan itu tak cukup meyakinkan, memang, tetapi setidaknya lebih meyakinkan dari penampilan United di Piala FA --mesti melalui drama adu penalti untuk menyingkirkan Rochdale. So, harusnya United bisa kembali meraih kemenangan kala menyambangi markas AZ Alkmaar, Jumat (4/10/2019) dini hari WIB.

Ya. Harusnya...

X post embed

Sebelum membahas United, mari kita sedikit berkenalan dengan AZ. Secara tradisi, klub peringkat keempat Eredivisie musim lalu itu tak sekuat tiga raksasa Belanda lainnya, Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, serta Feyenoord Rotterdam, yang pernah menggamit trofi di turnamen Eropa. Pencapaian AZ cuma mentok sebagai runner-up Piala UEFA 1980/81.

Performa AZ di kandang pada ajang Liga Europa teraktual juga jauh dari kata apik. Cuma sekali mereka menang dari enam kesempatan termutakhir. Rekam jejak AZ saat bertemu wakil Inggris juga tak menyenangkan. Dari 12 pertemuan, cuma dua kali mereka menang.

X post embed

Namun, dari segi performa, AZ tergolong stabil. Mereka belum menelan kekalahan usai keok dari Vitesse awal September lalu. Klub berjuluk Cheeseheads itu berhasil menyapu bersih lima pertandingan di Eredvisie.

Partizan Belgrade juga sukses mereka tahan imbang 2-2 pada matchday pertama. Di FK Partizan Stadium, dengan 10 orang pemain pula.

Well, pertahanan memang jadi salah satu titik terkuat tim besutan Arne Slot itu. AZ baru kebobolan 3 gol hingga Eredivisie pekan kedelapan --terbaik di antara kontestan lainnya. Sebagai perbandingan, Ajax sang pemuncak klasemen sudah kemasukan 6 gol hingga sekarang.

Dalam format dasar 4-3-3, Slot memang menerapkan sistem yang cenderung defensif. Ketiga gelandang mereka, Fredrik Midtsjo, Dani de Wit, dan Teun Koopmeiners adalah tipikal gelandang defensif.

Paling spesial, sih, Koopmeiners. Bukan cuma versatile (serbabisa), pemain berusia 21 tahun itu juga mampu mengemban tugas untuk muncul dari lini kedua. Torehan 4 golnya di Eredivisie jadi buktinya.

Untuk menyerang, AZ praktis cuma bertumpu kepada Oussama Idrissi, Myron Boadu, dan Calvin Stengs. Nama yang disebut belakangan diplot sebagai kreator serangan di area sentral. Sementara Idrissi dan Boadu diutus untuk bergerak dinamis secara vertikal --ke tepi sayap.

Sistem demikian bertujuan untuk memaksimalkan skema long-ball yang jadi andalan AZ. Lihat saja bagaimana gol-gol mereka ke gawang Partizan. Keduanya lahir dari kombinasi long-ball serta fluiditas lini depan.

X post embed

Lantas, apakah AZ berpotensi membikin masalah untuk United? Itu jelas. Perlu diketahui bahwa gerombolan Ole Gunnar Solskjaer itu selalu kesulitan jika berhadapan dengan tim yang defensif.

Alasannya simpel, karena build-up serangan United buruk. Ketimbang via open-play, mereka lebih efektif dalam melakukan serangan balik.

Cara demikian bakal tokcer bila berhadapan dengan lawan yang ofensif. Tapi, sulit untuk musuh yang bermain dengan garis pertahanan rendah alias defensif.

Ekspresi kekecewaan Paul Pogba dan Harry Maguire usai gawang Manchester United dibobol pemain Southampton. Foto: REUTERS/Hannah Mckay

Itulah mengapa United begitu kerepotan saat meladeni Crystal Palace, Southampton, West Ham United, dan Astana. Makin sulit karena United tak akan diperkuat Anthony Martial yang masih cedera. Marcus Rashford, yang bermain penuh versus Arsenal, juga kemungkinan bakal diistirahatkan.

Mason Greenwood bisa dijadikan tumpuan, sih. Lagipula, striker berusia 19 tahun itu juga pernah menjadi pahlawan saat mencetak gol tunggal United ke gawang Astana dan Rochdale.

Lalu di sektor sayap, Daniel James dan Juan Mata bisa jadi kombinasi ideal bagi Solskjaer untuk melakukan rotasi. Akan tetapi, itu tak lantas menyelesaikan perkara. Apalagi, United memang tergolong hobi membuang-buang peluang.

Pada laga terbaru versus Arsenal misalnya, mereka tercatat berhasil melepaskan 16 tembakan, tetapi hanya seperempatnya yang mengarah ke gawang Bernd Leno.

Manchester United vs Arsenal. Foto: Reuters/Jason Cairnduff

Salah satu solusinya, ya, dengan mengandalkan lini kedua. Untuk urusan ini, Paul Pogba berada di posisi nomor wahid. Apesnya, pemain berdarah Guniea itu masih diragukan tampil.

Akan lebih bijak bagi Solskjaer untuk menurunkan Andreas Pereira dalam laga nanti. Pasalnya, pemain yang pernah dipinjamkan ke Valencia itu terhitung sebagai gelandang yang aktif untuk melepaskan tembakan --hanya kalah dari Pogba.

Scott McTominay serta Fred bisa menjadi tandem idealnya di lini tengah. Nama yang disebut terakhir cukup dinamis dan rajin dalam mendistribusikan umpan kunci. Sementara McTominay bisa diharapkan untuk memecah kebuntuan --seperti yang dilakukannya pada laga melawan Arsenal.

Andreas Pereira dan Scott McTominay bersama Ole Gunnar Solskjaer. Foto: Reuters/Andrew Yates

Namun, maaf... United kemungkinan besar bakal kesulitan meladeni AZ nanti. Pertama, karena pertahanan dan fluiditas lini depan mereka yang ciamik. Alasan kedua, ya, dari ompongnya departemen serangan United.

Jadi besar kemungkinan United akan cuma membawa pulang satu angka dari AFAS Stadion. Kalaupun menang, mentok mereka cuma bisa mengais skor tipis dini hari nanti.