Pratinjau Brighton vs Manchester City: Waspada Sengatan Balik

Gelar Premier League itu sudah tidak jauh dari genggaman Manchester City. Mereka hanya tinggal perlu memenangi laga pamungkas yang terbilang cukup tricky.
Pada pekan 38 Premier League 2018/19, City akan bertandang ke Amex Stadium menghadapi Brighton and Hove Albion. Kemenangan dalam laga ini akan membuat City sukses mengunci gelar Premier League, sekaligus jadi yang kedua kali dalam dua musim beruntun.
Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh City. Dibandingkan Liverpool yang jadi saingan beratnya, Brighton adalah lawan yang seharusnya tak membikin mereka takut. Liverpool malah akan menghadapi Wolverhampton Wanderers, tim yang dikenal sebagai pembunuh tim-tim papan atas Premier League. Potensi Liverpool untuk tergelincir lebih besar.
Menilik catatan pertemuan dengan City, Brighton adalah lawan dengan potensi yang minim untuk menjegal. Empat pertemuan terakhir, mereka sama sekali tak pernah meraih kemenangan atas The Citizens. Teraktual, April 2019, mereka takluk 0-1 dari City di Piala FA.
Hal ini juga ditopang oleh catatan kurang apik Brighton dalam enam laga terakhir. Jika City sukses menyapu lima laga terakhir dengan kemenangan, Brighton malah gagal meraih kemenangan sama sekali, dengan rincian tiga kali kalah dan tiga kali imbang.
Namun, apakah benar Brighton tak punya potensi menyulitkan City? Justru jika tidak berhati-hati, City malah bisa tersandung.
Catatan Defensif Apik Brighton Lawan Tim Besar
Ketika melawan tim enam besar Premier League (Arsenal, Chelsea, Manchester United, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan City sendiri), Brighton memiliki torehan yang cukup bagus. Memang, catatan ini tidak berkaitan dengan menang-kalah, karena dari total 11 pertemuan terakhir melawan tim enam besar Premier League, Brighton hanya bisa menang sekali dan imbang dua kali.
Catatan apik Brighton ini berhubungan dengan jumlah kebobolan mereka. Melawan tim-tim besar tersebut, hanya tiga kali gawang Brighton kebobolan dua angka atau lebih, yaitu ketika melawan Chelsea (kalah 0-3), City (kalah 0-2), dan United (menang 3-2).
Sisanya, gawang Brighton acap menorehkan selisih tidak lebih dari satu angka. Bahkan, dua kali berhadapan dengan Arsenal, dua kali pula Brighton meraih hasil imbang 1-1. City boleh saja meraih kemenangan saat mereka bertemu di putaran pertama. Namun, jika tidak waspada, City bisa saja tergelincir di Amex nantinya.
Formasi Defensif yang Akan Digunakan Brighton
Ketika tim kecil menghadapi tim besar, kemungkinan terbesarnya adalah ia akan memasang formasi yang defensif. Di laga lawan City nanti, Brighton pun bisa saja menerapkan hal serupa.
Mengutip dari laman Football Formation, Brighton punya kecenderungan menggunakan formasi dasar 4-5-1 ketika bertanding di musim 2018/19 ini. Dalam formasi ini, yang menjadi titik fokus dari permainan Brighton adalah area sepertiga akhir dan pertahanan mereka.
Ketika bertahan, Brighton akan memasang lima sampai delapan pemain di area sepertiga akhir dan kotak penalti. Dale Stephens, Yves Bissouma, dan Pascal Gross akan membantu pertahanan yang digalang oleh Lewis Dunk dan Shane Duffy. Area pertahanan akan mereka tutup sebisa mungkin.
Skema pertahanan ini juga didorong oleh agresivitas para pemain Brighton dalam bertahan. Catatan rataan pelanggaran per laga tertinggi di Premier League 2018/19 (12,2 kali), mencerminkan bahwa ketika bertahan, para pemain Brighton tak segan untuk mengadang lawan-lawannya dengan cara yang keras.
Skema macam inilah yang membuat tim-tim besar kerap kerepotan. Liverpool, dengan kekuatan lini serang yang apik, hanya bisa mencetak satu angka ke gawang Brighton. Arsenal dan Tottenham Hotspur pun sama. Ini karena ruang gerak mereka untuk berkreasi di lini serang ditutup sedemikian rupa.
Kekuatan dari skema defensif inilah yang bisa saja merepotkan City. Namun, jika mampu mengaplikasikan serangan dengan permutasi bola dan posisi pemain yang aktif macam Chelsea, City dapat membongkar pertahanan Brighton. Untuk urusan permutasi bola dan posisi pemain, mestinya para pemain City sudah memahaminya.
Waspada akan Umpan Panjang Brighton
Dilatih oleh Chris Hughton yang merupakan orang Inggris asli, Brighton menerapkan permainan ala tim-tim Inggris zaman dulu: umpan panjang. Angka rataan umpan panjang per laga yang tinggi (34,65 kali), menunjukkan bahwa umpan panjang menjadi ciri dari permainan Brighton musim ini.
Namun, angka rataan umpan panjang per laga yang tinggi itu diiringi juga oleh angka rataan memenangi duel udara per laga yang tinggi (22,2 kali, tertinggi kelima di Premier League). Catatan ini menunjukkan bahwa Brighton andal dalam memanfaatkan umpan-umpan panjang tersebut. Hal ini mesti diwaspadai oleh City. Mengapa?
Sejauh ini, City menjadi tim dengan angka rataan memenangi duel udara yang rendah, yakni 14,5 kali (terendah kedua di Premier League setelah Chelsea). Ini berarti mereka rentan diserang lewat umpan panjang, keahlian Brighton. Jika tidak mewaspadai umpan panjang Brighton, bisa saja City akan tersandung.
***
Jelang laga nanti, kabar baik menghampiri City. Gelandang serang andalan mereka, Kevin De Bruyne dikabarkan sudah bisa merumput setelah absen selama tiga minggu. Meski masih minus Fernandinho yang cedera, kehadiran De Bruyne ini dapat jadi salah satu opsi di lini serang City.
Namun, City tetap harus mewaspadai Brighton. Mungkin saja mereka akan seperti Queens Park Rangers pada musim 2011/12 silam yang mendadak tampil ciamik di laga pemungkas Premier League menghadapi City meski bermain dengan 10 orang. Apalagi, mereka juga akan tampil tanpa beban usai memastikan diri tetap bertahan di Premier League musim depan.
Intinya, City tetap harus memperjuangkan takdir mereka sendiri. Seperti yang diungkapkan Pep Guardiola, kini City yang memegang kendali dalam perebutan gelar, bukan Liverpool. Maka, alangkah bijaknya jika City awas dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi, termasuk kemungkinan jika Brighton menyengat balik.
